0 Memanusiakan Literasi




Di dunia ini banyak penulis, tetapi kurang karena karyanya akan menjadi tenar dalam jagat literasi. Dalam dunia sastra beberapa nama penulis yang cukup populer, diantaranya: Sir Walter Scott (1771-1832 ), Emile Zola, Victor Hugo (1802-1885), Alexander Dumas (1802-1870), Charles Dickens (1812-1870),Leo Tolstoy (1828-1910), Oscar Wilde (1854-1900), Rabindranath Tagore (1861-1941), Rudyard Joseph Kipling (1865-1936), Maxim Gorky (1868-1936), Jack London (1876-1916), Frans Kafka (1883-1924), Ernest Hemingway (1899-1961),John Ernst Steinbeck (1902-1968), Jean Paul Sartre (1905-1980), Albert Camus (1913-1960).

Mungkin nama-nama yang saya sebutkan di atas, masih banyak yang tidak mengenalnya. Maka marilah kita menoleh ke sastrawan kita sendiri, seperti Pramoedya Ananta Toer dan Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka). Disampng kedua sastrawan tersebut pernah berseteru di zamannya, pasti kedua-duanya tak ada yang mengingkari kalau karya-karyanya menjadi abadi, disukai oleh banyak orang, kendati sudah berpuluh-puluh tahun dijemput maut.

Tingkat kedisukaan suatu karya hingga mampu melintasi zamannya, tiada lain disebabkan oleh sang empunya sendiri yang meniupkan jiwa dalam karyanya. Simaklah salah satu karya Pramoedya yang berjudul “Gadis Pantai” satu persatu kalimatnya tersusun rapi menceritakan tentang feodalisme masyarakat Jawa yang dilakukan oleh golongan priyayi pada saat itu. 

Senada dengan itu pula, percikan jiwa Hamka dapat ditelusuri dalam salah satu novelnya “Terusir” yang mengisahkan seorang perempuan diusir oleh suaminya, hidup dalam dunia pelacuran, tetapi cinta pada sang anak membawanya di meja persidangan hingga kematian menjemputnya pula.

Resep Literasi

Kata kuci yang menjadi resep literasi, ciptakanlah sebuah karya ibarat manusia. Memanusiakan literasi. Jika organ tubuh manusia memiliki susunan, organ-organ tubuh, panca indera, sistem pernafasan, sistem pencernaan, semuanya itu tersusun secara sitematis. Maka, demikian halnya dengan karya yang bernama “tulisan” susunlah kalimatnya secara sistematis pula. Sebab kalimat yang tiada terangkai, tidak memiliki hubungan sama sekali,sistemnya mustahil terbentuk.

Sulit, memang perkara sulit, merangkai kalimat dengan kalimat selanjutnya tidak segampang merangkai kata. Tetapi pada intinya jika anda mampu merangkai kalimat tanpa menggunakan lagi kalimat penghubung, pada poin itu sesungguhnya anda telah menapaki tingkatan penulis yang patut disimpan namanya “di hati” pembaca.

Seringkali saya membaca artikel, kalimatnya tak ada keterkaitan dengan kalimat sebelumnya, porak-poranda di sana-sini, bahkan antar pragraf tidak terdapat sinkronisasi. Sehingga terpaksa harus membacanya berulang-ulang. Bagaimana dengan pembaca yang malas mengulang-ulang? Sudah pasti akan menghentikan untuk membaca karya tersebut, sebab sang empunya karya tidak pernah memahami kemauan dan rasa sang pembaca. Jangan marah jika pada akhirnya, karya semacam itu akan dilempar ke tong sampah. Itu, karena anda sendiri sebagai penulis terlalu egois dengan bahasa (yang mungkin) terasa bombastis, tetapi apa guna kalau pembaca tiada memahaminya.

Soal menarik dan bagusnya suatu karya cipta bukanlah ditentukan oleh gelar sarjana, magister, doktor, bahkan professor. Mau tidak mau, bagi penulis yang sudah terkenal akan membeberkan resep literasi, bahwa yang namanya menulis butuh kerja keras ekstra, latihan, dan ketelatenan. Salah besar, jika media tertentu hanya mengutamakan memuat sebuah karya di hariannya dengan gelarnya semata, tanpa memperhatikan substansi tulisannya yang bisa dipahami oleh pembaca.

Paling penting di atas semua itu, selain kalimatnya terangkai secara sitematis, maka manusiakanlah literasi dengan memberilnya nyawa dan jiwa. Bernyawa dan berjiwanya sebuah tulisan merupakan satu kesatuan dengan kalimatnya yang saling berangkai. Jadikanlah tulisan anda mengalir ibarat air yang jernih, deras mengalir, semakin deras alirannya maka semakin larutlah pembaca dalam tulisan itu.

Kerap kali diksi (pilihan kata) sangat mempengaruhi nyawa dan jiwa sebuah literasi, asal saja dengan kalimat yang muda dipahami. Akan tetapi nyawa dan jiwa sebuah karya, klimaksnya amat ditentukan oleh “makna” ataukah “pesan” yang akan disampaikan oleh penulisnya. Yang demikianlah menjadi penyebabnya, seseorang akan merasa bermanfaat membaca karya tersebut, sebab hati dan pikirannya meruah, seolah-olah sang penulis sedang berbicara, hadir di depannya.

Dunia fiksi adalah dunia emosi, pembaca kerap dibuat marah, sedih, bahkan tak sadarkan diri ia akan menitikan air mata. Di situlah hebatnya sang penulis mengaduk-aduk hati pembacanya.

Literasi Opini

Bagaimana dengan artikel yang bukan berlatar fiksi, seperti artikel biasa lainnya, khususnya opini? Apakah dibalik itu juga memerlukan resep literasi? Ya… itu sudah pasti.

Bahkan dalam beberapa opini yang sering ditulis oleh penulis kawakan seperti Yudi Latif, Hamid Awaluddin, Reza Indragiri Amriel. Tulisan mereka sering menggunakan bahasa sastra, tetapi masing-masing tema perihal “ negara, hukum, dan psikologi” yang disampaikannya tidak menjadi hilang.

Di saat yang sama, memang ada pula yang memilih untuk menulis opini dengan bahasa datar-datar saja, tidak ada kata yang satir dan sarkastis. Namun bahasa dan kalimatnya runut, jiwa dan nyawa tulisannya pula tergambarkan melalui hasil olah pikirnya akan solusi dari masalah yang sedangmeresahkan dirinya.

Pada akhirnya dunia literasi adalah dunia kekayaan alam raya dengan segala isinya. Mereka yang hobinya mengumpulkan berita, lebih cocok jadi wartawan, bukan penulis opini. Penulis opini, namanya saja opini maka sebuah tunutan kepadanya untuk mengemukakan pendapat dan usul pribadi yang belum lazim diketahui oleh banyak orang.

Kita bisa berkaca pada karya cipta lainnya dalam memahami betapa pentingnya “nyawa dan jiwa” dari karya itu sendiri. Ebit G. Ade adalah seorang penyanyi dengan karya tak pernah dilapuk oleh zaman, karena lagu yang diciptakannya penuh makna, bukan hanya bagi dirinya tetapi juga para pendengarnya. Silahkan putar sendiri lagunya yang berjudul “Camelia.” Ataukah kita juga bisa belajar dari kegigihan Leonardo Da Vinci melalui karya lukisannya “Mona Lisa” yang dikerjakan selama bertahun-tahun, dan hingga kini lukisan bergambar manusia itu masih simpang siur, entah berjenis kelamin apa. Jika lagu dan karya menjadi tenar, maka demikian halnya dengan “tulisan” di saat penciptanya mampu meniupkan nyawa dan jiwa ke dalam karyanya itu. 

Pilihannya, mau menjadi penulis dengan motif ketenaran, tetapi mengabaikan resep literasi, sebaiknya memikirkan dulu untuk terjun dalam profesi ini. Hanyalah pada jiwa yang resah, sedang terasuki gelisah, akan merasakan betapa bahagianya dengan menuliskan apa yang ada di hati, jiwa dan benaknya.*


Oleh: Damang Averroes Al-Khawarizmi
Penulis dalam Kumpulan cerpen “Menetak Sunyi"

Artikel ini Juga muat di harian Tribun Timur, 14 Oktober 2015
Sumber: makassar.tribunnews.com 






[Read More...]


0 Nursal NS, Selamat Berbahagia Kawanku



10 sd. 11 Oktober 2016, karibku Muh. Nursal NS, hari, tanggal, bulan, dan tahun itu merupakan peristiwa penting bagimu. Jangan pernah kita “menghakimi” waktu, karena sesungguhnya pada waktulah kita banyak belajar tentang diri kita.

Seringkali saya mengatakan, bahwa salah satu yang sering dilupakan oleh manusia, adalah perkara “jodoh.” Soal kelahiran dan kematian janganlah ditanya, semua orang tahu pastinya kalau demikian sudah menjadi “sunnatullah.” Dengan melihatmu kawanku bersanding dengan wanita pilihanmu, semakin saya percaya jikalau yang namanya “jodoh” pun adalah kekuasaan Tuhan yang tiada dapat dielakkan.

Sekalipun hari bisa menjadi gelap, pastilah ia akan disiangi dengan cahaya mentari. Dan sekalipun langit merintihkan “hujannya” pada akhirnya juga akan redah pada waktunya.

Pada alam kita dapat belajar segala kemahaagungan-Nya. Diriku yang terlalu banyak “tidak tahunya” bahkan banyak belajar darimu. Engkaulah yang pernah menerangkan kepadaku jalan seorang “yuris” sehingga ia kemudian layak dikatakan sebagai yuris. Untuk konteks ini, sulit kututupi masih banyak hal yang harus kupelajari dirimu. Suatu waktu masih akan meminta waktumu, walau tidak sebanyak dahulu lagi, terangkanlah kepadaku jika ada soal dan perkara yang dalam nalarmu berbeda dengan pendapat dan pengamatanku.

Saya termasuk “kawan” yang paling inklusif, untuk perkara “pernikahan” sayalah (mungkin) pantas untuk dikatakan “egois” dan tidak pernah memerhatikannya sebagai “kebahagiaan” yang harus dirajut bersama. Hanya dan baru kali ini, seorang kawan yang baru kenal akrab setelah saya dan dirimu sarjana, betapa pentingnya bagi diriku untuk hadir di pesta pernikahanmu. Sebab mengapa? Saya sangat dan betapa percayanya pada yang namanya kekuatan doa, lamat-lamat doa yang selalu diutarakan kepada-Nya, yakin dan percaya pastilah ia akan menjawab-Nya.

Untukmu teman yang maaf jika saya harus mengatakan kalau dirimu terkadang “keras kepala,” egois, dengan pendapatmu sendiri yang tidak mau dianggap “salah.” Saya selalu “memakluminya” sebab dalam “sendiriku,” selalu dan selalu merenungkan kembali kata-katamu yang cukup dibalut dengan ‘argumentasi” logis, kerap memang harus demikian adanya.

Jika dirimu dalam keadaan “marah” pun saya tahu rumus pamungkasnya, engkau tak perlu dilawan, cukup dengan nada diam, beberapa saat setelah itu, engkau akan menyesalinya jika perbuatan dan tutur demikian memang tidaklah pantas. Berdosa dan kualat mungkin diriku, jika saya harus mengatakan kalau hal yang seperti ini haruslah dipelajari dan dipahami oleh istrimu.

Bukan teman, bukan sahabat, jika diantaranya tidak pernah berselisih paham, lalu setelah itu kembali menjadi akrab, tanpa menyimpan lagi rasa dendam di hatinya. Janganlah pernah menuntut maaf dari orang yang pernah membuatmu kesal, tetapi “maafkanlah” saja, sebab potensi teragung yang dimiliki oleh manusia, adalah merenungi kembali apa yang pernah diperbuatnya.

Sebagaimana lazimnya, ketika orang pada ramai mengucapkan selamat dan dendangan doa kepada dua insan yang dipertemukan dalam kasih dan sayangnya, maka terimalah jua ucapan dan doaku, berbahagialah dirimu selamanya, walau rasa-rasanya kata-kata ini sangat dan teramat miskin pada kenyataannya.

Sudah engkau tunjukan, bahwa “pernikahan” itu hanya butuh kesungguhan dan kemauan, bukan soal “finansial.” Akh..engkau terlalu berani kawan, tetapi apapun itu, saya harus percaya sebab di depan mataku sendiri, engkau mampu membuktikannya. Maka dari itu, jika memang saya harus melewati fase demikian, silahkanlah menyelipkan hasratku pula dalam setiap doamu. Sebab pada kekuatan doa-lah yang tidak akan pernah memisahkan diantara kita semua, yang kerap dimaknai waktu dan tempat selalu membatasinya.

Berlebihan anganku, kalaulah kebersamaan akan dipertemukan pada waktunya dalam “turunan” anak manusia yang jauh lebih dari kita pada hari-hari kemarin, saling adu “ilmu” dan pengetahuan, tentunya mereka itu jangan sampai melupakan “kuasa” di atas “kusa-Nya.”

Mengguruimu soal istri yang harus banyak belajar “agama Islam,” keluarga yang selalu berikrar “syukur” kepada-Nya, itu sangat berlebihan jika saya yang menyampaikannya. Engkaulah yang lebih banyak makan garam dan matang untuk soal demikian, lebih-lebih lagi engkau sudah menjalaninya, sementara diriku ini masih dalam batas rencana.

Kawanku...! pada hari-hari selanjutnya bukan lagi saya yang akan mengingatkan dirimu, mengurus makan siang dan malammu, sebab di sana sudah ada yang lebih berkapasitas untuk mengurusinya. Namun sewaktu-waktu jika engkau merasa kangen dengan “masakanku” yang ala kadarnya, datanglah sekali-kali berkunjung bersama dengan istrimu. Tak ada salahnya manusia mengingat “kenangannya” asal itu kebaikan dan menjalin silaturahmi toh akan bernilai “ibadah” di sisi-Nya. 

Tak perlulah engkau mendengarkan mereka, soal “suami-istri” harus begini, harus begitu, termasuk sayapun ada-ada saja perkataan yang tidak pantas soal itu. Jalani saja, asal engkau selalu mengedepankan agama Islam di pundakmu, maka ridho dan syafaat-Nya pastilah akan melimpahkan kurnia untukmu, terus-menerus.

Ada-ada saja “peristiwa” keluarga yang menjadi gonjang-ganjing di luar sana. Tetapi satu yang dapat kupelajari darimu kawan, janganlah sampai pertengkaran itu diketahui oleh orang-orang di luar sana. Untuk konteks ini, saya harus mengatakan sungguh memang benar dan lebih pantas jika harus dirahasiakan.

Tiada kebahagiaan, kalaulah tidak pernah dilanda kesedihan, dan tiada manfaatnya manusia dikaruniai kelebihan kalau tiada mampu belajar dari masa lalunya. Jangan pernah menghakimi masa lalu, sebab dengan masa lalu seorang akan menjadi pembelajar yang baik guna menyingkap segala tirai kemanfaatan yang dilimpahkan Allah yang maha kuasa.

Katanya, jika berselisih paham dengan pasanganmu, janganlah lelaki mengadu kepada wanita lain, demikian juga sebaliknya, janganlah wanita mengadu kepada lelaki lain. Kumandangkanlah adzan dan tunaikanlah shalat berjamaah bersamanya, mengadulah kepada Allah. Setelah itu silahkan bersitatap dengannya, di sana engkau akan menemui damai, cinta, dan kasih-sayang yang telah dianugerahkan kepadamu.

Semoga Allah menganugerahi anak dan cucu yang berpegang di tali agama, “Islam.” Perjuangan ini adalah perjuangan menegakkan kalimat “tidak ada Tuhan selain Allah.” Allah SWT, Tuhan penjaga semesta dan pemberi jalan yang akan menerangi hamba yang selalu memuji-Nya. 

Kawanku, Muhammad Nursal NS, maaf aku masih terbiasa menuliskan nama NS di belakang namamu, nama kedua orang tuamu, saya bangga dengan huruf itu (NS) sebab tanpa dia kita tidak akan pernah besar seperti ini. Hargai dia selalu, doakan dia selalu, penerangan jalan itu sungguh sangat berpengaruh berkat jasa dan segala amal baktinya, yang tiada pernah menagih balas budi.

Maafkan saya, jika anak yang junior ini terlalu banyak memberi nasihat. Pandanglah nasihatku sebagai doa. Saya harap engkau pula akan selalu berkenan menasihatiku ke jalan yang benar, doamu kuharap selalu menyertai juga niat baikku. 

Berbahagilah selalu kawanku, saudaraku.


Pinrang ---- Makassar, 12 Oktober 2016







[Read More...]


0 Ayam Jantan Penabur Rindu (Refleksi Milad Ke-60 Universitas Hasanuddin)



Kala malam merangkak fajar, riuh ayam jantan perkasa kini kembali menjagakan anak rantau dengan mersik kokoknya. Dari timur sedang terlirih bait-bait rindu, mereka yang telah melangkah jauh, perlahan dan pasti terpanggil kembali, tuk menemui tanah lapang dan kampung halamannya, di Universitas Hasanuddin (Unhas). Kampus kebanggaan kita semua.

Dan biarpun duka mendekam dalam nestafa, sekalipun layar terbentang surut kita berpantang, tetapi siapalah anak yang dibesarkan dalam rahim gagah berani, selama usia belum diusaikan oleh maut, tiada tenggelam di lautan, semuanya pasti akan rindu untuk merajut pertemuan di altar suci nan menawan itu.

Cerita kemudian meruah nan asa masa lalu, enam puluh tahun silam, 10 September 1956, Universitas Hasanuddin pertama kalinya diresmikan oleh wakil presiden RI pertama pula, Drs. Muhammad Hatta. Momentum 10 September itu kemudian tak pernah disia-siakan, dirayakan tetapi tidak menjadi lupa untuk selalu memancangkan Unhas yang jaya selalu.

Seakan menguak segala memori itu, Wakil Presiden RI, H. Mumahammad Jusuf Kalla, walau Makassar juga Unhas sebagai tanah permai kelahirannya, ia kembali merajut memori 60 tahun silam, antara JK dan Hatta sama-sama Wakil Presiden datang berkunjung ke markas ayam jantan dari timur itu. JK dan Hatta juga memiliki kesepadanan sebagai ekonom yang namanya sudah mendunia.

Entah mengapa, sang proklamator kemerdekaan itu pula, Ir. Soekarno yang begitu dikenal lihai menggali falsafah kebangsaan, ketika berpidato di Gubernuran Makassar (1954) menyarankan agar nama “Sultan Hasanuddin” yang tiada lain sebagai pahlawan nasional sekaligus raja Gowa XVI (1654-1670) kepincut untuk mengabadikannya dalam pendirian universitas negeri yang pertama itu di Ujung Pandang (sekarang Makassar). Demikianlah sebab-musabab sehingga orang di kampung, orang di kota, pada ramai menuntun anaknya agar menjadi bahagian dari Universitas Hasanuddin.

Universitas Hasanuddin telah menghapus segala dinding perbedaan, anak kampung dan anak kota sama-sama berhak mengenakan jas merah kebesaran guna memanggul cita-cita nasional, mencerdaskan kehidupan bangsa. Tak ada lagi permusuhan, kebencian; Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar dipertemukan dalam satu gelanggang merah, raihlah cita-citamu, tunjukan keberanian dan akal cerdasmu, terampil demi pertiwi Indonesia.

Sekelumit fakta telah tersaji di depan mata, anak-anak Unhas, alumni Unhas selalu dan selalu memperteguh kehormatannya, paentengi sirimu, malu jika tidak behasil. Falsafah itu kemudian telah mengantarkan banyak alumni Unhas memegang jabatan strategis di segala lini, mulai dari tingkatan lokal hingga nasional.

Sederet nama dan cerdik pandai Universitas Hasanuddin telah membahanakan kokok ayam jantan seanteror Indonesia, Jusuf Kalla dengan kemahiran pikirnya sebagai Wapres RI, Amran Sulaiman Menteri Pertanian di Kabinet Kerja Jokowi-JK, Prof. Dr. Aswanto, S.H., M.Si, D.fm sebagai Hakim Konstitusi RI, Sir Laode Syarif sebagai komisioner anti rasyuah (KPK).

Tak kurang dan tak lebih, telah banyak pula anak-anak muda Unhas sebagai sastrawan cukup dikenal di medan nasional. Siapa yang tak kenal dengan AAN Mansur ketika salah satu puisinya diabadikan dalam film AADC II, siapa pula yang tak kenal dengan novelis seperti dul abdul rahman dengan beberapa karyanya (Pohon-pohon Rindu, Daun-daun Rindu, Perempuan Poppo, Sarifa, Sabda laut, La Galigo) telah menjadi bacaan menarik untuk seluruh anak-anak Indonesia. Ada lagi, lelaki penggenggam puisi postmo dengan pintas kearifan wajah Bugis Makassar, Aslan Abidin. Inilah yang semakin memadatkan kalau anak-anak jebolan dari kampus berlogo ayam jantan perkasa itu, sukses di luar sana. Sayangnya, kerap kita lupa melirik mereka, di saat Unhas menaburkan segala rindu syahdu kejayaannya.

Tepian Rindu

Ayam jantan bertadu syahdu, bukan hanya milik para petinggi yang kuasa. Suara dan ringkih kokoknya tak ada garis perbedaan untuk membangunkan semua “majikannya.” Di altar tepian rindu, ada alumni Unhas yang sukses membangun rumah tangga yang sakinah, ada alumni Unhas yang menggoreskan penanya untuk ibu pertiwi, ada alumni Unhas memancangkan tangan manusiawinya menolong rakyat papa.

Dan tepian rindu itu akan memecah haru bahagia, seandainya mereka, semuanya berbaur dalam satu nama kebesaran, kampus merah, Universitas Hasanuddin. Di sini ada pemimpin, di sini ada pujangga, di sini ada politikus, di sini ada negarawan, di sini ada ibu rumah tangga, di sini ada rohaniwan. Tampilkanlah mereka semua, sebab kerinduannya akan menaburkan semangat pemberani untuk calon generasi muda berikutnya.

Walau mentari memanas, keringat mengucur dahi, anak-anak Unhas tak pernah dilanda putus asa. Indonesia adalah ibu pertiwi, Unhas juga adalah ibu pertiwi. Wajah kemayunya akan memintas segala perbedaan, ibu cantik yang rindu pada anaknya, anak yang rindu pada ibunya, hendak kembali dalam pelukan sang bunda tapi karena “egoisme” apa daya pertemuannya tak kesampaian.

Mari melepaskan segala ego kepalsuan, singkirkan setiap pagar-pagar pembatas diantara kita. Unhas sudah jaya, Unhas sudah mandiri, Unhas sudah juara, Unhas sudah populer, Unhas tidak lama lagi akan mendunia. Kelak jika ia menjadi “World Class University” jangan kita memicingkan mata, lalu di belakang diam-diam kita tersenyum sambil mengelus dada, Unhasku aku rindu padamu yang dahulu.

Kembang akan selalu mekar dan menyebarkan semerbak mewanginya dimanapun ia tumbuh. Ayam jantan tak akan pernah berhenti “mengumandangkan” kokok “cerdas dan gagah beraninya” selama mentari masih terbit dari ufuk timur juga cahaya kebenaran dan kejujuran masih kita genggam erat bersama di tepian rindu itu. Ayam jantan penabur rindu, di pagi cerah senja nan teduh, nyiur beringin memancangkan bakti padamu selalu, terima, terimalah cinta dan cita kami.

Met Milad Unhas ke-60. * 
Sumber Gambar: http: makassar.tribunnews.com

[Read More...]


0 Petani Sinjai, Kapan Merdeka?




Sebelum saya mendeda haru-birunya sederet petani Sinjai yang masih sengsara, belumlah ia merdeka. Izinkan saya memohon lagi berterima kasih pula kepada Harian Tribun Bone atas dimuatnya tulisan ini. Seribu maaf pula kepada semua warga Bone atas pemberian kesempatan kepada penulis, mengurai segala pekik permasalahan petani Sinjai yang masih jauh dari kata sejahtera. Penulis bukanlah anak yang dilahirkan di tanah Bone, akan tetapi sepengatahuan saya selama ini, Harian Tribun Bone juga beredar di Sinjai, sebagai harian yang terbaca oleh jajaran Pemkab Sinjai (Bupati dan DPRD), sehingganya menjadi layak kalau melalui media ini saya kembali “berkhalwat” dengan mereka.

Toh antara Kabupaten Bone dan Kabupaten Sinjai dua keturunan serumpun (Bugis), bertetangga, juga banyak mengandalkan petani sebagai penopang ekonomi daerahnya. Oleh karena itu, menceritakan nasib derita petani Sinjai sama saja hikmatnya memperjuangkan senasib sepenanggungan dari mereka, ditakdirkan sebagai petani (di bone dan di Sinjai) dalam mengelola kekayaan alam yang melimpah ruah di negerinya sendiri.

Petani Sinjai

Fokus ke petani Sinjai. Di daerah ini (Kabupaten Sinjai), walaupun luas wilayahnya dalam keadaan secukupnya (sijai-jai) harus diakui kalau kebesaran Ridho Allah Yang Maha Kuasa, dengan iklim panas-dingin, curah hujan tinggi, maka potensiallah pengembangan cocok bertanamnya.

Di tahun 1990-an hingga tahun 2003, banyak petani di Sinjai mengalami kejayaan. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya petani membangun rumah bertingkat, rumah batu permanen, ada yang membeli mobil, ada yang naik haji, hingga tak bisa terhitung berapa jumlah anak-anak petaninya berderap langkah menuju kota Makassar, Jakarta, Yogyakarta, bahkan ke luar negeri menimba ilmu di beberapa perguruan tinggi ternama.

Dan sayup-sayup kejayaan itu perlahan runtuh, memudar. Lahan pertanian yang dulunya menjadi “pergantungan nasib” mereka, tidak dapat diandalkan lagi. Berpuluh-puluh hektar tanaman pertanian terserang hama dan penyakit. Tanaman kakao mereka diserang hama penggerek buah, buah kakao menghitam sehingga tidak layak panen dan dijual lagi. Demikian juga yang terjadi pada tanaman lada (merica), juga diserang busuk akar, sehingga pohonnya tiba-tiba mati kering mengenaskan.

Dalam keadaan itu, banyaklah petani yang beralih menanam cengkeh, tapi apa daya pohon cengkeh kadang juga mati sebelum masa panennya tiba, sebab tidak dapat bertahan dikala musin kemarau tiba yang berlangsung selama 2 (dua) hingga 3 (tiga) bulan.

Saya sebagai anak petani, pastinya merasa tak punya pemimpin di negeri kami sendiri, walaupun selalu datang memilih mereka yang mengatasnamakan calon Bupati dan Calon Anggota DPRD. Dua jajaran dalam institusi pemerintahan itu, kerap saya merasakan bukanlah wakil kami. Perhatian yang ditunjukan melalui kinerja untuk warganya yang berprofesi petani, sama sekali tidak ada. Berkali-kali saya atas nama pribadi, sebagai warga, anak petani yang sudah sarjana, menyurati sang Bupati Bapak Sabirin Yahya melalaui media sosial, facebook, twitter, tapi respon dan aksi kebijakannya seakan dihempas angin lalu. Dengan pongahnya Kabag Humas & Protokol Setdakab. Sinjai, Muh. Sabir Syur, S.Sos, malah saya dicap kekanak-kanakan di suatu harian lokal. Ternyata hanya anak-anak yang bisa berjiwa emas memikirkan nasib dan derita sesamanya yang ditakdirkan sebagai petani. Pemimpin yang dihujani amanah, ia memang dewasa, tapi menghuni rumah jabatan pun kadang tak dapat, ia sempatkan diri.

Kapan Merdeka?

Maka melalui hari kemerdekaan Indonesia yang ke -71 kemarin, inilah momentum yang tepat bagi saya mengingatkan kembali amanah yang diemban oleh sang Bupati Sinjai, Sabirin Yahya beserta dengan Anggota DPRD-nya. Kita bolehlah merayakan kemerdekaan sebagaimana pusat dan seluruh daerah menasbihkannya, dengan segala ritual doa lagi penghormatan kepada pahlawan yang telah membebaskan kita dari belenggu penjajahan.

Anda sebagai pemerintah daerah sebagaimana tercatat dalam undang-undang an sich, sebagai Bupati dan DPRD memegang tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan kemerdekaan bagi warga petani di daerah sendiri, yang nasibnya masih terseok-seok, bahkan jalan ditempat.

Kapanlah warga Sinjai yang berprofesi sebagai petani dikatakan merdeka, kalau lahan pertanian yang menjadi penopang keluarga dan anak cucunya tak pernah diperhatikan oleh pemimpin daerahnya sendiri? Mereka tak ada kata kemerdekaan, hidupnya sengsara, pohon kakao, lada, karena diserang hama dan penyakit, mereka tak pernah patah arang. Ada yang menebang pohon kakaonya digantikan dengan tanaman lada dan/atau tanaman cengkeh, tetapi nasib deritanya sama saja, belum tiba masanya dipanen, mati lagi.

Apalah arti kemerdekaan bagi mereka, jikalau musim kemarau tiba, banyak petani yang mencari air guna menyiram tanaman pertaniannya. Berpuluh-puluh kilometer mereka berjalan sambil membawa air demi mempertahankan tanamannya dari ancaman kekeringan, badannya menjadi letih, tulang belakang terasa patah, demi tanaman pertanian yang diharapkan bisa menghidupi sanak keluarganya.

Seolah warga Sinjai tak punya Bupati, tak punya wakil di dewan. Kemerdekaan dari “perut yang masih kosong” ditentukan oleh warga Sinjai sendiri, bukan ditentukan oleh Bupatinya, bukan pula oleh anggota DPRD-nya. Jalan tani yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah daerah, justru petani sendiri yang bergotong-royong membangun jalan tani yang bisa memudahkan mengangkut hasil pertaniannya. Sama sekali tak ada peran dari kedua institusi yang terhormat itu.

Maka saat ini, wahai Bupatiku, anggota DPRD-ku, anda semuanya tidak dapat lagi mengelak, pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan petani masih dalam perencanaan, dengan dalih usia pemerintahan masih seumur jagung.

Khusus untuk bapak Bupati, Sabirin Yahya, masa jabatan anda tinggal 1 (satu) tahun lebih. Saya mewakili seluruh warga Sinjai yang berprofesi sebagai petani, dua kebijakan yang perlu anda prioritaskan: Pertama, aktifkan Dinas Pertanian dan PTH Kabupaten Sinjai guna mengatasi hama dan penyakit tanaman lada, kakao dan cengkeh. Bimbing dan arahkan para petani Sinjai, cara bercocok tanam, cara mencegah penyakit yang selalu menimpa tanaman pertaniannya. Kedua, pemerintah Kabupaten Sinjai perlu pengadaan mobil tangki, sebagai persiapan menjemput musim kemarau, silakan dengan mobil tangki itu anda menjual air ke beberapa petani dengan harga terjangkau, sebab memang banyak petani yang butuh air untuk menyiram tanaman pertaniannya di kala musin kemarau sedang tiba.

Terima kasih yang sebesar-besarnya jika permintaan tersebut ditindaklanjuti, tapi kalau sebaliknya saya hanya dianggap “radio rusak,” kekanak-kanakan, nasib anda ditentukan pada 2018 nanti. Baik Bupati maupun calon yang sudah menggadang-gadang diri untuk memimpin Sinjai, anda semua perlu tahu, bahwa destinasi dan pariwisata di daerah sebaiknya ditempatkan diurutan kedua. Hasil pertanianlah yang bisa membesarkan dan memerdekakan Sinjai, sehingganya Pendapatan Asli Daerah (PAD) bertambah, guna pembangunan selanjutnya (seperti pariwisata). Tea temmakua, pada idipa najaji.*


Oleh: 
Damang Averroes Al-Khawarizmi
Petani Sinjai yang Sudah Sarjana 
Opini: Tribun Bone, 19 Agustus 2017 
DAMANG AVERROES AL-KHAWARIZMI









[Read More...]


Return to top of page Copyright © 2011 | Platinum Theme Converted into Blogger Template by Hack Tutors