Manusia Malaikat yang Melawan Adikodratinya (Refleksi Dibalik Kematian Ade Sara Suroto)



Sumber Image: megapolitan.kompas.com
(Artikel Ini Juga dimuat di Gorontalo Post Edisi Jumat, 28 Maret 2014) Engkau tidak menjadikan agamamu sebagai sarana kebencian terhadap pelaku pembunuh anakmu yang berlainan agama. Bahkan dengan ketulusan, engkau berani memaafkan agar kelak si Hafidt menjadi orang baik


Seringkali kita menyaksikan di layar kaca, dalam sebuah ruang sidang terbuka untuk umum yang mengadili perkara pembunuhan. Keluarga korban akan berontak menjadi-jadi, tidak memedulikan sakralnya ruang pengadilan. Ingin memukul pelaku pembunuh dari keluarganya. Aparat kepolisian bahkan kadang dikerahkan untuk melindungi si terdakwa.

Berita di awal bulan ini (7-10 Maret 014) ada sesuatu yang berbeda dari fakta yang terjadi dalam kasus kebanyakan. Kasus ini bermula dari pembunuhan terhadap Ade Sara yang pada akhirnya terkuak, bahwa ternyata pembunuhnya adalah mantan kekasihnya sendiri yang bernama Hafidt (19 tahun) dan Assyifa Ramdhani (19 tahun; kekasih baru Hafidt). Tidak tanggung-tanggung kedua pasangan pembunuh itu melakukan perbuatannya begitu bengis, Sara di sekap mulutnya dengan potongan Koran hingga tak bisa bernafas, disetrum listrik, kemudian jasadnya dibuang di pinggir Tol Bintara Kota Bekasi

Ironisnya, pembunuhan keji tersebut justru mendapat kata maaf dan pengampunan dari orang tua sara yang bernama Suroto (Ayah Sara) dan Elisabeth (Ibu sara).

Di atas pemakaman yang masih basah kemudian terucap suara lirih sang Ibunda, dalam linang air mata ia kemudian bertutur kata terakhir di atas pemakaman anak semata wayangnya; “Yang tenang ya Nak, di sana. Ibu pasti maafin tersangka Hafitd sama Sifa. Kamu yang tenang di sana, Nak. Ibu yakin pasti kamu akan ada di surga,”

Manusia Malaikat
Sekarang, muncul pertanyaan di benak kita melihat peristiwa ini. Apakah kedua orang tua Sarah tidak memliki secuilpun rasa sedih, kecewa, apalagi dendam terhadap pelaku pembunuh anaknya? Mengapa dengan begitu gampangnnya terucap fasih dari bibir kata “maaf” dan “pengampunan” terhadap orang yang begitu keji dari satu-satunya anak yang bisa melanjutkan generasinya, serta merawatnya di kemudian hari? Tapi yang pasti, itulah jalan yang dipilih Suroto bersama istrinya. Jalan diluar kelaziman. Jalan hidup dengan kebatinan dilandasi iman.

Disaat negeri ini tertatih-tatih mencari manusia yang tidak pendendam. Tuhan memunculkan sosok manusia sekelas Suroto dan Elisabeth. Kalau pada intinya “dendam” bukanlah jalan penyelesaian untuk merajut asa dan cinta sesama ummat manusia. Dengan mengampuni orang yang menimbulkan duka, derita dan kesedihan mendalam, terhadap seorang yang tegah berbuat jahat kepada kita. Maka pada titik itulah ditemukan kesempurnaan manusia sebagai makhluk yang sudah diakui, melampau makhluk ciptaan Tuhan lainnya.

Suroto dan Elisabeth telah membuktikannya, kalau manusia bukan hanya dilengkapi kesempurnaan dengan akal semata, tetapi lebih dari itu manusia memiliki pula jiwa, yang mampu menerobos hingga meruntuhkan dinding-diinding kebencian dalam sikap dan pergaulan hidup.

Suatu waktu saya pernah mendengar ceramah dari khatib Jum’at. Konon katanya malaikatpun pernah diuji oleh Tuhan untuk memerankan posisi manusia di muka bumi, namun malaikat ternyata tak sanggup mengambil lakon tersebut. Akhirnya kembali ia memilih menjadi malaikat. Dalam konteks ini, tidaklah berlebihan rasanya jika kita menobatkan Suroto dan Elisabeth mengganti posisinya sebagai manusia yang berposisi “malaikat”. Tanpa harus menanggalkan “nafsu ammarah-nya” seperti yang terjada pada diri Malaikat an sich.

Kedua orang tua Sara sudah berhasil berperan sebagai malaikat, seolah-olah tidak lagi dikendalikan oleh nafsu kuasa dan rasa dendam. Bahwa di atas langit masih ada langit, ia berhasil menyatukan diri dalam sifat-sifat keagungan Tuhan, Tuhan yang maha pengampun (ghaffur), maha menutupi segala kekurangan-kekurangan hamba-Nya. Soroto dan Elisabeth pun tidak lepas dari itu. Ia rela anaknya sembari membiarkan tenang di alam baqa tanpa menanam kebencian untuk Hafidt dan Syifa. Bahkan ia berharap Hafidt mau menjadi anaknya dan tetap memanggilnya sebagai Mama. Kata Elisabeth; Hafidt kebetulan sedang dikuasai oleh sifat jahatnya, namun suatu waktu dia pasti akan menjadi anak yang baik hati.

Adikodrati Manusia

Secara adikodrati, manusia memang sudah merupakan “sunnatulloh” memiliki banyak kelemahan. Karena kelemahannya itulah Tuhan tidak pernah menutup pintu taubat bagi hamba-Nya. Dan jika ada segelintir manusia hendak mengoreksi pintu kebaikan dan keburukan sesamanya, maka bukan hal mustahil akan mengikuti sifat-sifat Tuhan yang maha pengampun. Tuhan saja yang begitu digdaya dan punya kuasa, sekali ingin berkehendak, kun fayakuun, pasti jadilah apa yang diinginkan-Nya, tapi lagi-lagi Tuhan sama sekali tidak pernah menunjukan kekejaman terhadap Hamba-Nya. Baik yang menyembah, yang selalu bersimpuh memujinya, maupun yang “tidak peduli” dengan kemahakuasaan-Nya semua diberi nikmat dan berkah dari-Nya.

Lantas bagaimana dengan manusia, sebagai ciptaan-Nya yang dimuliakan? Terlalu naïf bagi manusia jika tetap bertahan pada ego dan nalurinya. Manusia selalu tidak punya daya ketika harus menantang hidup dalam kesendirian. Di titik-titik tertentu tidak sama sekali memiliki kekuatan yang maha super dahsyat. Jadi mahfumlah kalau setiap kali melihat dibalik kelemahan sesamanya, ada yang berani melawan adikodratinya, melawan rasa benci dan dendam. Karena di sanalah kemuliaan akan terus terpelihara.

Walaupun keluarga Sara adalah sebagai penganut Kristiani. Tidaklah sikap kedua orang tuanya menjadi hikmah buat sesama pemeluknya saja. Lebih dari itu, rasa cinta dan kasih yang dilakonkan olehnya, telah menembus dinding dan sekat dari semua agama yang selalu memberi jalan terang untuk kebenaran dan kebaikan.

Sikap kedua orang tua sara tidak hanya menjadi lambang Yesus kristus yang menebarkan kasih sebagai kewajiban. Tak pelak, kaum Muslim-pun mengakui sikap tersebut sebagai satu hal patut menjadi teladan bagi siapa saja (saya, kita, anda, semuanya). Dalam sejarah Nabiullah Muhammad SAW yang ditulis oleh Muhammad Husain Haiqal pernah dinukilkan; “suatu waktu ketika Rasulullah pulang dari medan perang, atas peperangan itu Pamannya yang bernama Hamzah tewas dengan cara keji, dibunuh oleh suruhan Hindun Binti Utbah, lalu Hindun juga terlibat melakukan cara yang tidak manusiawi terhadap jasad Hamzah, dikoyuk jasad, tubuh paman sang nabi, kemudian jantungnya dikunyah oleh Hindun. Melihat kejadian itu, Nabiullah Muhammad berucap kepada para sahabat; akan kubalas kekejeman kematian pamanku lebih dari kekejaman kaum quraisyh. Sesaat kemudian, setelah Rasulullah bertutur demikian turunlah teguran dari Tuhan : bahwa darah dibayar dengan darah, tangan dengan tangan, gigi dengan gigi, tetapi sesungguhnya memaafkan itu lebih baik dan sungguh perbuatan mulia. Singkat cerita bahkan pada masanya, ternyata Hindun yang pernah menjadi pelaku keji dalam pembunuhan paman sang nabi, malah dijadikan istri sang Nabi.” Sungguh luar biasa.

Maka di tengah krisis keimanan kita saat ini, krisis kemanusiaan yang melanda kita semua, yang terlalu banyak menyebar aib dan kesalahan lawan. Apalagi para elit politik yang sedang bertarung dalam meraih singgasan kekuasaan di tahun ini. Jalan sepi dan sikap mengalah yang diperankan oleh keluarga sara seyogiayanya selalu dimunculkan ke permukaan agar menjadi pelajaran buat kita semua. Selamat jalan Sara, orang tuamu benar-benar mulia, semoga engkau tenang dalam pembaringanmu, mestinya engkau bangga dengan kedua orang tuamu.

Terima Kasih kepada Suroto dan Elisabet, kepadamu pula kita semua belajar bahwa sebuah sikap mengalah adalah awal untuk meraih kemenangan abadi. Engkau tidak menjadikan agamamu sebagai sarana kebencian terhadap pelaku pembunuh anakmu yang berlainan agama. Bahkan dengan ketulusan, engkau berani memaafkan agar kelak si Hafidt menjadi orang baik.

Kematian Sara pantas bagi kita semua untuk mengenangnya dan menaruh duka untuknya, mendoakannya. Suara lonceng gereja dan kumandang adzan akan bersenandung merdu selalu. Manusia-manusia “malaikat” karena melawan adikodratinya juga akan memberi kecerahan iman kepada kita semua untuk berlomba-lomba merebut peluang surgawi. Wallāhu a’lamu bi al-shawwāb. (*)





Oleh: 
Damang Averroes Al-Khawarizmi
Mantan Aktivis HMI MPO komisariat Hukum Unhas












Responses

0 Respones to "Manusia Malaikat yang Melawan Adikodratinya (Refleksi Dibalik Kematian Ade Sara Suroto)"

Poskan Komentar

Return to top of page Copyright © 2011 | Platinum Theme Converted into Blogger Template by Hack Tutors