Ketika Al-Qur'an Berbicara Gender



Dalam konteks lingustik sehari-hari. Gender dianggap sebagai salah satu gerakan (movement), penyetaraan kedudukan antara laki-laki dan perempuan. Dari perspektif kacamata barat, seolah-olah Islam dengan literasi Al-Qur’an dan Hadits. Islam dianggap bias gender.

Laki-laki ditempatkan sebagai posisi tertinggi, dalam fenomena hubungan seksual. Suami sebagai kepala keluarga, selalu dianggap dominan sebagai penentu segala kebutuhan dalam kelurga. Bahkan suami, dapat saja memukul isteri. jika isterinya melalaikan hak-hak dan kewajibannya sebagai isteri.
Pendapat demikian tidak bisa dilihat dari satu teks sejarah saja. Rasulullah tidak pernah mencontohkan untuk memukul isteri-isterinya. Muhammad SAW, malah dianggap sebagai rasul yang mengangkat kedudukan perempuan. Bagaimana kisah dalam sejarah yang dibentangkan oleh berbagai penulis sejarah kenabian, seperti Muhammad Husain Haikal.  Disuatu waktu, ia pernah tidur di depan pintu rumahnya, saja. Oleh karena dia takut membangunkan isterinya Aisyah. Yang sudah lama, tidur terlelap.
Dengan membuka beberapa teks arab yang sering disejajarkan dengan “perempuan” seperti rajul dan nisa. Kata raju dalam konteks tertentu tidak dapat diartikan sebagai laki-laki saja. Dalam suatu hadits, kata rijal, berasal dari rijal; idz jaa-a rajul, dipakai untuk menyebut nama malaikat Jibril. Dan malaikat sudah Lazim tidak dapat diidentifikasi seperti manusia yang memiliki jenis kelamin. Artinya tidaklah salah untuk menafsirkan kembali Al-qura’an sebagai kitab yang telah lama berbicara persoalan kesetararan laki-laki dan perempuan (gender)
Suatu peristiwa yang menarik. Seorang perempuan, 18 Maret 2005, sarjana ilmu Al-Qur’an serta seorang feminis Islam, bernama Amina Wadud. Memecahkan tradisi berabad-abad yang menetapkan hanya laki-laki  boleh memimpin shalat Jum’at. Wadud menunjukan dirinya sendiri untuk mengimani shalat di sebuah mesjid di New York City dengan jamaah lebih dari seratus pria, dan wanita.
Perjuangan Aminah wadud, tidak bisa ditafsir dalam teks semata Al-Qur’an, yang terangkai dalam banyak kalimat-kalimat sebagai bahasa Tuhan. Apa yang dilakukan oleh Aminah Wadud, Merupakan jihad gender. Sebagai perjuangan selama berpuluh-puluh tahun demi kesetaraan dan hak-hak perempuan.  
Atas penolakan berbagai kaum muslim di dunia, dari tindakan Wadud. ia berargumentasi bahwa “permasalahan pada zaman modern. Bukan sekedar patriarki dan fakta bahwa laki-laki merumuskan dan mengembangkan hukum Islam atau tradisi, melainkan terus berlanjutnya pengaruh structural patriarchal dan praduga hegemonik  mereka tentang dominasi dan keunggulan.”
Para ulama laki-laki saat ini, paparnya, menyalahgunakan kekuasaan mereka. Dengan demikian desak Wadud, dimasukkannya pengalaman dan penafsiran perempuan secara proaktif,  sangat penting dalam mengangkat status gender ke potensi egaliter yang lebih tinggi.
Tindakan Wadud tersebut menjadi indikator bahwa Al-Qur’an memang harus dibaca ulang untuk mengakomodasi perubahan kebutuhan yang bebas stereotip dan membelenggu diantara sesama. Apalagi Al-Qur’an sebagaimana yang disatir oleh Karen Armstrong,  tidak hanya bercerita tentang aturan. Perihal larangan, perintah dan ancaman. Tetapi menceritakan sejarah yang panjang dari perjuangan para Nabi. Al-Qur’an mengandung nilai estetik dan esoterik.
Maka tak ada salahnya jika Al-Qur’an, dikaji melalui studi filologi, hermeneutika,  dan fenemenologi dalam berbagai kajian sosiologi terhadap posisi wanita pada sejarah kenabian. Seperti memahami kehadiran Maryam, Hajar dan Aisyah ketika Al-Qur’an berbicara untuk perempuan.
Kisah Maryam. Dalam struktur masyarakat, ketika Nabi Isa as Lahir di tengah kaum yang penuh radikalisasi. Maryam bukanlah seorang Nabi, tetapi malah melahirkan seorang Nabi tanpa peran sedikitpun seorang laki-laki. Sehingga anak itu lahir dan menjadi nabi yang mengajak pada “kehalusan dan kelembutan tutur kata”. Bagi Mulkhan (2007) hal ini merupakan sejarah yang luar biasa radikar dan revolusioner yang bisa mengubah sejarah peradaban manusia.Tidak hanya sampai di situ. Kisah Al-Qur’an melakukan Reposisi gender. Hingga hari ini kisah  siti Hajar, Ibrahim as dan anaknya Ismail as diabadikan dalm perjalanan ritual haji, yakni berlari-lari kecil, dari Sofa ke Marwa.
Bagaimana perjuangan seorang wanita Hajar, sehingga kelak akhirnya Ismail as menjadi Nabi dan mengubah sejarah umat manusia dalam membangun monument teologis ka’bah. Hal ini juga terlihat ketika Aisyah tampil di medan perang memimpin kaum muslim.  
Betapa telah menunjukan bahwa perempuan telah lama diangkat derajat dalam bahasa Tuhan melalui narasi-narasi Al-Qur’an. Berbagai ilustrasi gender melalui bahasa Al-Qur’an,  nyatanya, menunjukan literasinya tidak akan pernah kadaluarsa. Walaupun zaman dengan angkuhnya berceloteh,  bahwa dunia modern, tidak diperlukan lagi penafsiran teologis demi kepentingan humanitas bangsa di dunia. Oleh karena ada hak asasi manusia yang menjadi pakem kesetaraan. Ternyata semua bahasa kecongkakan itu. jauh sebelumnya telah dikisahkan melalui bahasa Tuhan dalam Al-Qur’an

No HP: 085395768887


Responses

0 Respones to "Ketika Al-Qur'an Berbicara Gender"

Poskan Komentar

Return to top of page Copyright © 2011 | Platinum Theme Converted into Blogger Template by Hack Tutors