Stadium Perkembangan Anak



FJ Monks (1984:184), mengutip pendapat Piaget, bahwa perkembangan anak dapat dibagi menjadi beberapa stadium, yaitu fungsi kognitif pada umur yang berlain-lainan dapat dibedakan satu sama lain sebagai berikut:

a)Stadium sensori motorik (0- 18 bulan)

Mula-mula si bayi hanya dikuasai oleh badan dan gerak refleksnya saja yang di bawah sejak lahir. Jadi bila dia melihat sesuatu hanyalah suatu kebetulan, sebab matanya terbuka tanpa ada suatu tujuan tertentu. Selama stadium ini nampaklah perkembangan pada anak mulanya bergerak melulu atas dasar nivo tingkah laku refleksi murni.
Dunianya belum kongkrit, tapi hanya merupakan pengalaman-pengalaman sesaat dari panca-indera dan gerak-gerik dari badannya saja. Apa yang ada baginya hanya yang kelihatan saja. Suatu objek hanya merupakan suatau perpanjangan tindakan tersendiri. Bagi anak umur 8 bulan, obyek tidak ada eksistensinya lagi bila misalnya disembunyikan di belakang layar. Baru sekitar 9-12 bulan anak mampu untuk menemukan kembali obyek-obyek bila mereka disembunyikan. Anak pada usia ini hanya mencarinya di tempat obyek tadi disembunyikan pertama kali. Dengan perkataan lain bila suatu obyek untuk pertama kalinya di bawah bantal A dan kemudian di bawah bantal B, maka anak umur 12 bulan pertama-tama mencarinya di bawah bantal A.
Baru pada tahun kedua, anak mencari obyek tadi di tempat yang terakhir kali ia melihatnya menghilang atau disembunyikan (di bawah bantal B). Pada umur 18 - 24 bulan, dia sudah mempunyai sebuah gambaran mental yang terlepas dari bendanya, Piaget menamakan proses ini proses desentrasi artinya anak dapat memandang dirinya sendiri dan lingkungannya sebagai dua entitas yang berbeda.

b)Stadium pra-operasional (18 bulan -7 tahun)

Stadium ini dimulai dengan penguasaan bahasa yang sistematis, permainan simbolis, imitasi serta bayangan dalam mental. Dari 2-4 tahun anak belajar nama-nama benda, belajar mengerjakan suruhan-suruhan sederhana, dan juga senang melakukannya pada orang lain. Merekapun giat bertanya tentang segala sesuatu yang menarik perhatiannya

Sifat yang paling menonjol pada tahap ini adalah egosentrisme. Anak belum mampu baik secara persepsual, emosional, motivational, maupun konsepstual untuk mengambil perspektif orang lain.

Cara berpikir pra-operasional sangat memusat (centralized). Bila anak dikonfrontasi dengan situasi yang multidimensional, maka ia akan memusatkan perhatiannya hanya pada satu dimensi saja dan mengabaikan dimensi-dimensi yang lain dan akhirnya juga mengabaikan hubungannya antara dimensi-dimensi ini, contoh: sebuah gelas tinggi ramping dan sebuah gelas pendek dan lebar diisi dengan air yang sama banyaknya. Anak ditanya apakah air dalam dua buah gelas tadi sama banyaknya. Anak kebanyakan akan menjawab bahwa ada lebih banyak air dalam gelas yang tinggi ramping tadi karena gelas ini lebih tinggi dari yang satunya, anak belum melihat dua dimensi sekaligus.

Berpikir pra-operasional adalah tidak dapat dibalik (irreversible) anak belum mampu untuk meniadakan suatu tindakan dengan memikirkan tindakan tersebut dalam arah yang sebaliknya.

Berpikir pra-operasional juga bersifat statis. Bila situasi A beralih kesituasi B, maka anak hanya memperhatikan situasi A, kemudian B. Ia tidak memperhatikan perpindahannya dari B ke A, contoh: bila anak diminta untuk menggambarkan suatu tongkat yang sedang jatuh, maka anak mula-mula menggambarkan tongkat yang berdiri tegak dan kemudian tongkat yang berbaring. Aspek dinamiknya tongkat sedang jatuh diabaikan oleh anak.

Jadi jalan pikirannya yang egosentris tidak memungkinkannya untuk melihat kemungkinan-kemungkinan lain. Baru pada umur 7 tahun dia mulai lebih bebas dan melihat adanya kemungkinan-kemungkinan lain. Maka diapun beralih ketahap perkembangan berikutnya.

c)Stadium operasional kongkret (7-11 tahun)

Pencapaian pada tahap operasi konkret memungkinkan anak mampu melibatkan diri dalam operasi mental yang fleksibel dan bisa dibalikkan sepenuhnya. Anak-anak pada stadium ini mengerti kaidah logis tertentu yang disebut grouping dan dengan demikian mampu bernalar secara logis dan kuantitatif dengan cara yang tidak jelas pada tahap pra-operasional. Anak-anak dalam tahap operasi konkret bergerak bebas dari satu sudut pandang ke sudut pandang yang lain, jadi mereka mampu bersikap cukup objektif dalam menilai peristiwa. Mereka juga mampu melakukan decenter yaitu memusatkan perhatian mereka pada beberapa sifat suatu objek atau peristiwa secara serentak dan mengerti hubungan diantara dimensi-dimensi.

Meskipun dia sudah lebih bebas dari kungkungan egosentrismenya, tapi dia masih sangat tergantung pada keadaan yang konkret, jadi belum melihat adanya kemungkinan sebagai penyebab suatu keadaan. Misalnya, dia berpendapat bahwa semua anak yang lebih tinggi itu lebih tua umurnya dari anak yang lebih pendek. Tidak dilihatnya kemungkinan-kemungkinan adanya pertumbuhan fisik yang lain.

d)Stadium operasional formal (mulai 11 tahun)

Anak dalam stadium operasional konkrit sangat terikat pada masa kini. Ia belum mampu untuk memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa ada. Hal ini berubah dengan datangnya stadium operasional formal. Berpikir operasional formal mempunyai dua sifat penting:

1.Sifat deduktif hipotesis: bila anak yang berpikir operasional konkret harus menyelesaikan suatu masalah maka ia langsung memasuki masalahnya. Ia mencoba beberapa penyelesaian secara konkret dan hanya melihat akibat langsung usaha-usahanya untuk menyelesaikan masalah itu. Anak yang berpikir operasional formal akan melakukan suatu yang lain. Ia akan memikirkan dulu secara teoritik. Ia menganalisa masalahnya dengan penyelesaian-penyelesaian hipotesis yang mungkin ada. Atas dasar analisanya ini, ia lalu membuat suatu strategi penyelesaian. Analisa teoritis ini dapat dilakukan secara verbal. Anak lalu mengadakan pendapat-pendapat tertentu, juga disebut preposisi-preposisi, kemudian mencari hubungannya antara proposisi yang berbeda-beda tadi.

2.Berpikir operasional formal juga berpikir kombinatoris.

Sifat ini merupakan kelengkapan sifat yang pertama dan berhubungan dengan cara bagaimana dilakukan analisanya. Hal ini dapat digambarkan dengan contoh dimana peneliti memberikan lima buah gelas berisi cairan tertentu kepada anak. Suatu kombinasi cairan ini membuat cairan berwarna. Anak diminta untuk mencari kombinasi ini.

Anak yang berpikir operasional konkret mencoba untuk mencari kemungkinan-kemungkinan kombinasi tadi secara tidak sistematik, secara trial and eror sampai secara kebetulan ia menemukan kombinasinya tadi. Tapi sesudahnya ia tidak mampu untuk memproduksinya. Kalau anak tidak dapat mencapai kombinasi yang betul, hal ini berarti bahwa ia secara kebetulan juga tidak mencoba secara empirik kombinasi yang betul itu. Anak operasional yang formal lebih dahulu secara teoritik membuat matriksnya mengenai segala macam kombinasi yang mungkin, kemudian secara sistematik mencoba setiap sel matriks tersebut secara empirik. Bila ia mencapai penyelesaiannya yang betul, maka ia juga akan segera dapat memproduksinya.
Stadium operasional formal merupakan dasar-dasar intelektual yang dimiliki seorang ilmuwan. Adanya kemampuan untuk memikirkan sebanyak kemungkinan yang akan terjadi dalam memecahkan persoalan adalah bentuk tertinggi dari perkembangan kecerdasan seseorang.

Meskipun dari uraian di atas tampaknya perkembangan anak terjadi dengan lancar dan sederhana, tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Kemampuan yang kelihatannya sangat sederhana diperoleh anak dengan susah payah melalui usahanya yang tidak kenal jemu dan putus asa, yang diulangnya berpuluh bahkan beratus-ratus kali, mungkin pula lebih dalam pergaulannya yang langsung dengan objek-objek di sekitarnya. Kadang seorang anak telah menguasai suatu kepandaian tertentu, tapi hilang lagi. Ini hanya merupakan suatu kebetulan saja dari berbagai aktivitas anak yang sedang mencoba-coba. Dan memang sering terjadi dengan adanya kebetulan semacam ini timbullah pengertian. Tidak heran bila Piaget berkesimpulan bahwa aktivitas anak yang berhubungan langsung dengan benda-benda yang konkret itu merupakan makanan bagi perkembangan kecerdasan anak. Aktivitas motoriknyalah yang kemudian dimasukkan ke dalam dirinya sebagai aktivitas mental.

Dan adalah kewajiban bagi orang tua, guru atau orang dewasa lainnya yang berkepentingan untuk menyediakan kemungkinan yang optimal bagi perkembangan si anak, baik di rumah maupun di sekolah.

Selain faktor di atas, ada lagi faktor lain yang tidak kala pentingnya, yaitu umur. Pada tiap umur tertentu anak mereaksi secara tertentu. Meskipun umur yang disebut Piaget hanya merupakan patokan yang umum, artinya anak yang lebih cerdas akan lebih cepat sampai pada suatu kemampuan tertentu, dan kebalikannya yang akan terjadi pada anak-anak yang lambat. Kemampuan anak ini harus disertai dengan adanya kematangan, baik dari segi biologis maupun kematangan mental. Jadi tidak dapat kita paksakan pada mereka sesuatu yang belum dapat dikerjakannya, hal ini hampir sama seperti memaksa si lumpuh untuk berjalan. Tapi si anak akan benar-benar menjadi lumpuh perkembangan kecerdasannya, apabila dia tidak mendapat kesempatan yang baik.


Responses

1 Respones to "Stadium Perkembangan Anak"

Ajeng Tyastia Shinta mengatakan...

makasih yaa informasinya :)


20 Juli 2016 19.48

Posting Komentar

Return to top of page Copyright © 2011 | Platinum Theme Converted into Blogger Template by Hack Tutors