Ibnu Rushd: Terasing di Kampung Halaman




Bagi yang pernah menonton film “Destiny,” Ibn Rushd adalah sebuah enigma. Terlahir dengan nama lengkap Abu Walid Muhammad Ibnu Ahmad, Ibn Rushd mengikuti jejak ayah dan kakeknya sebagai qadhi di tanah kelahirannya: Kordoba. Ia juga sempat meniti karir yang sama di Sevilla. Kecerdasan dan kelincahan bergaulnya mengantarnya sebagai “intelektual istana” yang selalu dinanti petuah dan wejangannya sebagai second opinion bagi kebijakan yang akan ditetapkan khalifah. 
Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. “Destiny” merekam roda kehidupan Ibn Rushd secara drastis. Karir yang cepat melambung memantik seterunya untuk menjatuhkan wibawa Ibn Rushd sebagai mulhid (heretik). Tuduhan yang lebih dari cukup untuk “memaksa” Khalifah al-Mansyur menjatuhkan inkuisisi intelektual terhadap Ibn Rushd. Buku-buku karya Ibn Rushd harus dijadikan tumbal dengan dibakar di tengah keramaian. “Destiny” secara baik melukiskan jatuh-bangun kehidupan Ibn Rushd dari seorang “pemenang” menjadi “pecundang” di kalangan istana. 
Benar kata Soedjatmoko: “Setiap ide selalu punya kaki.” Seorang Perancis yang haus ilmu menyelamatkan sebagian besar karya-karya Ibn Rushd. Andai semua warisan intelektual Ibn Rushd terbakar, kita tak bisa membayangkan wajah Eropa saat ini. Pada saat revolusi percetakan (printing) belum dimulai, pada saat Johan Gutenberg (w. 1468) belum lahir di kota Mainz, setiap ide harus ditulis dan digandakan secara verbatim dan konvensional. Benedict Anderson sudah jauh-jauh hari mengafirmasi betapa penting revolusi percetakan. 
Orang Perancis itu tidak saja menyelamatkan buku-buku Ibn Rushd dari proyek inkuisisi warisan abad medievalisme yang paling mengerikan. Ia juga menyelamatkan Eropa dari kegelapan! Kita tahu, saat itu magis, takhayul, mitos dan dunia sihir mencengkeram Eropa, berkembang marak bersamaan dengan otoritarianisme gereja. Setiap pengandrung ide-ide kemajuan, yang melek sains dan filsafat, dicap sebagai Mohammadanism yang menggerogoti kemapanan gereja. Eropa pada masa itu disandera kejumudan dan kebodohan, berbanding terbalik dengan kondisi saat ini di mana para penganjur kemajuan dan progresivitas di tengah masyarakat Muslim malah dilabeli antek-antek Barat, Yahudi dan Kristen. Setiap ide yang menjajakan kemajuan dan kemoderenan memang ditakuti, tapi tak pernah menyurutkan minat seorang pemberani untuk mendekatinya.  
Melalui proyek rasionalisasi, Ibn Rushd telah berjasa mengantarkan Eropa ke pintu gerbang pencerahan. Ia adalah penulis yang produktif. Tak kurang 100 buku lahir dari pemikir Cordoba. Areas of concern Ibn Rushd juga luas, seluas cakrawala berpikirnya. Ia menulis filsafat, ilmu kedokteran, politik, agama dan lain-lain. Ia juga menyentuh fiqh sebagaimana kini kita masih bisa menikmati petilasan karyanya di beberapa pesantren: kitab Bidayat al-Mujtahid. Tapi, ujar Luthfi Assyaukanie, kandidat Ph.D dari Melbourne University, “hanya” tiga master-piece Ibn Rushd yang benar-benar menggemparkan dunia Eropa pada medio abad ke-13, yakni Fashl al-Maqal, al-Kashf an Manahij al-Adillah dan Tahafut al-Tahafut. 
Lahir dan besar di penghujung abad keemasan Islam, Ibn Rushd justru menyebarkan virus pencerahan ke dunia Eropa yang sedang gerah. Para Averroistae kebanyakan bermarkas di Universitas Sorbonne yang saat itu memiliki magnitude luar biasa bagi para sarjana Eropa. Filsuf Inggris terkemuka, Roger Bacon, sempat berada di “kampung” kaum Averroistae pada 1240-1248; Albert Agung mengajar antara tahun 1242-1248; Bonaventura dari tahun 1248-1255; dan Thomas Aquinas antara 1252 hingga 1259 (Assyaukanie, 2005). Sebagian besar para pengajar di Sorbonne University adalah pengikut, atau setidaknya sebagai pengagum Ibn Rushd. 
Posisi istimewa Ibn Rushd dalam perkembangan pemikiran filsafat di Eropa ini salah satunya lebih karena masa hidup dia yang paling akhir dari abad kejayaan Islam dan bersinggungan dengan masa-masa awal proyek aufklarung di dunia Eropa dimulai. Meskipun toh demikian, al-Farabi yang dijuluki sebagai “El-Segundo Maestro” atau guru kedua setelah Aristoteles dan Ibn Sina yang keduanya hidup sebelum masa Ibn Rushd tetap dianggap berkontribusi besar dalam pencerahan Eropa. 
Terasing di Kampung Halaman 
Ibn Rushd memang menjadi edisi penutup abad keemasan Islam dan menjadi edisi pembuka reformasi Eropa modern. Pada buku-buku Filsafat Islam klasik, Ibn Rushd selalu menjadi menu paling akhir yang dihidangkan setelah nama-nama filsuf seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Khwarizmi, Ibn Tufayl dan lain-lain. Apakah kejayaan filsafat Islam berakhir setelah kematian Ibn Rushd? Apakah proyek pencerahan Islam mencapai puncak keemasan sewaktu Ibn Rushd dan beringsut sepeninggal dia?  
Bagi sebagian besar pemikir Syiah, pasti jawabannya tidak. Henry Corbin yang selalu dikutip Haidar Bagir dan Jalaluddin Rakhmat, mengatakan bahwa filsafat Islam bermula sejak kematian Ibn Rushd dan meraih puncak kejayaan pada masa Mulla Sadra. Namun perbedaan metodologi dan frame berfilsafat antara genre agnostik (tradisi rasional) yang dianut Ibn Rushd dkk dan tradisi gnostik (non-rasional, bukan irasional) yang dipegang erat-erat Mulla Sadra dan sederatan filsuf Iran lainnya membuat perbandingan antara kedua madzab tersebut menjadi tidak comparable. Jadi meski muncul banyak filsuf terkemuka pasca Ibn Rushd, terutama yang berasal dari ranah Iran, tidak bisa dikatakan sebagai pemegang tongkat estafet pemikiran Kaum Aristotelian Muslim yang tetap bersikukuh dengan nalar burhani (demonstratif). Ini karena Mulla Sadra dkk lebih berpegang pada penalaran intuitif (irfani).
Namun demikian, tradisi agnostik yang dijadikan Ibn Rushd sebagai konstruksi filosofisnya bukannya tanpa kritik. Tradisi yang didasari pada “spirit keragu-raguan” ini rada problematik ketika diterapkan “El Gran Comento” Ibn Rushd dalam berfilsafat. Filsafat Islam yang digeluti Ibn Rushd tidak memungkinkan untuk menerapkan agnotisme dalam segala hal. Filsafat Islam selalu menempatkan kesimpulan di awal. Eksistensi Tuhan, secara apriori, diyakini dahulu, baru kemudian dibuktikan secara aposteriori yang ujung-ujungnya untuk meneguhkan eksistensi Tuhan kembali. Ibn Rushd, misalnya dalam Tahafut al-Tahafut, sampai mengeluarkan banyak dalil al-Quran untuk meyakinkan bahwa asumsi filosofis yang dia bangun benar dan didukung nash.  
Kritik yang juga bisa dialamatkan ke Ibn Rushd adalah soal diskriminasi akal manusia. Dalam Fashl al-Maqal, Ibn Rushd berbicara soal urgensi berbicara a’la qadri uquulihin (sesuai kadar intelektual masyarakat). Klasifikasi akal manusia itu makin transparan ketika dia mengkategorikan tiga metode menjemput pengetahuan, yaitu metode burhani, jadali, dan khitabi. Tapi, pada sisi lain, kategorisasi akal manusia tersebut pada dasarnya menunjukkan konsistensi Ibn Rushd sebagai “Pensyarah Agung” Aristoteles yang dimaklumatkan sebagai “El Primero Maestro” (al-mu’allim al-awwal) bagi kaum filsuf paripatetik Muslim. Apa yang dilakukan Ibn Rushd bukanlah yang pertama dalam khazanah filsafat, karena Aristoteles dan pengikut-pengikutnya sudah lama melakukannya. 
Konsisensi Ibn Rushd memegang tradisi Aristotelian juga tergambar jelas dalam bangunan argumen yang dia pakai untuk “menyerang balik” kritik Hujjatul Islam, Al-Ghazali terhadap 20 preposisi yang selama ini dianut kaum filsuf Muslim. Dalam Tahafut al-Falasifah, Al-Ghazali mengkritik habis, khususnya 3 preposisi berikut: 1) Kepercayaan kaum filosof terhadap qadimnya alam, dalam arti alam yang tidak memiliki permulaan dan akhiran. 2) Tuhan tidak mengetahui juz’iyyah atau partikularitas dari alam dan pengetahuan. 3) Pasca kematian tidak ada kebangkitan jasmani seperti yang dipercaya oleh kaum teolog dan fukaha pada umumnya. Dengan dingin, Ibn Rushd menjelaskan kontroversi juz’iyyah yang dia kaitkan dengan konsep sababiyyah (hukum kausalitas). Ibn Rushd juga membalik argumen Al-Ghazali yang mengritik preposisi pertama soal qadimnya alam dengan mengatakan creatio ex nihilo, menciptakan dari sesuatu yang tidak ada, adalah mustahil belaka. Dan inilah perbedaan utama antara al-Ghazali sebagai teolog dan filosof tentang konsep al ihdas dan qadim.  
Demikianlah, sekelumit kisah tentang kejeniusan Ibn Rushd yang sayangnya justru lebih diterima oleh Dunia Eropa, ketimbang kalangan Muslim yang telah melahirkan dan membesarkannya. Meminjam istilah Emha Ainun Najib, pemikiran Ibn Rushd justru menjadi “gelandangan di kampung sendiri.” Kalau Anda percaya bahwa setiap gagasan punya sayap yang memungkinkan dia terbang, yakinlah bahwa gagasan itu takkan pergi kemana. Bila sebelumnya telinga kita sudah akrab dengan Jaringan Averoisme Latin, Averoisme Kristen, dan Averoisme Yahudi yang menunjukkan betapa besar pengaruh Ibn Rushd dalam blantika awal pencerahan Eropa, siapa tahu, suatu saat akan muncul Jaringan Averoisme Islam atau Jaringan Averoisme Indonesia.

Oleh: Burhanuddin Muhtadi
Artikel ini sengaja diambil dari laman multiply yang penulis aslinya adalah Burhanuddin Muhtadi  (Dosen Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah) dengan tujuan sebagai referensi bacaan pemilik laman blog ini 





Responses

0 Respones to "Ibnu Rushd: Terasing di Kampung Halaman"

Poskan Komentar

Return to top of page Copyright © 2011 | Platinum Theme Converted into Blogger Template by Hack Tutors