0 IAS dan Air Mata Praperadilan



Masih terekam di ingatan kita semua, setahun silam dikala Ilham Arief Sirajuddin (IAS) ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam dugaan korupsi dan transfer kelola instalasi PDAM Makassar Tahun 2006-2012. Lalu, hanya selang dalam waktu tiga hari pasca penetapan tersangka atas dirinya, Ia memberanikan diri tampil di depan khalayak publik.

Di sela-sela acara pelantikan Wali Kota Makassar Ramdhan Pomanto serta Wakil Wali Kota Makassar Syamsu Rizal di Anjungan Pantai Losari, mantan wali kota dua priode itu, terlihat berkali-kali mengusap air mata yang meleleh di pipinya dengan selembar tisue.

Dulu dan kini, pesan simbolik dari air mata itu merupakan dua rasa yang tentunya berbeda kaetika kita hendak memaknainya. Dulu, adalah air mata karena penetapan tersangka, air mata karena hukum telah aniaya kepadanya, air mata ketika keadilan telah meninggalkannya, air mata karena hati tak kuasa mendengar “cibiran sosial” menghakiminya, kemana kaki mendayung maka di situ seolah terdengar bisikan “koruptor, koruptor”.

Maka hari ini, di mulai dari saat pembacaan penetapan praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan kemarin. Kendati air mata itu kembali tumpa ruah, tapi ruahnya bukan lagi kesedihan, melainkan rasa yang membuncah atas sebuah keharuan, ketika keadilan berpihak kepadanya.

Baju stigmatisasi penetapan tersangka oleh lembaga anti rasuah kemarin kini sudah tertanggalkan. Dan publik pun, khususnya warga Makassar harus menerima dengan lapang dada, manusia sederhana dan yang selalu bermurah hati itu, memang tiadalah bersalah.

Praperadilannya Absah
Menelisik dua kasus yang berbeda penetapan praperadilan bagi pencari keadilan (yustisiabel) antara Budi Gunawan dan IAS, pada sesungguhnya penetapan atas tidak sahnya penetapan tersangka bagi IAS-lah yang paling afdal, sahi, absah, bahkan konstitusional.

Legalitas praperadilan untuk IAS benar-benar sesuai dengan due process of law principle. Menerapkan postulat ----- tidak ada perbuatan pidana tanpa pidana menurut undang-undang/ Nullum crimen sine poena legali ---- semua perbuatan pidana harus dipidana menurut undang-undang, maka permohonan ketidakabsahan penetapan status tersangka a quo tidak ada lagi “kekeliruan hukum” yang pantas untuk diperdebatkan.

Kendati Hakim tunggal praperadilan Yuningtias Upiek bergeming, menyatakan putusannya merupakan putusan hukum (non ekstra legal). Atas fakta-fakta keyakinan yang bersifat istimewa (idisioncracy of fact) mau tidak mau pasti turut mempengaruhinya. Ada sebuah keyakinan yang tersembur keluar, untuk memberanikan diri menjadi peletak batu pertama atas titah Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyatakan “sah/tidaknya penetapan tersangka merupakan objek dari pada praperadilan.”

Hal ini secara eksplisit dibuktikan oleh Yuningtias Upiek tat kala melakukan pembuktian atas dugaan bersalah terhadap IAS melalui batas-batas yang ditentukan oleh MK dalam putusan Nomor 21/PUU-XII/2014. Pertama, penetapan tersangka harus memenuhi dua alat bukti (bewijs minimum). Kedua, dalam pemerolehan alat bukti harus dilakukan dengan cara yang benar sesuai dengan hukum yang berlaku. Tidak boleh alat bukti tersebut diperoleh dengan cara yang tidak sah (unlawful legal evidence).

Itulah yang terbaca dalam putusan yang dibacakan sendiri oleh hakim tunggal Di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampere Raya, Jakarta Selatan, Selasa kemarin (12/5/2015): Menyatakan penetapan tersangka atas nama IAS tidak sah karena termohon tidak dapat membuktikan dua alat bukti yang cukup; Menyatakan pemblokiran, penggeledahan, dan penyitaan yang dilakukan oleh KPK tidak sah.

Praperadilan yang menjemput keadilan yang selama ini diperjuangkan oleh IAS, dari sisi manapun dipandang tidak ada yang menyalahi asas dan ketentuan hukum. Praperadilannya sudah absah.

Keabasahannya tidak hanya bisa dikunci dengan asas hukum res judicata proveri tata habetur. Tetapi lebih dari itu, ahli hukum ternama-pun tidak bisa melawannya dengan alibi “penetapan tersangka bukan merupakan objek praperadilan”. Sebab MK sudah memberinya legalitas secara bersayarat atas hasil uji Pasal 77 poin (a) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana, bahwa konstitusionalnya pasal a quo harus dimaknai, termasuk pula penetapan tersangka sebagai objek praperadilan.

Pulihkan Namanya
Satu dan lain hal kendati IAS sangat jumawa, tidak meminta lebih terhadap KPK agar dipulihkan nama baiknya. Dalam hatinya sama sekali tidak tersimpan rasa dendam terhadap lembaga super body itu, tidak mau menyalahkan penyidik KPK yang telah menetapkannya sebagai tersangka. Tetapi kalau KPK ingin menanamkan integritas, profesionalitas, agar tetap mendapat kepercayaan publik, maka pihak KPK saat ini harus bersikap gentle untuk mengakui kekeliruannya, dan wajib memulihkan nama baik IAS. Sebab selain hal demikian merupakan perintah putusan pengadilan juga menjadi kewajiban moral (moral binding) bagi KPK untuk menunaikannya.

Bahwa kewenangan yang diberikan oleh KPK yang cukup super selama ini, maka harus super pula untuk mengembalikan segala hak-hak warga negara yang pernah “dicederainya”. Sekejam-kejamnya hukum, minimal upaya pemulihan nama baik bagi orang yang pernah ditersangkakan akan merasa “kerugiannya” yang diderita dalam waktu yang lama bisa terbayarkan.

Bukankah IAS selama setahun walau tidak berada dalam bilik penjara, dirinya sudah terpenjara dari berbagai “kecaman sosial” ketika membaur di tengah-tengah khalayak, lalu banyak bidikan mata tertuju kepadanya? Jadi, pemulihan nama baik wajib adanya.

Pemulihan nama baik sangat penting bagi orang yang sudah gugur penetapan tersangkanya berdasarkan hasil putusan praperadilan, selagi tidak ada alasan hukum lain untuk kembali menetapkannya sebagai tersangka. Di dalamnya terdapat “hak politik” seorang, saling berkelindan satu sama lain, agar tidak dengan gampang “dimanfaatkan” suatu waktu oleh mereka yang menaruh kebencian dalam upayanya untuk menduduki jabatan politik terkait.

Kini, IAS bisa kembali membuka lembaran barunya, segala mimpi dan cita-citanya untuk kembali membangun Indonesia Timur di suatu hari.

IAS alias Aco, Air matamu karena karena hempasan keadilan dari gema praperadilan kemarin, air mata praperadilan, bukan hanya berarti bagi seorang bini dalam rengkuhan kasih sayangnya, melainkan cukup berarti pula bagi mereka yang menaruh asa dari jiwamu untuk mendayung Indonesia dari timur menuju peraduannya. Sejahtera dan lebih maju lagi.* 
 
 

Sumber Gambar: rakyatsulsel.com


[Read More...]


0 Soal Ujian Akhir Terjawab Sudah



PENGERTIAN, TUJUAN DAN FUNGSI SOSIOLOGI HUKUM

Sosiologi hukum adalah cabang ilmu pengetahuan secara analitis dan empiris, hubungan timbal balik antara hukum dan gejala sosial lainnya atau mempelajari masyarakat khususnya gejala hukum dari masyarakat tersebut.

Tujuan sosiologi hukum adalah menyajikan sebanyak mungkin kondisi-kondisi yang diperlukan agar hukum dapat berlaku secara efesien.

Fungsi sosiologi hukum: untuk menguji apakah hukum dan peraturan perundang-undangan berfungsi dalam masyarakat.

KRAKTERISTIK SOSIOLOGI HUKUM
  1. Sosiologi hukum memberikan kejelasan tujuan terhadap praktik hukum yang menjelaskan mengapa praktik hukum demikian: (a) Apa sebabnya; (b) Apa faktor yang mempengaruhi; (c) Apa yang melatarbelakangi;
  2. Sosiologi hukum selalu menguji kesahihan empiris aturan atau pernyataan hukum; 
  3. Sosiologi hukum tidak melakukan penilaian terhadap hukum, melainkan hanya memberikan penjelasan apa adanya dalam kenyataan, dengan demikian mendekatkan hukum dari sisi obyektivitasnya.

OBJEK KAJIAN DAN KEGUNAAN SOSIOLOGI HUKUM
OBJEK KAJIANNYA:

Sebagaimana dikemukakan oleh Achmad Ali
  1. Mengkaji hukum dalam wujudnya sebagai salah satu pengendali social;
  2. Sosiologi hukum dikaji dalam kaitannya dengan sosialisasi; 
  3. Mengkaji stratifikasi yang dapat dtemukan dalam suatu system kemasyarakatan; 
  4. Studi tentang evektivitas hukum dan ketaatan hukum, birokrasi dan birokratisasi, organisasi, profesi hukum, dan professional hukum, serta perilaku aparat dan pelaksanaan proses pengadilan.

KEGUNAAN SOSIOLOGI HUKUM:

Satjipto Rahrdjo mengemukakan bahwa secara deskriptif kegunaaan sosiologi hukum antara lan:
  1. Merelatifkan hukum menjadi tingka laku manusia di dalam masyarakat;
  2. Memberikan suatu pedoman atau petunjuk tingka laku konkret kepada anggota masyarakat; 
  3. Memberikan penjelasan mengenai kedudukan dan bekerjanya hukum di dalam masyarakat; 
  4. Berupaya mengetahui bagaimana seluk-beluk bekerjanya hukum di dalam masyarakat; 
  5. Menjelaskan duduk persoalan tertentu dan tidak membuat suatu penilaian.

SOROTAN DAN RUANG LINGKUP SOSIOLOGI HUKUM

SOROTAN SOSIOLOGI HUKUM
  1. Hukum dan sistem sosial masyarakat hakikatnya adalah objek menyeluruh dari sosioogi hukum. Sistem sosial mempengaruhi sistem hukum oleh karena bagaimanapun juga tidak dapat dilepaskan dari sistem sosial atau masyarakat (ilmu ini masuk disemua lini);
  2. Persamaan dan perbedaan sistem hukum agar menyangkut perbandingan untuk mengetahui apakah dan konsep-konsep hukum universal. Untuk Indonesia dilakukan penelitian perbandingan sistem hukum yang berlaku di berbagai daerah dan didukung oleh suku-suku bangsa; 
  3. Sifat sistem hukum yang dualistis, hukum substansif dan obyektif yang manusia dapat mempertahankan hak-haknya; 
  4. Hukum dan kekuasaan artinya hakikat kekuasaan tersebut supaya dapat bermanfaat ditetapkan ruang lingkup, arah dan kekuasaan; 
  5. Hukum dan nilai-nilai sosial budaya itu sebagai kaidah dan norma-norma sosial tidak terlepas dari nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat; 
  6. Kepastian hukum dan kesebandingan yaitu dua tugas pokok hukum bagi warga masyarakat sebagai individu; 
  7. Peran hukum sebagai alat mengubah kebiasaan.

RUANG LINGKUP SOSIOLOGI HUKUM:
  1. Benarkah cara-cara yang paling efektif dari hukum dalam pembentukan pola-pola perilaku;
  2. Hukum dan pola-pola perilaku sebagai sebagai ciptaan serta wujud dari pada jaminan-jaminan kelompok sosial; 
  3. Kekuatan-kekuatan apakah yang membentuk, menyebarluaskan atau bahkan merusak pola-pola perilaku yang bersifat yuridis; 
  4. Dasar sosial dari hukum atas dasar anggapan bahwa hukum timbul serta tumbuh dari proses sosial lainnya; 
  5. Efek hukum terhadap gejala sosial lainnya dalam masyarakat.

HUKUM SEBAGAI MEKANISME PENGINTEGRASI; EVEKTIVITAS HUKUM; HUKUM DAN PERUBAHAN SOSIAL
SEBAGAI MEKANISME PENGINTEGRASI:
  1. Salah satu fungsi hukum dalam menyeleraskan kepentingan-kepentingan yang ada di dalam masyarakat, baik pada saat terjadinya konflik dalam masyarakat maupun tat kala masyarakat dalam keadaan damai/ tidak ada konflik (Achmad Ali);
  2. Ketika hukum melakukan pengintegrasian terhadap proses-proses dalam masyarakat, hukum menerima masukan dari berbagai bidang ekonomi, politik, dan budaya kemudian diolah menjadi keluaran yang dikembalikan kepada masyarakat. (Satjipto Rahardjo)

EFEKTIVITAS HUKUM:
  1. Kehidupan masyarakat sangat kompleks di era modern karena perkembangan perilaku masyarakat;
  2. Hukum sebagai alat untuk mengatur tatanan masyarakat dalam kehidupan berbangsa; 
  3. Teori evolusi: (a) Hukum itu harus represif: setiap permasalahan hukum harus ditindak tegas; (b) Hukum itu otonom: pentingnya hukum sebagai alat pengatur masyarakat untuk mencapai tujuan negara hukum, sebagai wadah organisasi masyarakat; (c) Hukum represif: harus mengakomodasi kepentingan masyarakat yang bersifat positif. 
  4. Perangkat hukum obyektif, konsisten, dan integrative; 
  5. Tujuan hukum harus terwujud berdasarkan fungsinya (Radbruch): kepastian, keadilan, dan kemanfaatan. Fungsi hukum oleh Roscoe Pound “sarana control dan sarana perubahan sosial; 
  6. Membicarakan daya kerja dalam mengatur atau memaksa masyarakat taat pada hukum; 
  7. Mengkaji kadiah hukum yang harus memenuhi syarat yuridis, sosiologis dan filsufis.

HUKUM DAN PERUBAHAN SOSIAL

Emil Durkheim menyatakan bahwa hukum merupakan refleksi dari solidaritas social yang terbagi menjad solidaritas mekenik (solidaritas yang terbentuk karena kesamaan) dan solidaritas organic (solidaritas yang terbentuk karena perbedaan).


PERILAKU MASYARAKAT DAN PERILAKU HUKUM
Hukum dalam kaitannya dengan perilaku masyarakat merupakan sarana yang ditujukan untuk mengubah perilaku warga masyarakat sesuai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Agar hukum benar-benar dapat mempengaruhi perikelakuan masyarakat, hukum harus disebrakan sehingga melembaga dalam masyarakat. (Adam Podgorcki & Christopher J Whelan)

Perilaku hukum artinya seorang yang berperilaku sesuai dengan hukum yang berlaku. Apabila seorang berperilaku sesuai hukum, berarti tingkat kesadaran hukumnya tinggi. Sedangkan hukum yang berlaku ada dalam bentuk tertulis seperti perundang-undangan dan ada dalam bentuk tidak tertulis seperti hukum kebiasaan-kebiasan.


OTONOMI HUKUM
Hubungan antara hukum dan keekuasaan politik ketika menempatakan badan peradilan secara isntitusional terpisah dari wilayah potik. Badan peradilan memutusakn persengketaan dan menghukum pelanggaran semata-mata dengan acuan ke aturan-atura hukum yang dicanangkan secara formal atau dengan acuan prseden-preseden yang dapat diterapkan secara sama kepada setiap pencari keadilan baik yang didukuk secaa politik maupun yang dicemarkan secara sosial.
Sumber Gambar: dalinsyi.files.wordpress.com









[Read More...]


0 Islam dan World Book Day



Seorang pujangga Islam yang lahir di Sialkat dari anak keturunan Brahmin di lembah Kashmir bernama Muhammad Iqbal, suatu waktu ketika sakit melanda hingga maut akan merenggutnya, terdendanglah sebuah sajak kehidupan. Sajak agar tetap lahir pujangga-pujangga baru dari dunia Islam.

Iqbal membacakan sajaknya: “Melodi Perpisahan Kau Menggema Atau Tidak/ Angin Hijaz Kau Berhembus Kembali Atau Tidak/ Saat-Saat Hidupku Kau Berakhir/ Entah Pujangga Lain Engkau Kembali Atau Tidak/ Selanjutnya;/ Kukatakan Kepadamu Ciri Seorang Mukmin/ Jika Maut Datang Akan Merekah Senyum Di Bibir.”

Dalam sajak itu, kita akan melihat betapa rindunya seorang pemikir kontemporer bahwa kelak Islam dalam lintas generasi tetap konsisten (istiqomah) untuk selalu melahirkan pemikiran-pemikiran bernasnya. Dan Tak pelak kemudian menjadi sebuah kemewahan, jika berhasil membukukan segala pemikiran bernas itu. Iqbal telah membuktikannya.

Filsuf dan penyair Islam itu telah mewariskan karya yang sangat berharga kepada dunia: The Development of Metaphysics In Persia; Bang I Dara; Asrar-I-Khudi; Rumuz-L-Bekhudi; Chidr-L-Rah; Tulu-I-Islam; Payam-I-Mashriq; Zabur-I-‘Ajam; Javed Namah; The Reconstructions of Religious Thought In Islam; Dan The Reconstruction of Muslim Jurisprudence.

Andaikan tidak ada buku, mungkin kita tidak akan pernah mengenal peradaban. Mungkin kita tidak akan pernah merasakan mudahnya segala aktivitas dilakukan saat ini berkat kemajuan tekhnologi. Kita tidak akan pernah merasakan nikmatnya berselancar di dunia maya. Menggunakan gadget sekedar menyapa teman-teman dekat kita yang terpisahkan oleh jarak.

Perlu diketahui bahwa pesatnya kemajuan tekhnologi saat ini tidak bisa dilepaskan dari andil besar para pemikir Islam. Mulai dari pemikir Eropa hingga Barat sangat kenal dengan pemikir-pemikir Islam, seperti; Ibnu Rusyd (Averroes), Ibnu Sina (Avicena), Al-Khawarizmi hingga Al-Kindi yang ahli medik di zamannya.

Itulah sebabnya Seyyed Hossein Nasr (2006) akhirnya menarik kesimpulan “jika tak ada pemikir Islam, maka setiap tumpukan ilmu dan pengetahuan dari Yunani dan Romawi Kuno mungkin sudah mati. Islamlah yang kembali menghidupkan urgensi pengetahuan dalam beberapa catatan, sebagai bagian dari kerja untuk selalu membangun peradaban.

Di abad ke- 16 oleh kaum Kristianik dalam onderdil kerajaannya, menganggap bahwa mereka yang menaruh perhatian besar terhadap pengetahun dianggap pagan dan bisa mengancam gayibnya keyakinan agama pada waktu itu. Pengetahuan selalu dicap akan men-demistifikasi dan men-demitologi ajaran agama. Copernicus yang dengan teori Geosentrisnya akhirnya dipancang karena dituding melawan ajaran gereja. Senasib dengan takdir yang harus dilalui oleh Galileo pun harus menerima hukum mati karena dianggap melawan Genesis kitab perjanjian lama.

Tapi Islam sungguh tidak demikian. Islam tidak anti kemapanan. Para pemikir seperti Ibnu Rusyd dan Ibnu Sina mempelajari filsafat Plato dan ajaran Aristotelian, lalu membangunnya kembali dalam dimensi eksatologik dan spiritualis. Maka menjadilah ajaran-ajaran itu berfaedah, lengkap dengan kuncup, bunga dan buahnya, padahal dulunya “filsafat an sich” ibarat pohon tandus yang tidak pernah berbuah sama sekali.



Islam Vs Book Day
World book day yang jatuh pada 23 April kemarin, dalam hemat saya merupakan perayaan yang kurang lengkap tanpa berusaha melakukan napak tilas atas sejarah hancurnya perpustakaan Iskadariyah. Karena di sanalah, di tanah Mesir itu pertama kalinya buku dihimpun dari berbagai penjuru dunia yang telah maju ilmu dan pengetahuannya.

Badan PBB untuk pendidikan, ilmu pengetahuan, dan Budaya (UNESCO) di tahun 1955 merupakan hal yang keliru jika world book day sepintas lalu hanya ditujukan untuk mengenang William Shakespeare dan Miguel de Cervantes semata.

Padahal peran buku dan literasi bukan hanya miliki seorang, bukan hanya milik sekelas Shakesperae dan Cervantes saja. Merunut dalam sejarah, peristiwa monumental tiga abad sebelum Masehi di Iskandariyah, Mesir di bawah kepemimpinan Iskandar Agung, telah membangun perpustakaan megah yang penuh dengan buku-buku ilmiah.

Berdasarkan kegiatan ilmiah di Iskandariyah itulah, lahir konsep tentang cosmos yang dalam bahasa Yunani berarti harmoni. Para peneliti yang bergabung di perpustakaan tersebut jauh hari sudah memiliki teori tentang alam raya “kosmos” karena alam berada dalam penuh keserasian.

Direktur perpustakaan pada waktu itu, abad ketiga Sebelum Masehi adalah Earastothenes, seorang ahli bumi, astronomi, sejarah, falsafah dan matematika. Di samping itu, dari perpustakaan Iskandariyah juga banyak menampilkan ahli ilmu pengetahuan yang lain. Diantaranya: Hipparchus yang mencoba membuat peta konstelasi bintang; Euclidus penemu sebenarnya ilmu geometri; Dionysius yang meneliti organ-organ berpikir manusia dan meletakkan teori tentang bahasa; Archimedes, seorang genius mekanik yang terbesar sebelum Leonardo Da vinci; dan Hipatya, seorang wanita ahli matematika dan astronomi yang hidupnya berakhir dengan tragis karena dalam perjalanan menuju keperpustakaannya Ia dicegat oleh segerombolan kaum fanatik Kristen, Hipatya diturunkan dari keretanya, lalu dibunuh dengan cara mengelupasi daging dan tulangnya, kemudian dibakar bersama dengan segala isi perpustakaannya.

Jadi, sepatutnya kita, bagi yang merasa pecinta buku dan literasi, mungkin lebih pantas untuk berduka cita atas hancurnya pusat peradaban buku di perpustakaan Iskandariyah. Atas ulah orang-orang fanatik dari kalangan para penganut agama mitologis, dari kalangan kaum Nasrani. Kaum fanatik itu berdalih bahwa mereka yang selalu mencurahkan perhatiannya kepada ilmu merupakan ancaman terhadap agama al-Masih akan dijadikan dongeng dan mitologi yang berwatak tidak ilmiah.

Maka apa yang dinikmati pada hari ini, pengembangan dari dunia literasi ke dalam praktikal kehidupan sehari-hari yang serba muda. Bukan karena kerja keras Barat semata, lalu seenaknya mendaulat dari orang-orangnya saja yang dianggap pelopor dunia literasi. Andaikan tidak ada pemikir Islam seperti Ibnu Rusyd yang kembali mencuplik satu-persatu ajaran falsafah yang masih tersisa dari pemberantasan buku-buku ilmiah, buku falsafah tersebut, oleh kebencian kaum fanatik yang anti pengetahuan ilmiah, boleh jadi tak ada peradaban modernis yang terjadi di beberapa belahan dunia ini.

Untunglah Ibnu Rusyd dalam bukunya Fashl al-Maq’a pernah berseloroh kepada dunia bahwa ‘falsafah dan syari’ah adalah saudara sekandung, sehingga merupakan kezaliman besar jika antara keduanya dipisahkan.” (*)
Sumber Gambar:  3.bp.blogspot.com

[Read More...]


0 Kartini, Bumi, Buku, dan Anak-anak Kita



Entah sebuah kesengajaan atau bukan. Dari kemarin, sama sekali saya tidak ikut mengambil peran dalam tiga hari terakhir, agar menulis di berbagai harian tentang tiga peristiwa besar yang bertepatan dengan momentumnya. Berturut-turut; ada Hari Kartini; Hari Bumi; hingga Hari Buku Sedunia.

Penulis kemudian “jatuh hati” untuk mendeda makna atas berlalunya hari-hari besar tersebut. Adakah terkuak hikmah dibalik tiga hari besar itu? Kiranya kalau memang ada makna urgen untuk dituturkan, satu-persatu relasi diantara satu sama lain, mungkin kepergiannyalah hari-hari tersebut menjadi fase untuk mengukir kembali, sembari membuka lipatan-lipatan kenangan tentangnya

Izinkan saya “mengetuk” hati para pembaca. Lalu, biarlah hati bertalu-talu mengecap rasa tentang Hari Kartini. Hari untuk sekedar mengukir mozaiknya saja, bahwa dalam sekelumit sejarah itu, Raden Ajeng Kartinilah yang membuka “kelopak mata” para kaum lelaki, terlebih-lebih wanita penerus RA Kartini. Yakni kaum Hawa dibalik segala kelemah-lembutannya, bukan hanya pantas “memadu kasih” di depan tungku perapian, tapi baginya juga berhak untuk memperoleh tahta dan derajat sepadan dengan laki-laki.

Bumi dan Kartini
Setali tiga uang, pun hari bumi. Saya menyebutnya sebuah keangkuhan dan keculasan kalau terjadi pengingkaran, bumi tak ada sangkut pautnya dengan hari Kartini. Kartini adalah perempuan. Dan izinkan juga kepada saya untuk mendaulat kalau sesungguhnya bumi yang kita pijak juga pada dasarnya berjenis kelamin perempuan. Jenis kelamin yang melekat dalam adikodrati Kartini.

Bukankah kita sering mendengar ocehan para filsuf. Bahkan peletak dasar fundamental negara ini, acapkali menyebut bumi sebagai Ibu pertiwi. Tak sekalipun diantara kita, berani menyebut “negeri ini sebagai bapak pertiwi”. Sungguh! memang tidak mungkin.

Syak wasangka selalu diajarkan pada anak-anak kita bahwa bumi adalah Ibu kita. Perlakuan anak pada Ibunya akan mengenai anaknya sendiri. Kita mengetahui bahwa bumi bukan milik kita, tetapi kita bagian dari bumi. Semua benda di atasnya terkait, menyatu satu sama lainnya. Barang siapa yang menyakiti, merusak, mengotori, hingga mencampakan kelestarian bumi maka tidak lain Ia telah berlaku “angkara” terhadap Ibunya.

Siapa yang tidak menyayangi bumi, sungguh Ia telah menjadi “mali kundang” kepada ibunya sendiri.

Jangan heran, jangan kaget! Jika sewaktu-waktu karena bumi adalah perempuan, karena bumi adalah sosok Ibu. Jika dirinya “sakit” atas sikap kedurhakaan manusia yang dipeliharanya, bumi akan mengutuk manusia dengan kengerian melalui bencananya.

Bumi akan melelehkan “air matanya” dalam desahan “air bah”, banjir, tsunami, hingga dapat “menganaksungaikan” jutaan anak manusia. Bumi akan memuntahkan resah dan gelisahnya dikalau panorama keindahan dan kecantikannya diusik terus-menerus. Tanahnya yang menjadi tempat pemukiman akan “meleleh”, longsor dan menelan ratusan korban manusia.

Dikala bumi mengamuk, tak satupun manusia bisa menahannya. “Tangannya” bisa mencabut jutaan nyawa. Dan nyawapun akan melayang hanya dalam sekejap. Lelehan lahar panas bumi yang tersimpan dalam altar sucinya. Lalu, ketika lelehan itu “berlinang” maka tersebutlah satu-persatu anak manusia yang menjadi korban kedigdayaan amukan bumi itu.

Lakon spiritual Islam menarasikan asal muasal manusia berasal dari tanah lumpur yang berbau. Manusia berasal dari bumi tempatnya Ia dilahirkan. Sejauh-jauhnya manusia berpetualang, mengembara, hingga melancong kemana-mana, maka Ia tak pernah lupa wajah kemayu perempuan yang melahirkannya. Wajah cantik nan jelita Ibunya. Itulah bumi! Sejauh-jauhnya anda ingin meninggalkannya, toh anda akan bertemu dengan bumi dalam pusaran. Nisanmu akan terpaku dalam sebait nama. Bahwa dirimu telah menemui ajal, di atas pekuburan yang permukaannya masih “membasah”.

Buku, Kartini, dan Bumi
Ibu kita Kartini, putri yang mulia, pernah berkata; “habis gelap terbitlah terang”. Demikianlah cerita yang tersimpul dalam helai, surat-surat kasihnya. Hal ihwal demikian penting untuk menjadi pelajaran dalam komunitas keluarga, komunitas peradaban kita. Siapakah yang paling dekat dengan anak-anak kita, kalau bukan Ibunya?

Cikal bakal generasi penerus bangsa adalah seorang Ibu yang dalam jiwanya terpatri new-kartinian.

Sosok Ibu Kartini-lah yang akan membuka pintu cahaya keilmuan dan membangun peradaban agar anak-anaknya berani bertarung dalam asa kelembutan dan cinta kasih. Agar kelak anak anak pelanjut peradaban itu, menyulut kasihnya kepada alam, kepada bumi, kepada tanah dimana ia selalu memijakan kakinya.

Hanya sosok Ibulah yang perhatian kepada anak-anaknya, dapat meluangkan waktu menutup katup mata anak mungilnya. Menghadirkan “kembang tidur” melalui sebuah buku yang dinukilkan dari kisah, dongeng, cerita tentang alam, fabel, entah apapun namnya. Di sanalah, alam akan selalu menyimpan cerita-cerita eksotik untuk anak-anak kita.

Siapa pula yang bisa menyampaikan maujudnya jiwa dan alam kepada anak-anak itu? Kalau bukan Ibu yang di dalam darahnya mengalir darah kartini, hingga anak-anak itu bisa lelap dalam tidurnya.

Anak-anak kita akan menjadi sayang pada Ibunya, sayang pada sosok-sosok kartini baru, sayang kepada bumi. Kalau semuanya menyatu dalam rasa, rasa tentang kebutuhan akan selalu bersama tiga kesatuan demikian (Kartini, Bumi, dan Buku).

Dalam henyaknya, walaupun buku tertata hingga puluhan eksampler, puluhan judul cerita. Cerita yang digubah dalam kata, lalu terangkai menjadi kalimat-kalimat indah. Kalau tak ada Ibu yang mewarisi asa perjuangan kartini, sungguh mustahil anak-anak kita akan menjadi pencinta buku. Pencinta tentang panorama alam yang “ruahnya” banyak terangkai dalam “cerita dongeng” pengantar tidur utuk anak-anak.

Maka kepadamulah wahai wanita yang telah diangkat derajatnya harus banyak bertutur lembut kapada anak-anakmu. Mencintai mereka dalam cakrawala keilmuanmu.

Denyut nadi anakmu, anak-anak kita, tergantung pada tuturmu untuk selalu bernaratik dari deretan kasus bencana alam, amukan bumi, hingga cerita tentang marahnya pertiwi. Semua itu telah tersusun “rapi” dalam sejarah, di helaian tiap-tiap buku yang pernah engkau bacakan kepada anak-anakmu.

Panah jiwamu sungguh tajam, ketika engkau tak pernah jenuh untuk selalu mengecap rasa dari banyaknya ilmu, pengetahuan dan pengalaman atas cuplik-an dari sekian buku bacaan, hanya untuk anak-anakmu. Kartini menyejarah karena terdapat dalam sebuh buku, bumi akan menyejarah pula dalam cinta dengan keabadiannya dalam sebuah buku. Karena buku adalah milik kartini, milik Ibu, milik anak-anak kita, milik kita semua.

Selamat Hari Kartini, Selamat Hari Bumi, dan Selamat Hari Buku Sedunia.*

Oleh: 
Damang Averroes Al-Khawarizmi
Mahasiswa Program Magister UMI Makassar
Sumber Gambar: merdeka.com





[Read More...]


Return to top of page Copyright © 2011 | Platinum Theme Converted into Blogger Template by Hack Tutors