Ketika Aku Jatuh Cinta Pada Tribun Timur (Refleksi Milad HUT Tribun Timur ke-13)




Suara mesiu kendaraan yang kutumpangi dari Sinjai menuju Makassar bercampur baur dengan rasa lelah dan kepenatan. Tidurku makin lelap, dan tiba-tiba handphone di dalam saku celana jeans milikku, berbunyi demikian keras. Saya kira nada panggilan itu dari kekasih saya (Ernawati Rahim, juga salah satu penulis yang sering muncul di harian Tribun Timur) hendak menanyakan berita kalau saya sudah tiba di Kota Makassar. Tetapi ternyata bukan! Justru nada panggilan itu berasal dari tribun timur, di handphone saya, kutuliskan nama itu, hanya dengan sebutan: “kasir tribun timur.”

Hingga saat ini, saya tidak pernah tahu-menahu nama asli dan sosok dari kasir tribun timur tersebut, setahunya saya hanya menyebutnya kasir tribun timur. Dan tiba-tiba saja kasir tribun timur yang bersuara ceweK itu, menginformasikan kalau masih ada honor tulisan saya yang belum ditransfer. Katanya, masih ada sekitar Rp-400.000.

Kaget dan bahagia bukan kepalang, itulah perasaan yang sedang menggeluti diriku ketika ia memberitahukan. sisa honor tulisan saya. Bagaimana tidak, sebelumnya saya sudah mendapatkan honor Rp-800.000, ternyata masih ada sisanya pula.

Mungkin sebahagian orang menyatakan kalau menerima honor tulisan, adalah peristiwa paling membahagiakan. Tetapi sebagai penulis yang sering dimuat artikel saya diharian tribun timur, lebih banyak lagi kisah dan pengalaman yang membuat kemudian saya jatuh cinta dengan harian terbesar di Indonesia timur itu.

Harian tribun timur tidak pernah membeda-bedakan antara penulis lama dengan penulis pendatang baru. Di saat banyak rekan-rekan saya selalu beralibi, kalau sebuah artikel (opini) nanti akan dimuat kalau memiliki kenalan orang dalam, nyatanya saya tidak merasakan hal demikian di harian tribun timur.

Jujur sampai hari ini, satupun tidak ada kenalan saya di harian tribun timur. Sebuah koran terbesar dan terdepan di daerah Makassar sudah berkali-kali memuat opini saya, tanpa sedikitpun pernah melakukan intervensi kepada salah satu pegawainya.

Inilah segala alasan, saya kemudian berani menyatakan kalau tribun timur selalu di hati penulis dan pembaca. Di halaman opininya, kerap kita menemui nama-nama besar dari Penulis beken asal Makassar; ada Prof Quraisy Mathar, ada Prof Marwan Mas, ada Prof S.M Noor, ada Prof Anwar Arifin, ada Prof Pangerang Moenta, ada Hidayat Nahwi Rasul, ada Ilham Kadir, ada Ibu Sri Rahmi. Tak ketinggalan beberapa penulis muda lainnya, seperti Rahmad Arsyad (Abang); Endang Sari, Abdul Karim, Fadlan L Nasurung, Syamsul Arif Ghalib, Arifuddin Balla, Muh. Nursal NS, Fadli Natsif, Fajlurrahman Jurdi, Wiwin Suwandi, dst… yang tak pernah ketinggalan memunculkan wajah dan wacana barunya di harian Tribun Timur.

Koran Tribun Timur yang sudah memiliki gedung baru ini, kiranya menjadi penyumbang literasi terbesar, khusus untuk daerah Sul-sel. Tidak ada pengarusutamaan antara penulis yang bergelar dengan penulis yang biasa-biasa saja. Semuanya bisa membagikan ide cemerlangnya melalui harian tribun timur.

Sepanjang pengamatan saya pula, dalam mengikuti beberapa opini di harian tribun timur, media cetak sekaligus media yang memiliki website pengunjung terbanyak, tidak pernah berafiliasi dengan kepentingan politik tertentu. Semua pemberitaan dan pendapat para penulis disajikannya secara fair, independen, dan netral dari sekapan berita-berita politik tanah air.

Inilah koran yang selalu dihati pembaca dan penulis, ketika setiap opini yang termuat selalu mengikuti perkembangan isu-isu lokal, hinga isu hukum dan politik aktual. Setiap penulis menemukan ruangnya di sana, menyajikan gagasan yang baharu, tidak monotom pada satu isu saja.

Simaklah opini pada akhir bulan Januari kemarin, soal pemberitaan Hoax dan revisi UU ITE yang sedang hangat dalam perbincangan nasional, ada banyak penulis dihadirkan oleh media tribun timur melalui laman opininya dengan perspektif yang berbeda-beda dari berbagai latar belakang keilmuan. Adalah seorang komunikator ulung, Hidayat Nahwi Rasul menampilkan suguhan opini yang menisbatkan bahwa keberadaan media sosial saat ini cenderung memecah belah relasi dan pertemanan sesama, bersamaan dengan itu pula muncul gagasan dari akademisi hukum dan praktisi hukum yang masing-masing membahas limitasi hak dan kebebasan menyatakan pendapat di media sosial, Fadli Natsif dan Muh. Nursal NS.

Di harian tribun timur, pun saya banyak menemukan kenalan-kenalan baru memiliki hobi yang sama dengan saya, hingga pertemanan kami di meda sosial menjadi akrab dan luwes bersama dengan Arifuddin Balla, Syamsul Ariel Galib, dan Fadlan L. Nasurung, yang selalu kuanggap penulis cekatan dan mudah dipahami jalan dan alur pikirnya. Bukan penulis ego, yang hanya dirinya sendiri bisa memahami apa yang dituliskannya.

Benar-benar harian tribun timur selalu membuat jatuh hati ke padanya, saya masih mengingat beberapa tahun silam ketika pertama kalinya tulisan saya muat di harian ini, kala masih berdomisili di Gorontalo, akan tetapi dengan gampang mengecek tulisan saya muat pada waktu itu yang berjudul “Kiamat Menanti KPK,” cukup dengan mengaksesnya melalui paper online tribun timur Makassar.

Dan satu kebiasaan “gila” yang tidak dapat saya hindari, setiap menemukan pendatang baru di harian tribun timur pada lama opininya, kerap kali saya mengidentifikasi nama pendatang baru tersebut, dan mengajaknya berkahwan melalui media sosial. Tribun timur benar-benar telah membantu saya mengaduk samudera tulisan dan beberapa penulis yang tak sungkan bercengkerama dan sekadar menyapanya: “selamat kepada saudaraku sudah dimuat tulisannya di harian tribun timur.”

Jodoh tak dapat dihindari, takdir selalu menyapa setiap insan manusia, tak pernah kuduga juga sebelumnya, tribun timur bahkan telah mempertemukan jodoh saya, berkat harian tribun timur saya mengenal Ernawati Rahim, yang Inn syaa Allah tidak lama lagi aku akan mempersuntingnya.

Terima kasih kepada tribun timur, media yang bukan hanya selalu di hati tetapi telah menambatkan hati kedamaian saya untuk seorang penulis asal Bone yang telah menamatkan program Magister-nya, jurusan Ilmu Politik di UGM Yogyakarta.

Saya banyak dikenal karena tribun timur, dan karena tribun timur pula saya akan melanjutkan kisah dramatik dari dua penulis yang akan terus jatuh cinta buat harian tribun timur, selamanya.

Happy Milad Tribun Timur yang ke-13, Koran spirit baru Makassar, jayalah dikau sebagai koran terdepan dan selalu di hati kami semua.*


Artikel ini dimuat pula di Harian Tribun Timur, 10 Februari 2017







Responses

0 Respones to "Ketika Aku Jatuh Cinta Pada Tribun Timur (Refleksi Milad HUT Tribun Timur ke-13)"

Posting Komentar

Return to top of page Copyright © 2011 | Platinum Theme Converted into Blogger Template by Hack Tutors