Jejak Kisah Seorang Ibu (Refleksi Mother’s Day)




Kita bisa menjadi celaka, durhaka, bahkan dilaknat oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Andaikata hanya 22 Desember, pada hari itu-itu saja dijadikan sebagai hari untuk mengenang jasa dan pengorbanan seorang Ibu. Ibu yang telah melahirkan kita sebagai “anak” yang pada akhirnya mampu menatap luas dan agungnya cakrawala dunia.

Pun demikian adanya, mengenang hari Ibu sebagai penghargaan sosok perempuan yang telah melibatkan diri dalam perjuangan kemerdekaan, lalu 22 Desember lagi-lagi dijadikan sebagai hari Ibu, rasa-rasanya tidak sebanding dengan pengorbanan titisan dari bini Nabi Adam itu.

Jejak Kisah

Maka melalui tulisan ini, kepada para Pembaca budiman, izinkan saya mendedah jejak kisah seorang Ibu. Perihal suka-dukanya bersama dengan sosok Ibu. Dan selanjutnya, titik berat tulisan ini diarahkan pada dua tujuan intisari: Pertama, tulisan ini kutujukan kepada Ibu saya yang dengan perkasanya telah menantang “kerasnya” kehidupan dalam membesarkan kami bersama. Kedua, semoga tulisan ini memberikan pesan “otentik” bagi saya pribadi dan kepada pembaca semuanya.

Begini ceritanya: sejak saya masih berumur 1 (satu) tahun, dalam bilik-bilik keluarga, Ayah-Ibu, dengan sangat “terpaksa” harus menjadi yatim, sebab Ayah saya memilih mengakhiri hidupnya dengan tragis. Ayah saya meninggal dengan cara bunuh diri, meneguk racun di sebuah “rumah persawahan” milik kami sekeluarga.

Saya, Ibu, dan tiga saudara adik-kakak saya ditinggalkan dalam keadaan tidak lagi memiliki orang yang bisa menjadi penopang keluarga. Tetapi di luar itu semua, dalam keadaan kami empat bersaudara yang masih belum mengerti tentang “kematian”. Kami semua belum dewasa. Tampaknya, sosok Ibu yang “single parent” mampu menjungkirbalikan semua kecurigaan orang kebanyakan, jika kiranya “sosok perempuan” tiada mampu mengemban tanggung jawab dalam rangka membesarkan anak-anaknya.

Kala itu, ada banyak cibiran hingga tuduhan dari kerabat Ayah saya yang membuat, kadang Ibu saya menitihkan air mata karena dianggap “gagal” menjadi isteri yang baik untuk suaminya seorang. Ibu saya dicampakan oleh beberapa kerabat ayah saya. Sedangkan saya sendiri ber-empat bersaudara dibiarkan saja merasakan “sakitnya” tak memiliki seorang ayah.

Ibu saya memang tidak pernah tahu apa yang dimaksud sebagai “wanita karir”. Tetapi saya akan menempatkannya Dia sebagai wanita berkualifikasi “Ibu rumah tangga” yang baik, sekaligus “lakon” wanita karir, kepadanya berhak untuk dia sandang. Sebab mengapa? Ibu saya memang wanita yang adikodrati “lemah” dari segi fisik, tetapi pancaran sinar keemasan “mata anak-anaknya” Ia mampu menjadi “permata” untuk kami semua. Ia adalah gadis desa yang dibesarkan dari kehidupan yang hanya menyandarkan diri kepada alam, tepatnya menyandarkan sumber penghidupan hanya dari sektor pertanian saja.

Dialah ibu saya, yang sedari dulu hingga kini, juga adalah ayah saya. Yah.. pengganti ayah saya. Ia bisa menggarap lahan pertanian kami. Ia mendayung cangkul dalam menggarap kebun kami yang telah ditinggal oleh ayah, dari kami “empat bersaudara” harus menjadi yatim.

Dan inilah kebesaran Tuhan, “sungguh Dia tidak akan membebani kepada hamba-Nya manakala dia tidak dapat menanggungnya.” Dengan kesabaran serta keteguhan hati bukanlah waktu yang singkat, lalu kami semua bisa menjadi dewasa.

Dari hasil pertanianlah yang dengan sunguh-sungguh telah menguras leleh keringat seorang Ibu. Kami semua dari 4 (empat) bersaudara bisa menjadi dewasa, bisa mengecap bangku kuliah hingga akhirnya menyandang sarjana. Kalau sudah demikian, maka “kurang apa lagi” yang telah dilakukan oleh seorang Ibu. Ibu yang sebagai penyadang profesi rumah tangga, Ia mampu memasak makanan dengan hidangan lezat untuk anak-anaknya. Ibu yang sebagai “wanita karir” toh Ia sudah menunjukan kepada dunia, air hujan telah bercampur dengan leleh keringatnya, disaksikan oleh “bumi” yang tiap hari digarapnya kalau Ia adalah wanita “pekerja keras” yang sangat jauh berbeda dengan pekerja wanita kantoran.

Bahkan kalau ia mau diegalari sebagai “wanita aktifis” pun saya berani menyanggupi untuk menobatkannya memang dia adalah “wanita akitifis”. Di dunia ini, mana ada wanita, pun kalau ada, mungkin hanya bisa dihitung lima jari temali, dalam kondisi “single parent” Ia menekuni profesi “Petani”.

Lalu, Ia mendermakan bakti untuk anak-anaknya. Semuanya harus menyandang gelar sarjana. Memang dia tidak turun ke jalan meneriakan perlawanan atas sebuah “ketertindasan” bagi sang papa, tetapi dia telah melahirkan dan membesarkan anak-anak yang harus bersikap “kritis” dikala sang pengemban amanah “lupa” akan janjinya.

Hari Ibu

Cerita singkat di atas yang dinukil sendiri dari pengalaman hidup saya bersama dengan seorang ibu yang single parent, terpancar hikmat di atas hikmat. Bahwa kepergiaan seorang ayah, selamanya dari dunia., telah dijadikan “cambuk kenangan” oleh Ibu saya. Suatu waktu Ibu saya pernah berucap: “anakku, semuanya harus bersekolah agar tidak mengikuti tindakan Ayahnya, yang terlalu gampang mengakhiri hidup hanya karena persoalan sepele”

Dan ibu saya benar, bukan berarti karena Ayah saya cepat dijemput oleh Yang Maha Kuasa, lalu kami semua bisa mengecap bangku kuliah. Pesan otentik dari semua itu, hargailah dan sayangi Ibumu lebih dari semuanya. Sebab tiada hari yang luput dari peran seorang Ibu. Mulai anda berada di dalam kandungan, dilahirkan hingga dibesarkan olehnya, semua waktu, fisik, dan tenaga hanya dikorbankan semata-mata kepada anaknya.

Maka jadikanlah semua harimu adalah hari Ibu, hari untuk berbakti selama-lamanya; kepadanya. Dialah wanita yang tidak hanya “menggerakkan” dunia kepada “kemerdekaan”. Tetapi Dia telah memerdekakan kepada semua anak-anak yang saban waktu akan menjadi dewasa. Dia telah memberikan hakmu untuk lahir melihat “cahaya dunia” walau kadung maut bisa-bisa mengancamnya. Dia pula-lah yang rela menahan perut keroncongan, asal anak-anaknya bisa tertawa, bahagia dan tersenyum di hadapannya.

Derita kepiluan, lelehan air mata dan keringatnya. Lalu dengan sekeras apapun kita mencoba untuk membalas jasa-jasa dan pengorbanannya, sungguh tiadalah sebanding dengan apa yang pernah dilakukannnya kepada kita semua. Pada 22 Desember hanyalah pemantik dan sepenggal kisah, jika semua hari dan pada hari-hari selanjutnya, dalam keadaan apapun sangat wajar, amal perbuatan kita diberikan semua, kepada Ibu kita. *Mari menyayangi, mencintai, dan mendermakan bakti kepada ibu kita, Selamat Hari Ibu.* 
Damang Averroes Al-Khawarizmi


Responses

0 Respones to "Jejak Kisah Seorang Ibu (Refleksi Mother’s Day) "

Posting Komentar

Return to top of page Copyright © 2011 | Platinum Theme Converted into Blogger Template by Hack Tutors