IAS Come Back



Kala fajar belum menyingsing, 15 Juli 2019, eks-pemimpin daerah berparas sederhana itu sudah dinyatakan bebas murni. Beliau dinyatakan selesai menjalani masa pemidanaanya selama empat tahun. Derap langkahnya kemudian menuju mesjid terapung, dekat anjungan pantai losari. Di sana sudah dinantikan oleh banyak orang, mulai dari kalangan pengusaha, PNS, pengemis, penjual asongan, tukang becak, hingga warga yang tak diketahui lagi apa profesinya. 

IAS alias Aco bak anak hilang yang banyak dinantikan oleh karib dan kerabatnya. Satupun dari orang yang menunggu kedatangannya, tak ada memori membekas kalau sesungguhnya ia pernah terjaring rasuah Mereka yang awam hukum, bahkan berseloroh kalau mantan Walikota Makassar dua periode itu digilas korupsi akibat tumbal kuasa dan kekuasaan. 

Buktinya, sekalipun ia diketahui meringkuk dalam bui selama empat tahun, dari Rutan Salemba ke Lapas Suka Miskin hingga Lapas Makassar, tetap ia dibanjiri pembesuk dari berbagai kalangan. 

IAS memiliki kelebihan yang sulit tertandingi dibandingkan politisi lainnya. Selain ringan tangan menolong sesama, juga memiliki keluwesan untuk berbaur dengan siapa saja. Beliau tidak pernah memandang seseorang berdasarkan status dan kedudukan sosialnya. 

Pengalaman itu bukan muluk-muluk, saya secara pribadi yang tidak mengenal akrab, saban waktu menelphon beliau, dengan memperkenalkan diri terlebih dahulu; “maaf puang, tabe saya Damang.” Beliau langsung menjawab dan memanggil nama saya; “oh…Nak Damang, Trims nak sudah banyak menulis tentang saya.” Lama pembicaraan dengan melalui telephon seluler itu, sampai-sampai dia menanyakan asal kampung dan dimana saya pernah menimba ilmu. 

Singkat kata, singkat cerita, suatu waktu saya kemudian menjenguknya di Lapas Makassar, memang ia sangat ramah dan begitu sopan memperlakukan tetamunya. Dan betapa kagetnya saya waktu itu, dengan banyak tamu harus dilayani, satupun tidak ada tamu yang tidak dia sapa, meskipun dengan tema pembicaraan yang kira-kira bukan bagiannya untuk memberi pendapat. 

Sejak itulah, langsung saya menarik kesimpulan, ini orang memang bukan sembarang orang, pantas dia menjadi politisi dengan status Walikota dua periode, karena begitu dicintai oleh banyak warganya. Demikianlah cerita yang begitu singkat perkenalan dan pertemuan saya dengan IAS. Hingga saat ini saya hanya mampu menitipkan doa kepadanya, semoga ia tetap sehat, diberkahi umur yang panjang, dan ridho Allah SWT untuk seluruh keluarganya. 

IAS Effect 
Adakah kemudian IAS hendak terjun kembali ke politik? Sudah tidak mungkin kalau beliau diharapkan untuk kembali memimpin lagi Makassar sebagai Walikota. Dia sudah terkendala oleh limitasi masa jabatan kepala daerah yang tidak boleh lebih dari dua periode. 

Pilihan bagi IAS, tidak ada alternatif lain sekiranya dia hendak didaulat untuk kembali mendayung pemerintahan, harus dalam scope Pemilihan Gubernur, dan itu sudah lewat. Pun kalau dia hendak didorong untuk lima tahun ke depan sebagai Gubernur Sulsel, belum tentu juga ia mau. Selain karena umurnya yang sudah bertambah, jalar terjal politik yang begitu kejam sudah pasti akan ditimbang-timbang secara matang lebih dahulu. Belum lagi rencana lainnya, ingin menghabiskan waktu tua bersama dengan keluarga yang dicintainya. 

Namun bagi warga Makassar, bukan itu yang diharapkan, bahwa IAS akan menjadi walikota lagi. Warga Makassar sudah terlanjur memberi kepercayaan kepadanya, soal siapa dan bagaimana orangnya yang kelak layak memimpin Makassar. 

IAS dengan Makassar ibarat satu tubuh yang tidak dapat dipisahkan. Kalkulasi politik beserta dengan ajang pembuktiannya selalu tepat sasaran. Masih ingat, DP-Ical yang didorong dahulu dalam pemilihan walikota Makassar, begitu dengan gampang mendapat dukungan pemilih dan akhirnya melenggang merebut kursi Walikota dan Wakil Wali Kota. 

Yang pasti fenomena IAS effect sulit terhindarkan untuk Pilwali Makassar. Selain trahnya cukup berpengaruh dalam mengantarkan DP-Ical ke kursi Walikota - Wakil Walikota. Probabilitas Pilwali Makassar 2017 kemarin, tidak akan berakhir dengan kemenangan kolom kosong, sedianya IAS turut campur tangan di balik perhelatan elektoral itu. 

IAS meski meringkuk dalam penjara, modal politiknya tidak pernah habis. Boleh saja lawan politiknya, menggiringnya dalam kursi pesakitan korupsi demi menghambatnya melalui proses elektoal Pilgub Sulsel. Tetapi di hati pemilih, IAS tetap nomor satu. Sebab andaikata IAS tidak punya pengaruh, manalah mungkin Aulia Mustika menangguk kemenangan menuju DPR RI untuk kedua kalinya. Dua politisi ulung, suami-istri benar-benar saling menguatkan, selain membina dan menjaga keharmonisan keluarga, waktunya untuk mengabdi sebagai wakil rakyat juga tak pernah ditinggalkan. 

Come Back 
IAS memang tidak diharapkan untuk maju sebagai balon Walikota Makassar. Tetapi harapan dari sebagai besar warga Makassar, IAS come back, berarti piranti kesamarataan antar warga dengan pemimpin tidak lagi berada dalam sekat politik yang sulit terbuka pintunya untuk dimintai pertolongan. 

IAS harus menunjukkan kewibawaannya, melibatkan diri dalam percaturan elektoral Pilwali agar dikemudian hari, Makassar tidak terulang lagi dalam menyelenggarakan pemilihan yang tidak menghasilkan pergantian pemerintahan defenitif. Bukan soal kemana arah politik IAS, tetapi yang lebih penting di atas segalanya, jangan karena egoisme dan keserakahan, rakyat pemilih menjadi tumbal dipaksa berpolitik untuk yang tidak dikehendakinya. 

Selamat datang IAS, selamat datang untuk Makassar yang lebih baik lagi. 




Sumber Gambar: harapanrakyat.online
[Read More...]


Return to top of page Copyright © 2011 | Platinum Theme Converted into Blogger Template by Hack Tutors