0 Pramoedya Menggugat Hari Kebangkitan Nasional



Sabtu kemarin (20 Mei 2017), hari kebangkitan nasional telah menapaki usianya yang ke-69. Usia yang sudah tergolong menua, sejak pertama kali diperingati pada 20 Mei 1948 atas inisiatif Soekarno saat mana Republik Indonesia (RI) diterpa prahara politik dari dalam. Suatu kondisi ketika RI belum lama terikat perjanjian Renville (17 Januari 1948), wilayahnya terus mengecil hingga hanya Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan sebagian Sumatera.

Hingga saat ini, boleh jadi sangat kurang yang mengetahui kalau penarikan tanggal dan sosio histori hari kebangkitan nasional, dari organisasi pergerakan nasional yang diprakarsai oleh Dr. Wahidin Sudiro Husodo (1857 - 1917), pernah digugat oleh seorang sastrawan kelahiran Blora (6 Februari 1925). Sastrawan yang bisa dikata hampir separuh hidupnya habis di penjara dalam status sebagai tahanan politik orde baru.

Dialah yang bernama lengkap Pramoedya Ananta Toer {PAT – (1925-2006)}, dari karya maha agungnya: “Sang Pemula (1985) dan Tetralogi Buru (Bumi Manusia: 1980, Anak Semua Bangsa: 1981, Jejak Langkah: 1985, Rumah Kaca: 1988)” terungkap kalau setahun sebelum berdirinya organisasi Budi Utomo (BU), yaitu 1906 telah berdiri “Sarikat Priyayi” atas prakarsa Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo (1880 – 1918).

Nama Tirto jarang sekali diketemukan dalam sejarah nasional, termasuk pada mata pelajaran Sejarah di tingkat SMP dan tingkat SMA. Dan dibalik itu semua, adakah memang yang sengaja menghilangkan nama Tirto? Sampai-sampai hanya satu refrensi terpercaya akan kebenaran sejarah dapat ditemui di karya penulis dalam negeri yaitu Pramoedya Ananta Toer (PAT), baik dalam nama asli Tirto maupun dalam nama rekaan hasil oleh PAT sendiri di “Tetralogi Buru”, Minke.

Mengapa BU ?
Baik dalam konstruk ideologi maupun dalam konstruk gerakan, ketika dilakukan penelusuran dari karya-karya bernas PAT, memang tidak ada alasan yang bisa membantah kalau “Sarikat Priyayi-lah” yang seharusnya menjadi peletak dasar pertama era kebangkitan atau kebangunan nasional.

Struktur keanggotaan Sarikat Priyayi (SP), menampung bukan hanya priyayi, tetapi juga masyarakat biasa (pribumi), juga dalam skala gerakan dengan mendirikan sekolah dasar (fro’bel onderwijs), berani menerima anak murid yang tidak dapat diterima di sekolah Belanda. Sementara organisasi Budi Utomo (BU), dapat dikatakan sebagai organisasi inklusif, oleh karena hanya menampung kenggotaan dari kalangan priyayi. Belum lagi, sekolah-sekolah yang didirikannya hanya menampung anak-anak dari kalangan priyayi pula. 

Dengan geram dan bernada emosi, marah, PAT mengkritik organisasi Budi Utomo sebagai kaki tangan Belanda. Organisasi Budi Utomo (BU) mustahil dapat memerdekakan Hindia Belanda dari kolonialisme dan imprealisme, sebab gerakannya hanya ditujukan untuk kepentingan penjajah. Tak kurang, beberapa anggota Budi Utomo (BU) banyak juga yang anti Islam.

Sayangnya, kita tidak bisa melacak dan menemukan tanggal dan bulan pendirian Sarikat Priyayi (SP), bahkan dalam buku PAT “Sang Pemula,” PAT hanya mencantumkan tahun pendirian SP, minus tanggal dan bulan berapa? Sehingganya, kalau pendirian Sarikat Priyayi hendak dijadikan dasar hari peringatan kebangkitan nasional, tentulah tidak akan ada namanya peringatan hari kelahiran atau hari ulang tahun, sebab yang selalu menjadi penarikannya, yaitu tanggal dan bulan, soal tahunnya memang juga penting, tapi itu belakangan.

Berdasarkan umur organisasi, kuat dugaan pula kalau hanyalah organisasi Budi Utomo yang pada kenyatannya bisa menjadi cikal-bakal kebangkitan nasional dalam merengkuh kemerdekaan pada waktu itu. 

Sarikat Priyayi tidak bisa bertahan lama, baik karena persoalan finansial maupun pencekalan izin resmi dari pemerintah Belanda. Bisa diperkirakan umur Sarikat Priyayi hanya berumur dikisaran 3 sd. 4 tahun. Ini bisa dilacak dari pertama berdirinya (1906) lalu Tirto ikut pula dalam pendirian Sarikat Dagang Islam (1909). Saat Gerakan Budi Utomo berdiri, Sarikat Priyayi masih eksis karena tanpa dipinta ia menyediakan ruangan terbitan untuk ikut mempropagandakan anti penjajah. Bahkan ia sendiri (Tirto) menjadi anggota pergerakan Budi Utomo afdelling di Bandung (PAT, Sang Pemula, Halaman 115)

Kendatipun demikian, pergerakan Budi Utomo (BU) jelas-jelas sudah dimasuki kepentingan politik penjajah, umurnya tetaplah tergolong menua, 27 tahun (1908 – 1935). Karenanya itu, sedikit tidaknya banyak memacu adrenalin anak-anak muda terpelajar di dalam dan luar negeri untuk bersatu; Jong Java, Jong Sumatra, Jong Celebes hingga dideklarasikannya “Sumpah Pemuda” -1928- banyak dipengaruhi oleh pergerakan nasional Budi Utomo (BU).”

Beberapa nukilan sejarah, juga ada yang menginginkan kalau penarikan hari kebangkitan nasional dari pendirian SDI dan sebagian lagi ada yang menginginkannya dari pendirian National Indische Partij (NIP).

Gampang saja mematahkan pendapat ini, walau kedua-duanya merupakan organisasi yang tidak perlu diragukan niatnya untuk kemerdekaan Hindia Belanda dibandingkan pergerakan Budi Utomo (BU). SDI berdiri pada 5 April 1909 dan NIP berdiri pada 25 Desember 1912 oleh tiga serangkai (E.F.E Dowes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, dan Ki Hajar Dewantara). Sudah jelas, pendiriannya belakangan dibandingkan pergerakan Budi Utomo.

Ada yang mengatakan kalau SDI berdiri pada 16 Oktober 1905. Informasi tersebut kiranya telah terbantahkan. Pertama, oleh Delian Noer “Gerakan Modern Islam Indonesia” (LP3ES, Jakarta, 1980) sebagaimana dituliskan oleh PAT (Sang Pemula: Halaman 139) dikatakan bahwa itu tidak benar, bahkan penanggalan itu bahagian dari strategi, agar jejak Tirto yang sengaja dihilangkan dari sejarah. Kedua, dalam sejarah yang dituliskan oleh PAT, dikatakan bahwa sebelum SDI berdiri diawali dari sebuah pertemuan di rumah Tirto di Bogor, 27 Maret 1909. Hal lain lagi, jika Tirto saja sebagai sekretaris-advisor di SDI, rasa-rasanya tidak mungkin ia masuk di SDI, kalau Sarikat Priyayi-nya masih eksis kala itu.

Sikap Kita
Sejarah tetaplah sejarah, sejarah tidak pernah salah, tetapi penulis sejarah wajar kalau dicurigai ada kemungkinannya salah. Salah karena subjektifitasnya lebih dominan ketimbang objektivitasnya. Terpaksa salah karena regim yang menghendakinya.

Soal hari, dan kapan sebaiknya kebangkitan nasional diperingati tidak perlu diperdebatkan lagi. Jauh lebih penting dari semuanya itu, adalah “angel” dari kebangkitan nasional tetap bisa kita pelihara sepanjang zaman, kebhinekaan yang dipersatukan dalam wadah satu nusa, satu bangsa, dan satu Indonesia.

Sikap kita, kebenaran sejarah harus diceritakan. Tirto harus dikembalikan jasa-jasanya dalam memoar anak-anak kita di masa mendatang. Bukan hanya ada nama Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Dowes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantara, Samanhoedi, Tjokroaminoto, akan tetapi ada juga nama Tirto.

Bahwa dari Tirto - lah pertama kali lahir surat kabar (Medan Prijaji 1907) berbahasa melayu, dan seluruh pekerja mulai dari pengasuh, percetakan, penerbitan dan wartawannya adalah pribumi Indonesia. Sebuah media yang berani pula melancarkan kritik terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda. Gerakan nasionalisme yang tiada perlu dan tidak patut lagi dipertanyakan. Bahwa dari Tirto pulalah pergerakan nasional pertama kali digelorakan melalui Sarikat Priyayi-nya.

Buku-buku sejarah haruslah direvisi demi mengenang jasa Tirto untuk Indonesia, dengan memasukkan nama, institusi dan peran beliau dalam pendirian beberapa organisasi pergerakan nasional {Budi Utomo (BU), Sarikat Dagang Islam (SDI), Sarikat Islam (SI)}. Tak perlulah memperdebatkan hari kebangkitan nasional, apalagi mau menggugatnya.


[Read More...]


0 Aku dan Kamu Itu Misteri



Apakah yang ghaib selain Tuhan? Bukan setan, bukan malaikat, bukan sebangsa Jin, atau apapun yang sulit di reka oleh panca indera. Kelahiran dan kematian itu pasti ghaib. Tetapi tak dapat kuceritakan kepadamu tentang pengamalan kelahiran. Tak dapat kuceritakan kepadamu tentang pengalaman kematian.

Siapapun dirimu, wahai manusia, adakah didirimu mengingat masa-masa kelahiranmu? Tidak. Adakah didirimu mengingat masa-masa dimana kematian menjemputmu? Sama sekali tidak. Hanya orang lain, orang dekat kita mungkin yang akan menceritakan dua episod pengalaman itu. 

Tetapi yang namanya jodoh, pernikahan, kawin, siapa pasangan kita, benar-benar takdir. Engkau dan saya, kita bisa menceritakannya, kita bisa mengigat semua detil-detilnya. Hari ini, esok, lusa, tahun depan, ya sepanjang desah nafas ini masih terasa, adalah diri kita yang mampu menceritakan kejadian itu.

Pernikahan itu adalah misteri, aku dan kamu adalah misteri. Ada yang pernah datang lalu pergi. Pergi tanpa rasa bersalah, hingga tak pernah terucap kata maaf... itulah manusia dengan balutan suci, bersembunyi dibalik keagungan Tuhan. Hingga tak ada katanya yang perlu dimaafkan.

Aku dan kamu adalah misteri, sedangkan yang pergi adalah kenyataan. Kenyataan yang pernah kuceritakan kepadamu yang karena engkaulah misteri itu. Luka dan luka yang telah tersayat, kau mengobatinya, kau menghiburnya, hingga pada akhirnya dengan sebuah “misteri” itu Tuhan lalu mengikatkan kita, pada misteri yang saling jawab menjawab.

Pesta! Ya..ada pesta. Tetapi aku dan kamu tidak pernah menikmatinya. Hanyalah kerumunan, keramaian keluarga, keramaian tetangga yang di sana menikmatinya. Aku dan kamu ingin segera mengakhiri secepatnya pesta itu. Itu sangat menggangu “kedamaian” yang sudah lama kita impikan. Terimalah itu sebagai kenyataan pula, aku dan kamu adalah suku bugis, aku dan kamu harus ada pesta. Kalau tak ada pesta, keramaian akan mengutuk misteri itu. Aku dan kamu ingin pasti berteriak pada waktu itu: Tuhaaa.....aaaaan aku hanya butuh akad, setelah itu yah sudah, aku ingin meninggalkan kerumunan ini.

Tak ada uang, tak ada biaya, jujur aku tak memiliki semuanya itu, karena misteri yang terjawab oleh misteri akhirnya semua selesai pada waktunya. Selesai tetapi akan ada selalu perjalanan yang aku dan kamu nantikan, masih akan menjadi misteri.

Bagaimana rasanya melihat harapan masa depan itu, aku dan kamu mengimpikannya, kukecup dia, kukecup pada yang bernama harapan itu, hingga kau tak pernah merasa sendiri lagi seperti dahulu.

Tidak ada yang salah dengan kenyataan, kalu aku dan dirimu bersalah, Tuhan selalu membuka pintu maaf dan pintu taubatnya. 

Satu persatu setelah misteri yang satu pergi, datanglah lagi misteri yang satunya. Aku dan kamu ingin menyepi, mencari kesunyian, mencari kedamaian, lagi-lagi kita bersimpuh pada harapan masa depan, ada-ada lagi ujian.

Aku tak punya uang, se-sen pun, aku dan kamu lari dari kerumunan, beruntunglah diriku ini karena engkau pernah menabung pada dirimu, dan ternyata tabungan itulah diperuntukan pada yang bernama harapan.

Ini akan membekas selalu, aku dan kamu hendak mencari kedamaian di sebuah kota ramai, tapi aku dan kamu menganggapanya sebagai kota sunyi sebab ada damai yang kita temukan berdua di sana.

Dan sebelum menjangkau kota pelarian itu, walau hanya sementara di sana, lagi-lagi aku dan kamu diuji, di tengah uang yang engkau pernah tabung, cukup untuk berangkat di sebuah kota sunyi, sekitar Rp. 1.500.000 ludes tak berguna untuk biaya pelarian aku dan kamu. Kau menenangkan diriku, sabar sayangku, inilah ujian yang akan kita cerita pada harapan yang telah menapak dirinya pada aku dan kamu.

Pesawat pelarian kita, telah meninggalkan kita. Ujuk-ujuknya engkau memberikan lagi uang Rp. 1000.000 lagi agar aku dan kamu tetap bisa mengecap kedamaian di sana.

Aku dan kamu selalu kehabisan, tapi selalu ada yang menolong, selalu ada yang membantu, mulai dari keluarga, teman, hingga orang yang sama sekali hanya dikenal melalui jejaring sosial.

Berdagang ilmu, menjual buku ala kadarnya jawaban dari tiap misteri itu, seolah-olah aku selalu merasakan, setiap orang yang mengorder buku yang kita jual berdua, para pembeli itu adalah malaikat yang dikirim oleh Tuhan untuk selalu memberi pertolongan kepada kita.

Aku dan kamu, dan pada harapan itu, seyakin-yakinnya selalu dalam sorotan misteri satu persatu. Aku dan kamu tak pernah kelaparan walau simpanan uang habis lagi. Karena ada-ada saja, misteri selalu datang pada waktunya.

Ketemu dengan dirimu adalah misteri, harapan adalah misteri. Aku, kamu, dan harapan adalah rezeki maha sempurna yang ditaburkan Tuhan di muka bumi ini. Percayalah....!!!!.


[Read More...]


1 Ketika Aku Jatuh Cinta Pada Tribun Timur (Refleksi Milad HUT Tribun Timur ke-13)




Suara mesiu kendaraan yang kutumpangi dari Sinjai menuju Makassar bercampur baur dengan rasa lelah dan kepenatan. Tidurku makin lelap, dan tiba-tiba handphone di dalam saku celana jeans milikku, berbunyi demikian keras. Saya kira nada panggilan itu dari kekasih saya (Ernawati Rahim, juga salah satu penulis yang sering muncul di harian Tribun Timur) hendak menanyakan berita kalau saya sudah tiba di Kota Makassar. Tetapi ternyata bukan! Justru nada panggilan itu berasal dari tribun timur, di handphone saya, kutuliskan nama itu, hanya dengan sebutan: “kasir tribun timur.”

Hingga saat ini, saya tidak pernah tahu-menahu nama asli dan sosok dari kasir tribun timur tersebut, setahunya saya hanya menyebutnya kasir tribun timur. Dan tiba-tiba saja kasir tribun timur yang bersuara ceweK itu, menginformasikan kalau masih ada honor tulisan saya yang belum ditransfer. Katanya, masih ada sekitar Rp-400.000.

Kaget dan bahagia bukan kepalang, itulah perasaan yang sedang menggeluti diriku ketika ia memberitahukan. sisa honor tulisan saya. Bagaimana tidak, sebelumnya saya sudah mendapatkan honor Rp-800.000, ternyata masih ada sisanya pula.

Mungkin sebahagian orang menyatakan kalau menerima honor tulisan, adalah peristiwa paling membahagiakan. Tetapi sebagai penulis yang sering dimuat artikel saya diharian tribun timur, lebih banyak lagi kisah dan pengalaman yang membuat kemudian saya jatuh cinta dengan harian terbesar di Indonesia timur itu.

Harian tribun timur tidak pernah membeda-bedakan antara penulis lama dengan penulis pendatang baru. Di saat banyak rekan-rekan saya selalu beralibi, kalau sebuah artikel (opini) nanti akan dimuat kalau memiliki kenalan orang dalam, nyatanya saya tidak merasakan hal demikian di harian tribun timur.

Jujur sampai hari ini, satupun tidak ada kenalan saya di harian tribun timur. Sebuah koran terbesar dan terdepan di daerah Makassar sudah berkali-kali memuat opini saya, tanpa sedikitpun pernah melakukan intervensi kepada salah satu pegawainya.

Inilah segala alasan, saya kemudian berani menyatakan kalau tribun timur selalu di hati penulis dan pembaca. Di halaman opininya, kerap kita menemui nama-nama besar dari Penulis beken asal Makassar; ada Prof Quraisy Mathar, ada Prof Marwan Mas, ada Prof S.M Noor, ada Prof Anwar Arifin, ada Prof Pangerang Moenta, ada Hidayat Nahwi Rasul, ada Ilham Kadir, ada Ibu Sri Rahmi. Tak ketinggalan beberapa penulis muda lainnya, seperti Rahmad Arsyad (Abang); Endang Sari, Abdul Karim, Fadlan L Nasurung, Syamsul Arif Ghalib, Arifuddin Balla, Muh. Nursal NS, Fadli Natsif, Fajlurrahman Jurdi, Wiwin Suwandi, dst… yang tak pernah ketinggalan memunculkan wajah dan wacana barunya di harian Tribun Timur.

Koran Tribun Timur yang sudah memiliki gedung baru ini, kiranya menjadi penyumbang literasi terbesar, khusus untuk daerah Sul-sel. Tidak ada pengarusutamaan antara penulis yang bergelar dengan penulis yang biasa-biasa saja. Semuanya bisa membagikan ide cemerlangnya melalui harian tribun timur.

Sepanjang pengamatan saya pula, dalam mengikuti beberapa opini di harian tribun timur, media cetak sekaligus media yang memiliki website pengunjung terbanyak, tidak pernah berafiliasi dengan kepentingan politik tertentu. Semua pemberitaan dan pendapat para penulis disajikannya secara fair, independen, dan netral dari sekapan berita-berita politik tanah air.

Inilah koran yang selalu dihati pembaca dan penulis, ketika setiap opini yang termuat selalu mengikuti perkembangan isu-isu lokal, hinga isu hukum dan politik aktual. Setiap penulis menemukan ruangnya di sana, menyajikan gagasan yang baharu, tidak monotom pada satu isu saja.

Simaklah opini pada akhir bulan Januari kemarin, soal pemberitaan Hoax dan revisi UU ITE yang sedang hangat dalam perbincangan nasional, ada banyak penulis dihadirkan oleh media tribun timur melalui laman opininya dengan perspektif yang berbeda-beda dari berbagai latar belakang keilmuan. Adalah seorang komunikator ulung, Hidayat Nahwi Rasul menampilkan suguhan opini yang menisbatkan bahwa keberadaan media sosial saat ini cenderung memecah belah relasi dan pertemanan sesama, bersamaan dengan itu pula muncul gagasan dari akademisi hukum dan praktisi hukum yang masing-masing membahas limitasi hak dan kebebasan menyatakan pendapat di media sosial, Fadli Natsif dan Muh. Nursal NS.

Di harian tribun timur, pun saya banyak menemukan kenalan-kenalan baru memiliki hobi yang sama dengan saya, hingga pertemanan kami di meda sosial menjadi akrab dan luwes bersama dengan Arifuddin Balla, Syamsul Ariel Galib, dan Fadlan L. Nasurung, yang selalu kuanggap penulis cekatan dan mudah dipahami jalan dan alur pikirnya. Bukan penulis ego, yang hanya dirinya sendiri bisa memahami apa yang dituliskannya.

Benar-benar harian tribun timur selalu membuat jatuh hati ke padanya, saya masih mengingat beberapa tahun silam ketika pertama kalinya tulisan saya muat di harian ini, kala masih berdomisili di Gorontalo, akan tetapi dengan gampang mengecek tulisan saya muat pada waktu itu yang berjudul “Kiamat Menanti KPK,” cukup dengan mengaksesnya melalui paper online tribun timur Makassar.

Dan satu kebiasaan “gila” yang tidak dapat saya hindari, setiap menemukan pendatang baru di harian tribun timur pada lama opininya, kerap kali saya mengidentifikasi nama pendatang baru tersebut, dan mengajaknya berkahwan melalui media sosial. Tribun timur benar-benar telah membantu saya mengaduk samudera tulisan dan beberapa penulis yang tak sungkan bercengkerama dan sekadar menyapanya: “selamat kepada saudaraku sudah dimuat tulisannya di harian tribun timur.”

Jodoh tak dapat dihindari, takdir selalu menyapa setiap insan manusia, tak pernah kuduga juga sebelumnya, tribun timur bahkan telah mempertemukan jodoh saya, berkat harian tribun timur saya mengenal Ernawati Rahim, yang Inn syaa Allah tidak lama lagi aku akan mempersuntingnya.

Terima kasih kepada tribun timur, media yang bukan hanya selalu di hati tetapi telah menambatkan hati kedamaian saya untuk seorang penulis asal Bone yang telah menamatkan program Magister-nya, jurusan Ilmu Politik di UGM Yogyakarta.

Saya banyak dikenal karena tribun timur, dan karena tribun timur pula saya akan melanjutkan kisah dramatik dari dua penulis yang akan terus jatuh cinta buat harian tribun timur, selamanya.

Happy Milad Tribun Timur yang ke-13, Koran spirit baru Makassar, jayalah dikau sebagai koran terdepan dan selalu di hati kami semua.*


Artikel ini dimuat pula di Harian Tribun Timur, 10 Februari 2017





[Read More...]


0 Memanusiakan Literasi




Di dunia ini banyak penulis, tetapi kurang karena karyanya akan menjadi tenar dalam jagat literasi. Dalam dunia sastra beberapa nama penulis yang cukup populer, diantaranya: Sir Walter Scott (1771-1832 ), Emile Zola, Victor Hugo (1802-1885), Alexander Dumas (1802-1870), Charles Dickens (1812-1870),Leo Tolstoy (1828-1910), Oscar Wilde (1854-1900), Rabindranath Tagore (1861-1941), Rudyard Joseph Kipling (1865-1936), Maxim Gorky (1868-1936), Jack London (1876-1916), Frans Kafka (1883-1924), Ernest Hemingway (1899-1961),John Ernst Steinbeck (1902-1968), Jean Paul Sartre (1905-1980), Albert Camus (1913-1960).

Mungkin nama-nama yang saya sebutkan di atas, masih banyak yang tidak mengenalnya. Maka marilah kita menoleh ke sastrawan kita sendiri, seperti Pramoedya Ananta Toer dan Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka). Disampng kedua sastrawan tersebut pernah berseteru di zamannya, pasti kedua-duanya tak ada yang mengingkari kalau karya-karyanya menjadi abadi, disukai oleh banyak orang, kendati sudah berpuluh-puluh tahun dijemput maut.

Tingkat kedisukaan suatu karya hingga mampu melintasi zamannya, tiada lain disebabkan oleh sang empunya sendiri yang meniupkan jiwa dalam karyanya. Simaklah salah satu karya Pramoedya yang berjudul “Gadis Pantai” satu persatu kalimatnya tersusun rapi menceritakan tentang feodalisme masyarakat Jawa yang dilakukan oleh golongan priyayi pada saat itu. 

Senada dengan itu pula, percikan jiwa Hamka dapat ditelusuri dalam salah satu novelnya “Terusir” yang mengisahkan seorang perempuan diusir oleh suaminya, hidup dalam dunia pelacuran, tetapi cinta pada sang anak membawanya di meja persidangan hingga kematian menjemputnya pula.

Resep Literasi

Kata kuci yang menjadi resep literasi, ciptakanlah sebuah karya ibarat manusia. Memanusiakan literasi. Jika organ tubuh manusia memiliki susunan, organ-organ tubuh, panca indera, sistem pernafasan, sistem pencernaan, semuanya itu tersusun secara sitematis. Maka, demikian halnya dengan karya yang bernama “tulisan” susunlah kalimatnya secara sistematis pula. Sebab kalimat yang tiada terangkai, tidak memiliki hubungan sama sekali,sistemnya mustahil terbentuk.

Sulit, memang perkara sulit, merangkai kalimat dengan kalimat selanjutnya tidak segampang merangkai kata. Tetapi pada intinya jika anda mampu merangkai kalimat tanpa menggunakan lagi kalimat penghubung, pada poin itu sesungguhnya anda telah menapaki tingkatan penulis yang patut disimpan namanya “di hati” pembaca.

Seringkali saya membaca artikel, kalimatnya tak ada keterkaitan dengan kalimat sebelumnya, porak-poranda di sana-sini, bahkan antar pragraf tidak terdapat sinkronisasi. Sehingga terpaksa harus membacanya berulang-ulang. Bagaimana dengan pembaca yang malas mengulang-ulang? Sudah pasti akan menghentikan untuk membaca karya tersebut, sebab sang empunya karya tidak pernah memahami kemauan dan rasa sang pembaca. Jangan marah jika pada akhirnya, karya semacam itu akan dilempar ke tong sampah. Itu, karena anda sendiri sebagai penulis terlalu egois dengan bahasa (yang mungkin) terasa bombastis, tetapi apa guna kalau pembaca tiada memahaminya.

Soal menarik dan bagusnya suatu karya cipta bukanlah ditentukan oleh gelar sarjana, magister, doktor, bahkan professor. Mau tidak mau, bagi penulis yang sudah terkenal akan membeberkan resep literasi, bahwa yang namanya menulis butuh kerja keras ekstra, latihan, dan ketelatenan. Salah besar, jika media tertentu hanya mengutamakan memuat sebuah karya di hariannya dengan gelarnya semata, tanpa memperhatikan substansi tulisannya yang bisa dipahami oleh pembaca.

Paling penting di atas semua itu, selain kalimatnya terangkai secara sitematis, maka manusiakanlah literasi dengan memberilnya nyawa dan jiwa. Bernyawa dan berjiwanya sebuah tulisan merupakan satu kesatuan dengan kalimatnya yang saling berangkai. Jadikanlah tulisan anda mengalir ibarat air yang jernih, deras mengalir, semakin deras alirannya maka semakin larutlah pembaca dalam tulisan itu.

Kerap kali diksi (pilihan kata) sangat mempengaruhi nyawa dan jiwa sebuah literasi, asal saja dengan kalimat yang muda dipahami. Akan tetapi nyawa dan jiwa sebuah karya, klimaksnya amat ditentukan oleh “makna” ataukah “pesan” yang akan disampaikan oleh penulisnya. Yang demikianlah menjadi penyebabnya, seseorang akan merasa bermanfaat membaca karya tersebut, sebab hati dan pikirannya meruah, seolah-olah sang penulis sedang berbicara, hadir di depannya.

Dunia fiksi adalah dunia emosi, pembaca kerap dibuat marah, sedih, bahkan tak sadarkan diri ia akan menitikan air mata. Di situlah hebatnya sang penulis mengaduk-aduk hati pembacanya.

Literasi Opini

Bagaimana dengan artikel yang bukan berlatar fiksi, seperti artikel biasa lainnya, khususnya opini? Apakah dibalik itu juga memerlukan resep literasi? Ya… itu sudah pasti.

Bahkan dalam beberapa opini yang sering ditulis oleh penulis kawakan seperti Yudi Latif, Hamid Awaluddin, Reza Indragiri Amriel. Tulisan mereka sering menggunakan bahasa sastra, tetapi masing-masing tema perihal “ negara, hukum, dan psikologi” yang disampaikannya tidak menjadi hilang.

Di saat yang sama, memang ada pula yang memilih untuk menulis opini dengan bahasa datar-datar saja, tidak ada kata yang satir dan sarkastis. Namun bahasa dan kalimatnya runut, jiwa dan nyawa tulisannya pula tergambarkan melalui hasil olah pikirnya akan solusi dari masalah yang sedangmeresahkan dirinya.

Pada akhirnya dunia literasi adalah dunia kekayaan alam raya dengan segala isinya. Mereka yang hobinya mengumpulkan berita, lebih cocok jadi wartawan, bukan penulis opini. Penulis opini, namanya saja opini maka sebuah tunutan kepadanya untuk mengemukakan pendapat dan usul pribadi yang belum lazim diketahui oleh banyak orang.

Kita bisa berkaca pada karya cipta lainnya dalam memahami betapa pentingnya “nyawa dan jiwa” dari karya itu sendiri. Ebit G. Ade adalah seorang penyanyi dengan karya tak pernah dilapuk oleh zaman, karena lagu yang diciptakannya penuh makna, bukan hanya bagi dirinya tetapi juga para pendengarnya. Silahkan putar sendiri lagunya yang berjudul “Camelia.” Ataukah kita juga bisa belajar dari kegigihan Leonardo Da Vinci melalui karya lukisannya “Mona Lisa” yang dikerjakan selama bertahun-tahun, dan hingga kini lukisan bergambar manusia itu masih simpang siur, entah berjenis kelamin apa. Jika lagu dan karya menjadi tenar, maka demikian halnya dengan “tulisan” di saat penciptanya mampu meniupkan nyawa dan jiwa ke dalam karyanya itu. 

Pilihannya, mau menjadi penulis dengan motif ketenaran, tetapi mengabaikan resep literasi, sebaiknya memikirkan dulu untuk terjun dalam profesi ini. Hanyalah pada jiwa yang resah, sedang terasuki gelisah, akan merasakan betapa bahagianya dengan menuliskan apa yang ada di hati, jiwa dan benaknya.*


Oleh: Damang Averroes Al-Khawarizmi
Penulis dalam Kumpulan cerpen “Menetak Sunyi"

Artikel ini Juga muat di harian Tribun Timur, 14 Oktober 2015
Sumber: makassar.tribunnews.com 






[Read More...]


Return to top of page Copyright © 2011 | Platinum Theme Converted into Blogger Template by Hack Tutors