Tolak LGBT (Demi) Mengindari Azab Allah




Para pendukung Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) dengan serta merta mengatakan kepada pihak yang menolak gerakannya adalah kelompok yang tidak mau mengakui Hak Asasi Manusia. Bahkan dengan seenaknya menuduh agamawan, rohaniawan sebagai kelas konservatif dalam memahami ajaran agamanya.

Benarkan tuduhan para aktivis LGBT ini? saya kira dengan dalil apapun sungguh perbuatan mereka tidak dapat dibenarkan. Tatkalah menuduh orang-orang yang kontra dengan propagandanya, justeru merekalah yang gagal paham terhadap hakikat kediriannya.

Makro Kosmos
Sungguh kedirian manusia itu amatlah kecil dari seisi alam jagat raya ini. Sehingga, kebebasan kehendak yang dianugerahkannya, bukan kesempurnaan andaikata tidak disinkronkan dengan “akal”, yang sudah jauh hari Allah SWT sudah memberkahi dengan kelebihan yang demikian.

Jika para pendukung LGBT mengatakan sudah melakukan pengkajian terhadap ayat-ayat Tuhan. Lalu ditarik kesimpulan, tidak ada satu pun ayat yang menolak perbuatan mereka. It’s okey, kendati mereka salah dalam memahami esensi ayat-ayat Tuhan yang melarang perihal perbuatan itu.

Tapi harus diketahui tidak sembarang Allah SWT menarasikan sejarah kehancuran kaum Luth andaikata itu dibenarkan. Sebab mengapa? Kekuasaan Tuhan itu selalu ditunjukan dengan hasil ciptaan-Nya sendiri. Ia tidak menciptakan bumi saja sebagai tempat menghuni manusia, tetapi juga disandingkannya dengan langit yang menjadi atap bumi persada itu. Ia tidak menciptakan hanya daratan, tetapi Ia menyempurnakannya dengan lautan, samudera raya yang maha kaya, yang luasnya melebihi dari daratan itu. Bahkan waktu pun dibuat-Nya menjadi silih berganti, siang-malam, agar bisa menjadi tanda-tanda bagi para ulil albab (kaum yang berpikir).

Penekanannya pada frasa “ulil albab”. Diperintahkan kepada kita untuk berpikir agar bisa menjangkau hakikat dari segala tanda-tanda kekuasaan-Nya. Kalau para filsuf di zaman Yunani mendalilkan bahwa manusia adalah bahagian kecil dari pusat jagat raya ini. Maka perkataan itu merupakan “bukti dahsyat”, manusia hanyalah entitas terkecil (mikro kosmos) dari luasnya alam semesta (makro kosmos).

Dan kalau merasa sebagai bahagian terkecil saja. Maka perintah selanjutnya, kenalilah “kedirian” Tuhan itu melalui ciptaan-Nya. Para aktivis LGBT harusnya melakonkan peran ini, jangan hanya menerima mentah-mentah “proyek” asing dengan konsepsi hak asasi manusia. Bukankah hak asasi manusia itu sendiri sumbernya dari kekuatan maha dahsyat alam, sebagai asumsi natural yang harus dilidungi.

Sosio historis hak asasi sebagai sesuatu yang alami menjadi penting untuk kembali, kita menengok kebelakang sembari menelusuri awal mula “hak” itu terpancarkan dalam diri setiap manusia. Alam semesta akan menjadi hancur andaikata diwujudkan hanya dalam satu bentuk yang tidak ada pembandingnya.

Kalau ada daratan, maka ada lautan. Kalau ada bumi maka ada langit. Kalau ada matahari maka ada bulan. Kalau ada siang maka ada malam. Kalau ada laki-laki maka ada perempuan. Itu semua hakikatnya. Falsafah China turut membenarkannya; hanyalah dengan menyatunya “Ying” da “Yang” maka kesempurnaan itu akan tercapai. Dan kalau antar “Ying” saja ataukah “Yang” saja, maka hanyalah kefanaan (binasa) yang akan datang.

Sejarah Lut’h
Berpijak dari argumentasi di atas, sebagai alam pembangunan rasio penolakan legalisasi; Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Maka pada poin itu, alam pun menjadi goyah, bumi bergetar, angin berhembus kencang, hujan batu sijil telah mengahancurkan sebuah kota Sodom di era Nabi Lut’h. Persitiwa tersebut merupakan kejadian esoteric, ketika alam tidak mampu menerima kediriannya, oleh karena perangai manusia (mikro kosmos) sebagai titik sentralnya alam semesta (makro kosmos) keluar dari titik keseimbangannya.

Simaklah firman Allah SWT dalam ayat 11 Surat Hud: “Malaikat berkata, Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh, bukankah subuh itu sudah dekat?”

Bahwa yang menimpa kaum luth dalam sosio histrosinya Al-qur’an. Sebagai suatu keadaan, banyaknya manusia mati bergelimpangan karena hidup dalam keadaan hubungan sesama jenis (homoseksual), tidak lain sebagai peringatan “dini” akan terjadinya kiamat, andaikata manusia berbuat yang sekeji itu.

Dalam persitiwa monumental yang diabadikan dalam Al-qur’an tersebut, juga bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Al-qur’an cukup jelas menarasikannya: “isteri Nabi Lut’h, yang sehaluan dengan penduduk Sodom, memberitahukan kepada para lelaki Sodom tentang dua lelaki tampan di rumah Nabi Lut’h. Padahal dua laki-laki tampan itu tidak lain adalah malaikat yang sengaja berkunjung ke rumah Nabi Lut’h.”

Dan sesaat setelah kejadian itu, Istri Nabi Lut’h pun ditimpakan azab oleh Allah SWT, karena di negerinya ia menjadi pendukung homoseksual, padahal suaminya sedang giat-giatnya berdakwa akan terlaknatnya perbuatan demikian.Ingat! Istri Nabi Luth, bukanlah pelaku dari hubungan sesama jenis. Akan tetapi tidak tangung-tanggung, hukuman Tuhan pun datang kepadanya.

Artinya apa? Dalam konteks kekinian, walau peradaban dianggap sudah sedemikian modern, kendatipun anda bukan sebagai pelaku LGBT, tetapi dengan lancangnya anda selalu “berseloroh”, menjadi pembela para kaum LGBT. Maka siap-siaplah juga azab-Nya Tuhan akan datang menimpamu.

Tentu kita tidak mau, Tuhan dengan segera mendatangkan kiamatnya. Dikala merasa tabungan amal kita masih sedikit. Segeralah bertaubat bagi pelaku LGBT, itu bukan hak asasi, tetapi syahwat seksual yang telah menyimpang dari kodratinya.

Melegalkan LGBT dalam “hukum” negara, adalah pertanda stabilitas negara akan goyah dan kiamat yang sebenarnya boleh jadi segara akan datang, karena kita sendiri yang memintanya. Mari menolak LGBT, demi menghindari datangnya azab Allah SWT.* 
Sumber Gambar: okezone.com







[Read More...]


Jejak Kisah Seorang Ibu (Refleksi Mother’s Day)




Kita bisa menjadi celaka, durhaka, bahkan dilaknat oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Andaikata hanya 22 Desember, pada hari itu-itu saja dijadikan sebagai hari untuk mengenang jasa dan pengorbanan seorang Ibu. Ibu yang telah melahirkan kita sebagai “anak” yang pada akhirnya mampu menatap luas dan agungnya cakrawala dunia.

Pun demikian adanya, mengenang hari Ibu sebagai penghargaan sosok perempuan yang telah melibatkan diri dalam perjuangan kemerdekaan, lalu 22 Desember lagi-lagi dijadikan sebagai hari Ibu, rasa-rasanya tidak sebanding dengan pengorbanan titisan dari bini Nabi Adam itu.

Jejak Kisah

Maka melalui tulisan ini, kepada para Pembaca budiman, izinkan saya mendedah jejak kisah seorang Ibu. Perihal suka-dukanya bersama dengan sosok Ibu. Dan selanjutnya, titik berat tulisan ini diarahkan pada dua tujuan intisari: Pertama, tulisan ini kutujukan kepada Ibu saya yang dengan perkasanya telah menantang “kerasnya” kehidupan dalam membesarkan kami bersama. Kedua, semoga tulisan ini memberikan pesan “otentik” bagi saya pribadi dan kepada pembaca semuanya.

Begini ceritanya: sejak saya masih berumur 1 (satu) tahun, dalam bilik-bilik keluarga, Ayah-Ibu, dengan sangat “terpaksa” harus menjadi yatim, sebab Ayah saya memilih mengakhiri hidupnya dengan tragis. Ayah saya meninggal dengan cara bunuh diri, meneguk racun di sebuah “rumah persawahan” milik kami sekeluarga.

Saya, Ibu, dan tiga saudara adik-kakak saya ditinggalkan dalam keadaan tidak lagi memiliki orang yang bisa menjadi penopang keluarga. Tetapi di luar itu semua, dalam keadaan kami empat bersaudara yang masih belum mengerti tentang “kematian”. Kami semua belum dewasa. Tampaknya, sosok Ibu yang “single parent” mampu menjungkirbalikan semua kecurigaan orang kebanyakan, jika kiranya “sosok perempuan” tiada mampu mengemban tanggung jawab dalam rangka membesarkan anak-anaknya.

Kala itu, ada banyak cibiran hingga tuduhan dari kerabat Ayah saya yang membuat, kadang Ibu saya menitihkan air mata karena dianggap “gagal” menjadi isteri yang baik untuk suaminya seorang. Ibu saya dicampakan oleh beberapa kerabat ayah saya. Sedangkan saya sendiri ber-empat bersaudara dibiarkan saja merasakan “sakitnya” tak memiliki seorang ayah.

Ibu saya memang tidak pernah tahu apa yang dimaksud sebagai “wanita karir”. Tetapi saya akan menempatkannya Dia sebagai wanita berkualifikasi “Ibu rumah tangga” yang baik, sekaligus “lakon” wanita karir, kepadanya berhak untuk dia sandang. Sebab mengapa? Ibu saya memang wanita yang adikodrati “lemah” dari segi fisik, tetapi pancaran sinar keemasan “mata anak-anaknya” Ia mampu menjadi “permata” untuk kami semua. Ia adalah gadis desa yang dibesarkan dari kehidupan yang hanya menyandarkan diri kepada alam, tepatnya menyandarkan sumber penghidupan hanya dari sektor pertanian saja.

Dialah ibu saya, yang sedari dulu hingga kini, juga adalah ayah saya. Yah.. pengganti ayah saya. Ia bisa menggarap lahan pertanian kami. Ia mendayung cangkul dalam menggarap kebun kami yang telah ditinggal oleh ayah, dari kami “empat bersaudara” harus menjadi yatim.

Dan inilah kebesaran Tuhan, “sungguh Dia tidak akan membebani kepada hamba-Nya manakala dia tidak dapat menanggungnya.” Dengan kesabaran serta keteguhan hati bukanlah waktu yang singkat, lalu kami semua bisa menjadi dewasa.

Dari hasil pertanianlah yang dengan sunguh-sungguh telah menguras leleh keringat seorang Ibu. Kami semua dari 4 (empat) bersaudara bisa menjadi dewasa, bisa mengecap bangku kuliah hingga akhirnya menyandang sarjana. Kalau sudah demikian, maka “kurang apa lagi” yang telah dilakukan oleh seorang Ibu. Ibu yang sebagai penyadang profesi rumah tangga, Ia mampu memasak makanan dengan hidangan lezat untuk anak-anaknya. Ibu yang sebagai “wanita karir” toh Ia sudah menunjukan kepada dunia, air hujan telah bercampur dengan leleh keringatnya, disaksikan oleh “bumi” yang tiap hari digarapnya kalau Ia adalah wanita “pekerja keras” yang sangat jauh berbeda dengan pekerja wanita kantoran.

Bahkan kalau ia mau diegalari sebagai “wanita aktifis” pun saya berani menyanggupi untuk menobatkannya memang dia adalah “wanita akitifis”. Di dunia ini, mana ada wanita, pun kalau ada, mungkin hanya bisa dihitung lima jari temali, dalam kondisi “single parent” Ia menekuni profesi “Petani”.

Lalu, Ia mendermakan bakti untuk anak-anaknya. Semuanya harus menyandang gelar sarjana. Memang dia tidak turun ke jalan meneriakan perlawanan atas sebuah “ketertindasan” bagi sang papa, tetapi dia telah melahirkan dan membesarkan anak-anak yang harus bersikap “kritis” dikala sang pengemban amanah “lupa” akan janjinya.

Hari Ibu

Cerita singkat di atas yang dinukil sendiri dari pengalaman hidup saya bersama dengan seorang ibu yang single parent, terpancar hikmat di atas hikmat. Bahwa kepergiaan seorang ayah, selamanya dari dunia., telah dijadikan “cambuk kenangan” oleh Ibu saya. Suatu waktu Ibu saya pernah berucap: “anakku, semuanya harus bersekolah agar tidak mengikuti tindakan Ayahnya, yang terlalu gampang mengakhiri hidup hanya karena persoalan sepele”

Dan ibu saya benar, bukan berarti karena Ayah saya cepat dijemput oleh Yang Maha Kuasa, lalu kami semua bisa mengecap bangku kuliah. Pesan otentik dari semua itu, hargailah dan sayangi Ibumu lebih dari semuanya. Sebab tiada hari yang luput dari peran seorang Ibu. Mulai anda berada di dalam kandungan, dilahirkan hingga dibesarkan olehnya, semua waktu, fisik, dan tenaga hanya dikorbankan semata-mata kepada anaknya.

Maka jadikanlah semua harimu adalah hari Ibu, hari untuk berbakti selama-lamanya; kepadanya. Dialah wanita yang tidak hanya “menggerakkan” dunia kepada “kemerdekaan”. Tetapi Dia telah memerdekakan kepada semua anak-anak yang saban waktu akan menjadi dewasa. Dia telah memberikan hakmu untuk lahir melihat “cahaya dunia” walau kadung maut bisa-bisa mengancamnya. Dia pula-lah yang rela menahan perut keroncongan, asal anak-anaknya bisa tertawa, bahagia dan tersenyum di hadapannya.

Derita kepiluan, lelehan air mata dan keringatnya. Lalu dengan sekeras apapun kita mencoba untuk membalas jasa-jasa dan pengorbanannya, sungguh tiadalah sebanding dengan apa yang pernah dilakukannnya kepada kita semua. Pada 22 Desember hanyalah pemantik dan sepenggal kisah, jika semua hari dan pada hari-hari selanjutnya, dalam keadaan apapun sangat wajar, amal perbuatan kita diberikan semua, kepada Ibu kita. *Mari menyayangi, mencintai, dan mendermakan bakti kepada ibu kita, Selamat Hari Ibu.* 
Damang Averroes Al-Khawarizmi
[Read More...]


Ibuku, Pahlawanku (Refleksi Mother’s Day)



Saya tidak sepakat, jika hanya karena persoalan keterlibatan perempuan dalam merebut kemerdekaan di tangan penjajah melalui Kongres Perempuan Indonesia I (yang pertama) 22 s/d 25 Desember 1928 di Yogyakarta. Lalu momentum itu dijadikan sebagai cikal bakal lahirnya hari ibu setiap tanggal 22 Desember. Sebab, lebih dari itu semua lebih pantaslah menjadikan semua “hari” adalah hari bagi kita semua untuk membalas jasa-jasa yang telah dikorbankan seorang ibu, sehingganya kita dapat menyaksikan sekaligus merasakan besarnya kuasa Tuhan di dunia ini.

Bagi saya, adikodrati seorang wanita yang menitiskan kepadanya sosok “keibuan” dengan mengaca pada kongres perempuan pertama. Kemudian menobatkannya sebagai pahlawan kemerdekaan, itu terlalu “kecil” sikap kita untuk menghargai seorang ibu yang sudah melahirkan dan membesarkan kita dengan segala daya upayanya.

Pahlawanku

Maka dari itu, melalui tulisan ini kepada para pembaca harian Gorontalo Post, izinkan saya untuk menceritakan sepenggal kisah pribadi bersama dengan seorang ibu, sehingga kepadanya pantas sekali kujadikan sebagai pahlawan dalam setiap jejak kisah saya.

Singkatnya, begini ceritanya: saya turut merasakan betapa perihnya perjalanan hidup ibu saya dalam membesarkan kami empat bersaudara. Sebabnya adalah lantaran saya dan adik-kakak, hanya Ibulah harus menjadi penopang satu-satunya dalam keluarga.

Andaikata Ayah saya meninggal dalam keadaan yang lazim. Maka boleh saja tantangan yang harus dilalui oleh ibu saya dalam mengantarkan kami semua menjadi dewasa tidak terlalu berat. Namun ujian-Nya sungguh maha berat, ayah saya meninggal dengan cara tragis, ia meneguk racun di sebuah rumah persawahan milik kami sekeluarga.

Dan karena peristiwa tragis itulah, sehingga akhirnya ibu saya, selain kadang menyesali kematian ayahku, ia juga mendapat cibiran dari beberapa kerabat ayahku yang “meninggal” konon karena ibu saya menjadi penyebabnya. Sungguh kasihan ia, ibuku tersayang, menerima segala tuduhan kalau dia dianggap gagal total menjadi istri yang baik untuk suaminya.

Kadang kutatap bola mata ibu saya kala itu, ketika selalu saja ada yang menyalahkannya. Deengan menahan rasa sakit, pedih, perih, hati tercabik-cabik, bola matanya hanya berkaca-kaca, tidak ingin memperlihatkan kepada kami kalau sesungguhnya dia sedang dilanda duka mendalam.

Tetapi harus kuakui pada konteks inilah, saya menyatakan ibuku, adalah pahlawanku. Segala caci maki yang dituduhkan kepadanya. Dia jadikan cambuk untuk menjalani hidup lebih dari semuanya, yang orang selalu ramalkan.

Dia benar-benar menggantikan posisi ayahku, dia menjadi petani. Tak mau ia berlarut-larut dalam kesedihan, sesadar-sedarnya ia menyadari kalau air mata tidaklah mampu membesarkan anak-anaknya.

Tak ada gunanya selalu bersedih, semua ketetapan Tuhan harus diterima oleh hamba-Nya, demikian pesan yang selalu terngiang dari ibu saya. Selain menjalani kebiasaan ibu rumah tangga kebanyakan, berada di depan perapian untuk menanak nasi dan meramu beberapa hidagan lezat untuk anaknya, ia pula yang menjadi penggarap dari lahan pertanian yang telah ditinggalkan oleh ayah saya. Ia mendayung cangkul untuk merawat seluruh tanaman pertanian milik kami sekeluarga, sebab itulah satu-satunya sumber kehidupan keluarganya.

Lagi dan lagi saya harus menyatakan, dia; ibuku adalah pahlawanku. Umurnya yang kian hari sudah senja adalah saksi semenjana kalau cucur keringatnya tiap hari meleleh demi permata jiwanya. Walau dia wanita, yang seharusnya kulit dan badannya menjadi lembut, tetapi karena “kerja keras” menjadi penggarap kebun, perawakan tangannya sudah berotot seperti laki-laki.

Maka dari itu, kalau saya ditanya, adakah sosok manusia yang engkau cintai selain dirimu, lebih dari dirimu? Maka tak tangung-tanggung untuk kujawab, dialah ibuku. Ibu yang sudah kuanggap tuntas dirinya, memilih untuk menjadi single parent selamanya, demi anak-anaknya semata.

Bukan sebuah keberkahan yang harus menjadi kata syukur, karena ayahku meninggal, lalu ibuku “tersugesti” untuk menamatkan semua anak-anaknya di perguruan tinggi (bahkan tekadnya adalah semua anaknya harus kuliah diperguruan tinggi negeri). Semua niat baik itu sungguh menjadi makbul. Ibuku beralasan, semua anak-anaknya harus menempuh sekolah hingga ke jenjang yang lebih tinggi, agar anak-anaknya jangan mengikuti tindakan ayahnya yang terlalu gampang mengakhiri hidup hanya karena persoalan sepeleh.

Memang alasan itu terkesan tidak masuk akal. Tetapi bagi saya, ibuku adalah pembelajar ulung dari masa lalu. Ia harus menggenggam dunia demi anak-anaknya, demi kebesaran jiwa anak-anaknya. Agar kelak menjadi anak yang bisa mandiri, saling-mengasihi, dan bertanggung jawab untuk keluarga. Demikianlah pesan yang selalu diulang-ulang untuk anaknya, sehingga walau ibuku tidak sempat menamatkn sekolah dasar, pun di dalam diri, denyut nadi, jantung dan darahnya mengalir kearifan seorang Filsuf yang selalu mencipta asa untuk anak-anaknya.

Hari Ibu

Dari sepenggal kisah yang saya ceritakan di atas, akhirnya saya berkesimpulan kuat, untuk diri saya, untuk pembaca, kita semua. Semua hari, detik, menit, jam, bulan, dan tahun dalam segala hela nafas, itu semua menjadi milik ibu. Bahwa semua waktu adalah masa untuk membalas jasa-jasanya, kendati balasan itu pastinya tidak akan sebanding dengan apa yang pernah dilakukannya kepada kita.

Ibu adalah pahlawan perkasa, tangguh, sehingga ia bisa melahirkan kita dari masa-masa sulitnya, karena dengan pengorbanannya walau kdaung maut menjadi ancamannya, akhirnya kita bisa mengecap “cahaya kehidupan” di dunia. Lagi-lagi karena sikap kepahlawanan dia yang memantaskan ‘generasi” harapan di masa-masa selanjutnya.

Segala kepedihan dan kepiluan yang telah dirasakan oleh ibu seorang. Dan segala senyum manisnya. Di sanalah membunca “ruah rasa”, menyemai yang bernama cinta dan kasih sayang.

Ajal boleh menjemput siapapun, tidak tanggung-tanggung, tetapi lakukanlah yang terbaik untuk ibu kita selagi ia masih hidup. Tak ada waktu untuk mengatakan sudah terlambat, sebab waktu berbakti dan mengabdi kepada seorang ibu selalu terbuka selagi matahari tidak pernah terbenam di tengah langit. Wahai dikau, Ibu…! Doa sapu jagat akan selalu menyertaimu. Selamat hari ibu.*
 
 
Artikel ini Juga Muat di Harian Gorontalo Post, 22 Desember 2015
Damang Averroes Al-Khawarizmi
 
 
[Read More...]


Mengapa Harus Ibu? (Refleksi Mother’s Day)



Nama lengkapnya Mabah bin Budzkhasyan bin Mousilan bin Bahbudzan bin Fairuz bin Sahrk Al-Isfahani. Lahir di Persia dan Ia lebih dikenal dengan nama Salman Al-Farisi. Nama panggilannya adalah Abu Abdillah dan digelari dengan Salman Al-Khair.

Al-kisah, sebuah situasi yang amat getir sedang melanda Salman Al-Farisi. Dalam keadaan drinya yang papa ternyata ibunya “sangat berkeinginan” naik haji. Terlebih-lebih lagi bukan hanya uang yang tidak dipunya, tetapi ibu yang hendak menunaikan haji di tanah suci itu sudah dalam keadaan sekarat, sakit, tiada ia lagi mampu berjalan.

Namun kemudian Salman Al-Farisi mengandalkan ototnya yang kuat. Ia mengantar sang ibu naik haji dengan cara menggendongnya, ia melintasi sengatnya panas di atas gurun pasir.

Singkat kata singkat cerita, ketika akhirnya Salman Al-Farisi dan ibunya sampai di kota Mekah, dengan wajah sumringah, masih dilanda kelelahan, tiba-tiba ia bertemu dengan rasululullah. Alangkah bahagianya sang anak beserta ibunya itu, ketika mereka bertemu dengan utusan Allah yang sangat mereka cintai dan mereka selalu rindukan.

Hingga terjadilah percakapan antara Salman Al-Farisi dengan Rasulullah. Sang anak bertanya kepada Rasul: “wahai Rasul, apakah saya sudah berbakti kepada orang tua saya, saya menggendong ibu saya, dipundak saya sambil berjalan dari Madinah sampai kota Mekah untuk menunaikan niatnya beribadah haji”

Lalu denga seketika itu Rasulullah menangis. Rasul menjawab dengan suara tangis yang masih tersedu-sedu: “wahai saudaraku, engkau sungguh anak yang luar biasa, engkau benar-benar anak sholeh, tetapi maaf, apapun yang engkau lakukan di dunia ini untuk membahagiakan orang tuamu, apapun usaha kerasmu untuk menyenangkan orag tuamu, tidak akan pernah bisa membalas jasa orang tuamu yang telah membesarkanmu.”

Kendatipun demikian dalam sejarahnya, Rasulullah juga mengakui kalau Salman Al-Farisi adalah orang yang paling disayangi oleh Allah SWT, tetapi perjuangan gigih dari sang anak penuh bakti itu. Lagi-lagi dalam pengakuan Rasulullah pula “sungguh perbuatannya tiadalah sebanding dengan jasa orang tuanya.”

Hari Ibu

Maka dalam konteks itu, merayakan hari ibu dalam momen 22 Desember pun rasanya tidak akan pantas dapat mewakili apa yang telah dilakukan oleh seorang ibu untuk anak-anaknya. Mengapa kita tidak jadikan saja semua hari adalah hari untuk mendermakan bakti kepada ibu? Mengapa hanya sehari saja, kepadanya ia patut direnungi segala pengorbanannya. Tidak! semua hari, detik, jam, bulan dan tahun harus dijadikan cambuk untuk terus mencintai dan menyayangi ibu yang telah melahirkan dan membesarkan kita semua.

Bayangkan saja saat sosok ibu yang dengan kelemahan fisiknya. Ia kuat dengan segala daya upayanya; kita bisa lahir dari rahimnya yang juga harus ditanggung berbulan-bulan. Ia bisa menjadi tersenyum walau segala peluhnya telah habis, untuk melahirkan anak yang disayanginya. Dan tidak hanya itu, kadang pula ia tidak bisa tertidur karena menjaga anaknya dari “suara rintihan” hingga larut malam.

Dan kepadanyalah, dengan segala kelemahlembutan yang tersemat dalam dirinya. Natural seksual yang meniscayakan sebagai sunnatulloh, maka hanyalah sosok ibu yang bisa melahirkan. Pada titik itu, Tuhan telah mengangkat derajat wanita dalam titisannya sebagai “ibu” yang lebih “agung” dari pada laki-laki yang tidak bisa mengandung dan tidak bisa melahirkan.

Rasulullah SAW, junjungan kita semua tak salah pula menyampaikan risalah ketuhanan kepada ummatnya. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari No. 5971 dan Muslim No. 2548).

Betapa dahsyatnya sabda Rasulullah tersebut, hingga Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya. (Tafsir Al-Qurthubi X : 239. al-Qadhi Iyadh menyatakan: “bahwa ibu memiliki keutamaan yang lebih besar dibandingkan ayah.”)

Pelita Harapan

Selain itu, terdapat pula sebuah misteri “kegaiban” Tuhan telah menghadirkan sosok ibu di muka bumi ini. Penting kiranya bagi kita semua menangkap pesan ketuhanan itu, ada apa sehingga sosio historisnya Nabi Adam as yang begitu gagah perkasa ditemani dengan wanita yang maha sempurna dengan kelemahlembutannya? Apakah makna dibalik itu semua sehingga Allah SWT menciptakan dua insan yang saling berkasih sayang, lalu diturunkan “kekuatannya”, dua manusia pertama itu dari generasi ke generasi?

Selemah-lemahnya nalar kita. Semua peristiwa itu menjadi tanda “rahman” dan “rahim-nya” Tuhan kepada Hamba-Nya. Andai tiada wanita, tiada ibu, siapalah yang bisa melunakan hati seorang lelaki, seorang ayah, jikalau dirinya selalu mendahulukan “perselisihan” ketimbang rasa untuk saling mengasihi bersama? Andaikata tiada Ibu yang dengan syahdunya meninabobohkan anak-anaknya yang saban hari akan menjadi pemegang “tongkat estafet” kepemimpinan di negeri ini, maka sanggupkah kita mengecap rasa kedamaian tanpa ajaran dan nilai kasih sayang yang telah dititiskan kepada oleh sang ibu?

Bilik-bilik keluarga, rumah tangga, masyarakat, bangsa, dan negara. Semuanya, menjadi damai sentosa, karena “wajah kedirian” Tuhan sungguh telah dianugerahkan kepada Ibu, dengan rasa cintanya kita semua bisa saling mengasihi.

Pun air mata, derita, luka, kepiluan, haru dan bahagia, semuanya rasa itu hadir dari sosok ibu untuk selalu optimis menyalakan “pelita harapan” bagi segenap ummat manusia. Mari bersyukur kepada Allah SWT, karenanya kita punya sosok ibu yang membuat hidup ini selalu menjadi bermakna. Selamat hari ibu. *
 
 
Artikel ini juga muat di koran Amanah Makassar, 21 Desember 2015
 
Damang Averroes Al-Khawarizmi

[Read More...]


Return to top of page Copyright © 2011 | Platinum Theme Converted into Blogger Template by Hack Tutors