0 Tribun Timur di Pusaran Konstitusi (Refleksi Milad HUT Tribun Timur ke-14)



Sebongkah memori itu kembali berkisah dan begelayut 14 tahun silam. 9 April 2003 dalam temaran reformasi, masih hangat di jantung para jurnalis yang memegang tampuk idealismenya. Tribun timur menetas dari awak media nasional, suatu harian yang sudah cukup melegenda, yaitu harian kompas dengan tagline hati nurani rakyat.

Sadar akan kelahirannya di episentrum daerah yang masih dipandang sebelah mata. Koran yang digagas oleh Thamzil Thahir dkk, menubuatkan tekstur konstitusi dalam pengejawantahan kemerdekaan berserikat, satu untuk semua. Lain dari pada yang lain, nomenkalatur yang digunakan sebagai “spesies” koran lokal bukan dengan sebutan “Tribun Makassar,” tetapi tribun timur.

Mengapa tribun timur? Ini soal kebersamaan, cita rasa kolektivitas yang menjadi cita-cita dasarnya. Tribun timur bukan hanya untuk kota Ujung Pandang (sekarang Makassar), bukan hanya untuk Provinsi Sulawesi Selatan. Namun semuanya mencakup provinsi di daerah timur (Sul-Tengah, Sul-Utara, Sul-Tenggara, Sul-Barat). Dari timur akan terus mendendangkan suara-suara “kemajemukan” rakyat Indonesia.

Satu dari sekian banyak berita yang diwartakan Tribun Timur menjadi bukti empirik kalau media yang lahir pasca reformasi ini sudah banyak “makan garam” dan tenggelam dalam pusaran konstitusi. Adalah hak dan kebebasan setiap orang untuk berekspresi dan menyatakan pendapat, tribun timur selalu berada di garda terdepan.

Kisah pilu seorang anak yang berani melakukan otokritik kepada penguasa seperti Fadli Rahim, oleh tribun timur secara massif mengekspos pemberitaan tentang itu. Juntrungnya, meski Fadli Rahim harus divonis bersalah oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Sungguminasa (Gowa), ada sebuah titik kompromi majelis hakim. Fadli Rahim divonis dengan pidana penjara berdasarkan akumulasi masa penahanan yang telah ia jalani. Fadli Rahim tidak perlu lagi menjalani masa-masa pemidanaan di lembaga pemasyarakatan pada waktu itu.

Saat hukum menjadi pragmatis dan otoritarian. Saat penguasa menggunakan kekuatannya. Media sekelas tribun timur menjadi institusi penekan terhadap kejamnya hukum dan kekuasaan kepada orang yang tak berdaya.

Bukan hanya itu eksistensi tribun timur yang menjadi dasar untuk ditempatkan sebagai media yang konstuktif dan konstitutif. Tribun timur merupakan media yang prediktibel dalam memproteksi tunas muda anak bangsa dari serangan narkotika. Tribun timur tidak pernah alpa memotret penyalahgunaan narkotika yang didalangi oleh beberapa bandar besar di kota Makassar.

Berbagai kasus korupsi tanah air, dari kota hingga tingkat kabupaten juga tak luput dari eskalasi pemberitaan tribun timur. Kerja-kerja keras demikian patut diacungi dua jempol, terutama bagi wartawannya yang terus begerilya dalam memburu tiap proses penegakan hukum, dari penyelidikan, penyidikan, penuntutan, hingga vonis inkra pengadilan.

Mereka yang tidak diberikan hak untuk mengakses informasi dan pelayanan publik di beberapa sentrum kekuasaan menjadi terpuaskan dahaga dan rasa laparnya. Selain transpransi dan akuntabilitas penegakan hukum dapat didapatkan melalui pemberitaan media cetak tribun timur. Kini dengan mudahnya pula mengakses berbagai kasus penegakan hukum aktual melalui portal: makassar.tribunnews.com.

Jika setiap orang sebelumnya tidak mau peduli dengan banalitas korupsi ini. Maka dengan hadirnya tribun timur, kemudian orang pada turut perihatin dengan berbagai aksi pemalakan harta rakyat di setiap institusi pemerintahan. Pilihan tribun timur dalam upaya penegakan hukum bukan dengan jalan klasik sebagaimana ungkapan Feurbach, hukum bertujuan untuk menakut-nakuti. Lebih dari pada itu semua, fungsi pencegahan kejahatan korupsi yang menjadi kewenangan komisi anti rasuah telah dijalankan oleh tribun timur dalam bentuk pendidikan anti korupsi secara dini.

Pilkada dan Pemilu

Salah satu amanat konstitusi pasca reformasi adalah kembalikan kedaulatan rakyat. Tak perlu dinyana lagi media lokal setaraf tribun timur selalu berinovasi demi pemenuhan hak konstitusional yang demikian itu.

Sejak pertama kalinya Pilpres dan Pileg secara langsung digelar pada 2004 silam, tribun timur sudah turut mewarnai sejarah pemilihan dari awal hingga akhir. Tak lupa, selalu dilibatkan pula akademisi tanah air dalam memberikan sumbangsi pemikirannya di laman tribun timur mengenai sengkarut dan perkara pemilu dalam proses transisinya.

Tahun 2005 juga sejak pertama kalinya dihelat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara demokratis (langsung). Tribun timur tidak pernah menunjukan keberpihakannya kepada satu pasangan calon saja. Semua kepentingan para pemangku diakomodasi dalam rangka menjembatani fungsi pendidikan politik bagi rakyat pemilih.

Sudah dua hajatan gelombang pilkada serentak berlalu. Ada banyak peristiwa Pilkada 2015 dan Pilkada 2017 sudah didokumentasikan dalam media cetak dan media online tribun timur. Sejarah tidak akan pernah kabur dan hilang dari memori kolektif publik sepanjang media tanah air tidak pernah menarik diri dan pamit dari para pembacanya. Itulah tribun timur yang mampu bertahan dalam berbagai piranti dan kemajuan tekhnologi.

Makin hari tribun timur semakin jaya pula. Kesungguhannya untuk menjalankan fungsi netralitas media benar-benar terwujudkan hingga hari ini. Tidak ada pemihakan terhadap satu elit politik saja. Simaklah kolom Tribun Pilkada yang selalu disajikannya. Ada kolom pemberitaan khusus untuk setiap pasangan calon kepala daerah. Lagi-lagi pekerjaan demikian sebagai wujud tribun timur dalam menjembatani setiap calon pemilih untuk Pilkada 2018 mendatang. Pemilih memiliki hak untuk mengetahui seluruh jejak rekam para calon, sebelum hajatan hari “H” dimulai.

Etape sejarah kolektifitas bangsa akan terus bergerak ke depan. Hajatan pemilihan umum (Pemilu) secara kumulatif melalui keserempakan Pileg dan Pilpres, makin hari suhu perpolitikannya makin memanas. Kita tentunya menaruh harapan agar tribun timur terus tenggelam dalam pusaran konstitusi pemilu. Dari timur spirit konstitusi akan terus bergelora. Tribun Timur jayalah dikau selalu.

Happy Anniversary Tribun Timur Ke-14. 


Oleh: Damang, S.H., M.H.

Penulis






[Read More...]


0 Happy Aniversary Tribun Timur (Refleksi Milad HUT Tribun Timur ke-14)




Setahun yang lalu saya pernah menulis opini dengan judul “Ketika Aku Jatuh Cinta Pada Tribun Timur,” bersamaan dengan momentum aniversary Tribun Timur. Dan tidak terasa hari kelahiran koran dengan tagline “Spirit Baru Makassar” itu terulang lagi bulan ini (9 Februari 2018), dalam usianya yang ke-14.

Mengawali tulisan ini saya kembali ingin mengucapkan terima kasih kepada Tribun Timur yang tiada tara dan setulus-tulusnya. Saya bukan siapa-siapa andai bukan karena Tribun Timur yang sering memuat beberapa opini saya. Orang banyak mengenal saya, semuanya karena Tribun Timur.

Sebagai penulis yang tidak bergelar doktor dan berpredikat profesor, serta latar belakang nama yang “besar,” sedianya banyak penulis yang jarang dimuat opininya di sebuah koran dengan nama “besar” pula. Namun itu tidak berlaku bagi Tribun Timur, siapapun anda kalau memiliki gagasan yang aktual, yakin saja Tribun Timur pasti akan mempertimbangkan untuk memuatnya.

Semuanya berdasarkan pengalaman pribadi saya, dimulai tahun 2012 hingga saat ini dengan rutin mengirim opini ke Tribun Timur, sudah puluhan artikel saya selalu mengisi kolom Tribun Opini. Dan lagi-lagi saya bukan siapa-siapa untuk Tribun Timur. Tribun Timur bukan hanya berimbang dalam pemberitaan, tetapi berimbang pula dalam pemuatan opini para penulisnya.

Di Tribun Timur, kita bisa menemukan nama-nama dari penulis beken dan senior seperti Aswar Hasan, Kasim Mathar, Dahlan Abu Bakar, Supa At’hana (Supratman), Ilham Kadir, Rahmad Arsyad dan Abdul Karim. Kemudian dimbangi dengan penulis muda pula, diantaranya: Fadlan L Nasurung, Arifuddin Balla, dan Syamsul Arif Ghalib. 

Tribun Timur adalah Koran yang membakar spirit anak-anak muda, membakar spirit “penulis pendatang baru” untuk tidak malu menampilkan “karyanya.” Tiap tahun, ada banyak anak-anak muda yang diakomodasi oleh Tribun Timur. Selalu memunculkan wajah-wajah penulis baru, entah dari mahasiswa/i di sebuah perguruan tinggi, entah dari beberapa forum-forum penulis Makassar.

Geliat perkembangan Tribun Timur setiap tahunnya banyak memunculkan inovasi. Laman portal Tribun Timur online kini berada di garda terdepan memanjakan para pembacanya. Mulai dari berita lokal hingga berita nasional kita bisa dapatkan 24 jam dengan edisi pemberitaan aktual. Hampir tiap menit ada postingan terbarunya.

Saya memiliki keyakinan bahwa Tribun Timur tidak akan mengalami senjakala sebagaimana yang melanda beberapa koran lainnya, tutup usia, dan memohon pamit dari para pembacanya. Tribun Timur mampu berpacu mengikuti perkembangan tekhnologi guna menghadirkan berita yang diburuh oleh setiap pembaca.

Boleh saja orang beralibi bahwa penjualan koran cetak saat ini sudah mulai menurun. Mungkin bisa berimbas pada omzet dan keuntungan sebuah percetakan Koran. Namun itu tidak berlaku dalam kamus “Tribun Timur,” dengan harga koran cetaknya yang murah, kita masih bisa menemukan beberapa orang yang langganan dengan Koran Tribun Timur. Bahkan dengan bergesernya beberapa orang ke media online, Tribun Timur sama sekali tidak menunjukan kemunduran. 

Tengoklah gedung megah yang dimiliki Tribun Timur adalah salah satu jawaban catur kesuksesannya. Setiap pegawai Tribun Timur makin dimanjakan dengan ruangan ber-AC-, tamu dijemput penuh dengan kehormatan. Sesekali di gedung megah ini menjadi ruang diskusi pula bagi para akademisi yang tergabung dalam forum dosen Tribun Timur.

Apa yang tidak ada di Tribun Timur? Sulit untuk menjawab kekurangannya. Sebab Tribun Timur sudah menyiapkan semuanya. Ada tribun nasional, ada tribun bisnis, ada tribun iklan, ada tribun melenial, ada tribun kampus, ada tribun Pilkada, ada Super Ball, ada Tribun Opini, Tribun Jual Beli, dan Tribun PSM. 

Satu kekaguman saya untuk Tribun Timur sebagai Koran lokal terbesar di Indonesia Timur, ia mampu menunjukan netralitasnya dari perhelatan gelombang ketiga Pilkada Serentak 2017. Satu-persatu calon kepala daerah diberikan tempat khusus pemberitaan. Baik Pilwakot Makassar maupun Pilgub Sul-Sel, setiap calon memiliki kolom tersendiri. 

Media ini telah berada di garda terdepan dalam memberikan pendidikan politik, bukan hanya kepada calon, tetapi juga untuk pemilih. Setiap pemilih lagi-lagi sangat dimanjakan untuk menjajaki setiap calon kepala daerah yang berlaga dalam kontes pemilihan nanti.

Tribun Timur tidak butuh perintah, tidak butuh undang-undang untuk menjadi media yang menjalankan fungsi pendidikan politik. Melalui Tribun Pilkada dan Portal Tribun Makassar online, Koran ini telah melakukan sosialisasi secara masif kepada setiap penduduk wajib pilih. Bukan hanya mengingatkan hari “H” Pilkada, tetapi lebih dari itu telah bertindak sebagai komunikator ulung dalam menampilkan rekam jejak setiap calon kepala daerah.

Khusus dari saya, izinkan saya mengucapkan banyak terima kasih kepadamu, duhai Tribun Timur di hari ulang tahunmu yang ke-14 ini. Tanpa Tribun Timur saya tidak tahu kemana harus menumpahkan segala gagasan “hukum” yang saya tekuni selama ini. Tanpa Tribun Timur saya tidak tahu kemana saya harus menumpahkan unek-unek saya. Tribun Timur merupakan satu-satunya koran di Makassar yang sering memuat tulisan saya.

Saya selalu diperlakukan dengan hormat saat meminta honor tulisan. Tribun Timur selalu tahu hak-hak dari penulisnya. Melalui tulisan ini, saya juga menyelipkan rasa dan hatur terima kasih saya kepada “kasir” Tribun Timur yang tidak pernah marah, jika setiap akhir tahun menanyakan honor tulisan saya.

Di saat beberapa Koran yang sudah merasa besar, kini sudah mengkapitalisasi laman E-Paper-nya. Tribun Timur sama sekali tidak melakukannya. E-Paper Tribun Timur bisa diakses oleh siapa saja secara gratis. Saya yang kadang tidak mampu membeli koran cetak Tribun Timur, baik karena kekurangan saldo maupun karena koran cetaknya cepat habis terjual, berkat E-Paper Tribun Timur bisa mengecek tulisan saya yang dimuatnya.

Tribun Timur tidak meluluh memuat opini tentang kesehatan, tentang pangan, tentang impor beras, tentang polemik profesor, tentang politik, tentang hukum. Semua tema mendapatkan tempat berdasarkan hangat dan aktualnya pelbagai peristiwa.

Tribun Timur jayalah dikau selalu. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan ridhonya kepadamu. Bendera “Tribun” akan terus berkibar dari “Timur” dalam slogan “Spirit Baru Makassar.” Happy Aniversary Tribun Timur Ke-14. (Dmg)


Oleh: Damang Averroes Al-Khawarizmi

Penulis & Owner negarahukum.com


[Read More...]


0 Purnama, Rara, Mentari, Randi, dan Fandi (Dua Novel Mira Pasolong)





“Jika engkau ingin mengetahui kedalaman hati seseorang, bacalah karya-karyanya, sekali-kali mungkin tokoh utama dalam cerita itu tentang dirinya.”


Perkenankan saya memohon maaf sebelumnya kepada penulis novel yang berjudul “Kau, Aku, Bukan Kita.” Betapa saya mengalami kekecewaan berat setelah membacanya, hanya dalam waktu dua jam pasca novel tersebut tiba di tangan saya.

Dan sebab kekecewaan itu, ibarat kita pernah membaca sebuah novel, kemudian menonton cerita dari novel tersebut dalam sebuah potret “film.” Ternyata tidak sama dengan cerita di dalam novel.

Memang berbahaya jika kita punya sikap selalu membanding-bandingkan, tidak akan pernah sampai pada kesempurnaan. Seperti sikap seorang Rara yang selalu membanding-bandingkan Randi dan Fandi. Fandi dominan dalam hal kekayaan, tetapi soalnya ia datang terlambat mengisi relung hati Rara. Sebaliknya, Randi berasal dari keluarga yang kurang berada, tetapi soal rasa, rasa itu tak perlu dipertanyakan, sebab sedemikian lamanya telah tertancap di sana.

Saya dilanda penyakit “Rara” dengan sangat terpaksa membanding-bandingkan pula antara “Purnama di Langit Bissorang” dengan “Kau, Aku, Bukan Kita.”

Harapan saya, sebelum membaca novel “Kau, Aku, Bukan Kita” saya menginginkan terlempar ke sebuah dunia yang tidak pernah kukenali sebelumnya. Sangat menginginkan sebuah situasi: sepi dan akut. Ringkasnya, kehendak saya adalah ingin meleburkan diri dalam situasi penuh emosional sebagaimana yang sedang melanda sang toko utama.

Ternyata Rara tidaklah mengalami guncangan batin yang sedemikian hebatnya seperti yang pernah dialami oleh “Purnama,” adalah separuh hidupnya dilampiaskan dengan berpuasa, tidak akan pernah melihat “matahari.” Rara hanya orang biasa, kaya, anak semata wayang, dan segala hal yang berbau materi dengan gampang ia bisa mendapatkannya, kecuali dalam hal “cinta,” mungkin itu terasa sulit baginya.

Pertemuan Rara dan Randi tidaklah seheboh atau semewah, pertemuannya Mentari dengan Purnama. Memang empat insan manusia itu sama-sama diikat oleh tali-temali persahabatan. Jika Rara dan Randi bersahabat, itu diluar kebiasaan, karena jenis kelamin yang berbeda, was-was akan ada benih cinta yang tumbuh di sana. Tidak berlaku demikian, antara Mentari dengan Purnama, sama-sama sebagai kaum hawa, persahabatannya sulit melahirkan cinta. Aneh namun itu terjadi, jutru kebencianlah yang melahirkan cinta diantara mereka.

Rara dan Randi bersahabat tidak memiliki “rahasia” yang sama. Kemudian rahasia itu pada akhir cerita akan terungkap semuanya. Berbeda antara Purnama dengan Mentari, keduanya adalah wanita yang pernah diceraikan oleh rupa lelaki nan sama. Dan pada akhirnya, rahasia itu terbongkar juga.

Membaca novel Purnama di langit Bissorang seakan-akan saya diseret dalam oase, sebuah cerita dari novel yang berjudul “Penantian Seorang Perempuan” karya Aguk Irawan. Ada rahasia di atas rahasia yang akan terbongkar dengan sendirinya diakhir cerita. Ada seorang perempuan yang dimadu oleh lelaki, dan ternyata “madunya” itu adalah saudara sekandung bapaknya sendiri di tanah seberang. Di Novel “Purnama di langit Bissorang:” ada seorang perempuan yang bersahabat, bahkan hidup seolah-olah sebagai saudara kandung, dan ternyata keduanya adalah wanita yang pernah dihianati oleh “hidung belang lelaki” yang sama.

“Kau, Aku, Bukan Kita” adalah kredo yang bisa menjadi pilihan kepada muda-mudi untuk menyatakan rasa yang amat sulit terkatakan. Kredo tersebut jika dipositifkan maka akan berbunyi: “Kau dan aku adalah kita.” Di saat yang sama kredo tersebut dapat pula menjadi kalimat yang bermuatan penghormatan, bagi suku Bugis – Makassar dalam kedudukan sama satu dengan lainnya.

“Kau, Aku, Bukan Kita” adalah sebuah pengingkaran, sebuah penghianatan terhadap rasa yang tidak menghendaki “tabungan” kebencian. Sebab benci itu beda tipis dengan cinta, kalaupun tidak bisa, apa boleh buat, sahabat pun tidak mengapa.

“Kau, Aku, Bukan Kita” tidak mampu melempar sang pembaca dalam dualitas kehidupan. Tidak ada rasa mencekam yang sekali-kali datang mengiris hati, hingga berakhir pilu. Itu, yang tidak ada di novel “Kau, Aku, Bukan Kita” sebagaimana hadirnya kecaman dunia dan ummat manusia kepada seorang perempan yang bernama Purnama. 

Bagi mereka yang pernah membaca Novel: “Bukan Pasar Malam” karya PAT, mungkin bisa membandingkan cerita dan geliatnya, bahwa suasana ketakutan itu kadang-kadang berperan pentiing dalam mengaduk ruah dan rasanya para pembaca.

Jika di Novel: “Purnama di Langit Bissorang” kak Mira memilih untuk mengunci pintu cerita seerat-eratnya, Purnama dan mentari berbahagia, menjelma dalam kerabat keluarga, ada barter nama diantara anak-anaknya. 

Berbeda halnya di Novel: “Kau, Aku, Bukan Kita” kak Mira jauh lebih egaliter, menyerahkan kisah Rara ke pada para pembaca. Apakah Rara akan menikah dengan Fandi? Ataukah Rara akan menikah dengan Randi? Ataukah Rara akan meninggal sebagai tokoh utama? Akh… mungkin tidak, karena Kak Mira, bukanlah Kak dul abdul rahman, walau keduanya lebih banyak kukenal berkat karya-karya spektakulernya.





Makassar, 4 November 2012

Oleh: Damang Averroes Al-Khawarizmi









[Read More...]


0 Jonru, Jemarimu, Jerujimu



Apes bagi Jon Riah Ukur alias Jonru Ginting alias Jonru pasca menghadiri undangan acara ILC dalam tema “Halal-Haram Saracen'” yang diselenggarakan oleh salah salah satu stasiun TV swasta. Dia pasti tidak pernah menduga kalau postingannya di berbagai laman media sosial yang banyak menyudutkan Presiden Jokowi akan terseret dalam buntut persoalan hukum semakin panjang.

Jika dilacak beberapa postingan Jonru yang kini mengancamnya dalam jerat pidana, setidak-tidaknya terindikasi dalam dua tindak pidana Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Pertama, sebagai penggiat media sosial yang memiliki 1,47 juta follower, saat menuliskan status yang menyatakan bahwa asal-usul orang tua Jokowi tidak jelas, dapat dikualifikasi sebagai tindak pidana penghinaan melalui ITE (Pasal 27 ayat 3 UU ITE). 

Perbuatannya tidak dapat dikualifikasi sebagai penghinaan terhadap Presiden, sebab selain tempus delicti-nya, yakni saat Jokowi masih dalam status sebagai calon Presiden, juga ketentuan penghinaan terhadap Presiden dalam KUHP sudah dibatalkan melalui Putusan MK Nomor 013-022/PUU-IV/2006. Jadi, pun kemudian kalau Jonru di jerat dengan tindak pidana penghinaan, hanya penghinaan terhadap individu dengan instrumen elektronik.

Kedua, dalam salah satu postingan lainnya Jonru menyebut “PBNU diduga menerima uang sogokan Rp1,5 triliun terkait dengan terbitnya Perppu Ormas.” Jika dilihat dari content postingan ini, selain dapat memenuhi tindak pidana penghinaan dalam hal yang berhubungan dengan agama dan penghinaan terhadap golongan penduduk Indonesia tertentu, juga memenuhi sebagai tindak pidana penyebaran informasi yang menimbulkan rasa kebencian berdasarkan SARA dengan menggunakan media elektronik (Pasal 28 ayat 2 UU ITE).

Ujaran Kebencian

Jika ditelusuri kemudian perundangan-undangan yang terkait dengan ujaran kebencian, yang menggunakan istilah ujaran kebencian, hanya terdapat dalam Surat Edaran Kapolri Nomor SE 6/X/2016 tentang Penanganan Ujaran kebencian (hate speech). 

Di dalam ICCPR 1966 yang telah diratifikasi melalui UU No. 12 Tahun 2005 hanya terdapat frasa “menganjurkan kebencian,” beda halnya dalam Pasal 16 UU 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Dikriminasi Ras dan Etnis menggunakan frasa “menunjukan kebencian.” Lain pula dengan Pasal 28 ayat 2 UU ITE yang menggunakan frasa “menimbulkan rasa kebencian.”

Dalam KBBI (1995:1096) ujaran diartikan kalimat atau bagian kalimat yang dilisankan, sehingga kalau mau diartikan hate speech, ialah suatu kalimat yang dilisankan mengandung kebencian. Agak susah kemudian defenisi ini digunakan jika suatu perbuatan menyebarkan informasi yang mengandung kebencian dilakukan melalui ITE, sebab perbuatan yang menyebarkan informasi melalui elektronik lazimnya dengan cara tertulis.

Kendatipun Jonru dapat pula dijerat dengan UU tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan etnis, dalam ancaman pidana penjara 5 tahun dan/atau denda lima juta rupiah, akan tetapi dengan menggunakan asas hukum lex specialist sistematis, maka yang lebih khusus memenuhi dugaan perbuatan pidananya hanya dengan tindak pidana berdasarkan UU ITE. 

Sementara kalau berdasarkan Pasal 20 ayat 2 UU No. 12 Tahun 2005 mustahil untuk menjerat si pelaku, oleh karena ketentuan tersebut tidak memiliki ancaman hukuman (lex imperfecta).

Setepat-tepatnya, Jonru hanya bisa dijerat dengan tindak pidana ITE dalam dua kualifikasi sebagaimana yang telah disebutkan di atas, yaitu penghinaan berkualifikasi Penistaan tertulis (smaad schrift) terhadap individu melalui elektronik (Pasal 27 ayat 3 UUITE) dan penyebaran informasi yang menimbulkan rasa kebencian (Pasal 28 ayat 2 UU ITE). 

Jika dua-duanya perbuatan teresebut terbukti di hadapan persidangan, maka dengan menggunakan sistem kumulasi verscherpingsstelsel, maksimun pidana penjara yang dapat dijatuhkan kepadanya, yaitu 8 tahun. Angka 8 tahun tersebut, didapat dari pidana terberat adalah tindak pidana penyebaran informasi yang menimbukan kebencian 6 tahun, di tambah sepertiga dari 6 tahun, yakni 2 tahun. 

Unsur Delik

Dari segi bestandel delict, atau unsur deliknya mudah saja untuk membuktian bahwa perbuatan Jonru telah memenuhi Pasal 28 ayat 2 UU ITE. Mengenai unsur kesengajaan, yaitu cukup sipembuat mengetahui dan menghendaki perbuatannya (willen en weeten). 

Sipelaku dalam kasus a quo sudah pasti mengetahui atau sepatutnya menduga bahwa dari perbuatan menulis status di laman media sosial akan tersebar ke khalayak, juga akan menimbulkan rasa kebencian berlatar SARA. 

Demikian halnya dengan menggunakan teori menghendaki, bahwa apa yang dilakukan si pembuat dalam keadaan sadar, tidak ada pihak yang melakukan pemaksaan agar perbuatan pidana itu terwujud secara sempurna.

Jika kemudian si pelaku beralasan bahwa perbuatannya belum menimbulkan akibat. Pun sipelaku dalam konteks itu tidak dapat berlindung dibalik alibinya, sebab selain ketentuan tersebut merupakan delik formil, juga berlaku asas hukum “kesengajaan dapat dihukum walaupun kehendak atau tujuan tidak tercapai (affectus punitur licet non sequator effectus).”

Patut disayangkan jerat hukum yang kini sedang membuntuti pegiat kondang media sosial tenar itu karena kontranya dengan setiap kebijakan Presiden Jokowi. Kepolisian baru bertindak setelah ada pihak yang melaporkan perbuatan Jonro, Muannas Al Aidid. Padahal tindak pidana yang diduga dilakukan oleh Jonro, selain merupakan delik biasa, seharusnya diupayakan tindakan preventif terlebih dahulu (Vide: SE Kapolri SE No 6/X/2015).

Kemalangan harus diterima Jonru seorang diri, jemarimu adalah jerujimu. Bukan hanya mulut berlisan yang bisa mengantarmu ke balik jeruji, tetapi jemari yang mampu menuliskan kalimat penghinaan dan kebencian di media sosial dapat pula mengantarkanmu untuk merasakan “nikmatnya” hotel prodeo. Waspadalah...!!!

Telah Muat di Harian Tribun Timur,  3 Septmber 2017

DAMANG AVERROES AL-KHAWARIZMI





[Read More...]


Return to top of page Copyright © 2011 | Platinum Theme Converted into Blogger Template by Hack Tutors