Hikmah Hujan



Pantaskah kita membalas kehangatan itu dengan dinginnya hati ditambah cuaca yang mendukung keangkuhan wajah kita merespon tangan-tangan kecil yang sedang asyiknya menikmati pekerjaan kecilnya itu? Walau sekiranya tak ada buah tangan yang mereka nikmati sebagai imbalan usaha mereka, bukankah senyum sudah cukup membayar keriuhan mereka

Untuk mengetahui seberapa besar sebuah tanggung jawab, mungkin sebagian dari kita akan merasa tidak harus melaksanakan kewajiban di kala hujan. Namun, sekadar perlu untuk diketahui ada berapa banyak amalan pekerjaan yang mesti terlewatkan hanya disebabkan oleh hujan. Dan ada berapa orang yang kita rugikan disebabkan karena hujan pula, padahal hujan di negeri yang kita cintai ini, sudah menjadi fenomena alam yang biasa terjadi. Seperti halnya badai gurun di Timur Tengah atau hujan salju di wilayah utara bumi.

Bukankah hujan hanya mampu mengguyur tapi tidak untuk menahan. Ini respon penulis melihat sekelompok kaum urban tangguh yang melaksanakan kewajibannya di kala hujan badai membanjiri kotanya.
    
Penulis mencoba menyentuh nurani di tengah rasa dingin yang menyelimuti kota ini. Seberapa besar rasa toleransi kita untuk miris melihat reaksi sebagian dari saudara kita dengan teganya selalu mau menang sendiri di saat hujan mendera. Contoh konkret yang tampak adalah para pengguna transportasi, baik beroda empat maupun dua.

Mereka berlomba-lomba mencari sisi jalan yang cukup melanggengkan perjalanannya untuk tiba di tujuan tanpa harus terjebak oleh banjir yang menghalangi. Akhirnya bahu jalan atau selokan pun menjadi alternatif para pengguna jalan yang kesurupan dan kehilangan kesabarannya.

Tapi perlu diketahui perilaku seperti itu dapat menimbulkan dampak yang sangat parah di jalan. Kemacetan dikarenakan semua pengguna kendaraan tidak ada yang mau mengalah, dan dampak lain yang lebih parah adalah potensi menambah angka kecelakaan transportasi di jalan semakin meningkat. Ini adalah respon penulis menyaksikan langsung kecelakaan di Maros beberapa waktu laludan menanggapi kemacetan lalu lintas dari lokasi bandara Mandai-Maros.


Tenggang Rasa
Untuk menguji besarnya tenggang rasa kita. Apakah pengguna transportasi sudah kehilangan rasa berbagi dengan tidak menghargai keberadaan para pejalan kaki ataupun penumpang mikrolet, yang di Makassar dikenal dengan nama pete-pete itu. Wajarlah memang, kita kerap menggunakan kendaraan dengan sangat laju di waktu hujan, apalagi jika berkendara roda dua.

Kita tak ingin pakaian yang sudah separuh basah itu semakin basah. Rasa dingin yang sudah menusuk tulang itu harus segera diakhiri dengan secepatnya tiba di lokasi tujuan kita. Tapi kita jarang mengamati genangan air di jalan. Apakah air yang membanjiri ruas jalanan itu menciprati para pejalan kaki ataupun penumpang pete-pete yang sedang asyik duduk menikmati hujan di pinggiran pintu pete-pete? Ini respon penulis sebagai seorang pengguna jasa pete-pete, sekaligus juga mewakili pejalan kaki di Kota Makassar.

Untuk mengetahui seberapa pekanya kita. Di perjalanan Maros di pagi hari, mungkin ini adalah pemandangan yang sangat biasa melihat adik-adik kecil yang mengamen di lampu merah entah itu terik atau hujan. Akhir-akhir ini hujan mungkin memang sangat tidak dapat ditolerir tapi mereka masih tertawa. Masih ada canda di tiap dendangan lagu mereka.

Pantaskah kita membalas kehangatan itu dengan dinginnya hati ditambah cuaca yang mendukung keangkuhan wajah kita merespon tangan-tangan kecil yang sedang asyiknya menikmati pekerjaan kecilnya itu? Walau sekiranya tak ada buah tangan yang mereka nikmati sebagai imbalan usaha mereka, bukankah senyum sudah cukup membayar keriuhan mereka. Ini respon penulis sebagai penikmat seni jalanan.

Sebagai tempat berbagi, mestinya kita tahu berapa banyak tangis Ibu di malam ini karena memikirkan keadaan anaknya yang kedinginan karena cuaca malam? Adakah terbersik di hati kita berapa banyak rumah yang berubah menjadi perahu karena deras hujan pagi tadi? Apakah terpikir di benak kita berapa banyak lelaki yang keluar di malam hari bukan sebagai peronda melainkan sebagai tim SAR dadakan di lingkungannya?

Hati dan Senyum
Sebagai manusia, tenaga dan doa baiknya dilayangkan untuk menyentuh mereka dengan membantu melengkapi kebutuhan mereka yang sedang dilanda musibah atau sekedar menghapus keringat dan air mata yang membasahi muka mereka yang banjir bersama guyurah hujan sepanjang hari. Ini adalah respon saya sebagai seorang penumpang pete-pete yang menyaksikan beberapa bukit dadakan alias atap rumah yang berjejeran tanpa dinding karena tertutupi oleh genangan air.

Untuk menyadari seberapa bersyukurnya kita, ini adalah poin utama yang sering terabaikan oleh kita. Apabila terik, sontak kita mengeluh ke"panas"an seperti gerah, kulit jadi hitam, sumber keringat, kemarau panjang, berdebu dan lain-lain. Namun apabila memasuki musim hujan dengan sekenanya kita mengeluh ke"basah"an Contohnya basah, hujan, banjir, selokan tergenang, kedinginan , dan seterusnya.

Memang pada hakikatnya manusia tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Tapi bukankah Tuhan telah menjanjikan kita bahwa setiap keadaan itu bermakna dan berfaedah. Mari coba melihat sekeliling kita dengan hati dan senyum. Syukurilah apa yang ada seperti lagu D massive yang populer itu. respon saya sebagai seorang penikmat hujan yang ingin meresapi keagungan-Nya.***





Catatan: Sebagai pemilik Blog sengaja saya mengcopas Tulisan Oleh; Fithrah Auliya Ansar Shum Mahasiswa Pascasarjana Unhas Prodi Linguistik, karena saya mengganggap opini beliau adalah opini yang berangkat dari hasil perenungan melihat realitas sosial hari ini. jika penulis keberatan mohon maaf sebelumnya,  silahkan menghubumgi saya lewat kontak di web saya: negarahukum.com. Tulisan ini akan dihapus jika penuis tidak berkenan saya kopas tulisannya. Trims


Responses

0 Respones to "Hikmah Hujan"

Poskan Komentar

Return to top of page Copyright © 2011 | Platinum Theme Converted into Blogger Template by Hack Tutors